03 February 2011

Topik Disertasi Ilmu Komputer: Tren Penelitian 2011-2026

Mengapa Ilmu Komputer Penting pada Tahun 2026?

Ilmu komputer merupakan disiplin ilmu yang mempelajari teori, metode, dan teknologi untuk merepresentasikan, mengolah, menyimpan, mengirimkan, serta memanfaatkan informasi melalui sistem komputasi. Bidang ini tidak hanya berfokus pada pengembangan perangkat lunak (software), tetapi juga mencakup algoritma, struktur data, kecerdasan buatan (artificial intelligence), keamanan siber, basis data, jaringan komputer, komputasi awan (cloud computing), komputasi berkinerja tinggi (high-performance computing), hingga interaksi antara perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak. Seiring dengan pesatnya transformasi digital, ilmu komputer telah berkembang menjadi salah satu disiplin strategis yang menopang inovasi di berbagai sektor, seperti industri, kesehatan, pendidikan, transportasi, keuangan, energi, pemerintahan, dan pertahanan. Dengan demikian, ilmu komputer tidak lagi dipandang sebagai bidang yang hanya menghasilkan aplikasi digital, tetapi sebagai fondasi utama bagi pengembangan teknologi modern dan ekonomi berbasis pengetahuan.

Pada tahun 2026, perkembangan ilmu komputer ditandai oleh pergeseran menuju teknologi komputasi yang lebih cerdas, hemat energi, dan berperforma tinggi. Kemajuan pesat kecerdasan buatan telah mendorong lahirnya berbagai inovasi perangkat keras baru, seperti chip neuromorfik kriogenik yang mampu meniru aktivitas neuron biologis untuk mendukung komputer kuantum dengan konsumsi energi yang sangat rendah. Peneliti University of Pennsylvania juga berhasil mengembangkan teknologi komputasi fotonik berbasis exciton-polaritons yang memungkinkan pemrosesan AI menggunakan cahaya sehingga mengurangi konsumsi energi secara signifikan. Di bidang semikonduktor, Cornell University mengembangkan teknik pencitraan atomik untuk mendeteksi cacat pada transistor modern, sedangkan Princeton University menemukan metode pemrosesan material dua dimensi yang memungkinkan fabrikasi chip generasi berikutnya dengan presisi atomik. Selain itu, Berkeley Lab memanfaatkan hampir 7.000 GPU untuk mensimulasikan desain chip kuantum secara menyeluruh sebelum proses manufaktur, sementara Science Tokyo mengembangkan memori berukuran nanometer yang semakin efisien ketika diperkecil. Berbagai terobosan tersebut menunjukkan bahwa ilmu komputer pada tahun 2026 tidak hanya berkembang pada aspek perangkat lunak, tetapi juga menjadi penggerak utama inovasi dalam kecerdasan buatan, komputasi kuantum, semikonduktor, dan sistem komputasi masa depan.

Bagi Indonesia, perkembangan ilmu komputer menjadi sangat penting karena menjadi salah satu pilar utama dalam mewujudkan transformasi digital nasional dan Visi Indonesia Emas 2045. Digitalisasi layanan publik, berkembangnya ekonomi digital, adopsi kecerdasan buatan di berbagai sektor, serta meningkatnya kebutuhan terhadap keamanan siber dan pengelolaan data menuntut ketersediaan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi tinggi di bidang ilmu komputer. Selain itu, pemerintah terus mendorong penguatan ekosistem semikonduktor, pusat data (data center), komputasi awan, serta riset kecerdasan buatan untuk meningkatkan daya saing nasional di era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi global, Indonesia tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga perlu memperkuat kapasitas penelitian, inovasi, dan kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah agar mampu menghasilkan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan nasional. Oleh karena itu, pengembangan pendidikan dan penelitian ilmu komputer merupakan investasi strategis untuk menciptakan talenta digital yang inovatif, meningkatkan produktivitas industri, memperkuat kemandirian teknologi, serta mendorong pertumbuhan ekonomi digital Indonesia secara berkelanjutan.

Perkembangan Penelitian Ilmu Komputer 2011–2026

Perkembangan penelitian ilmu komputer selama periode 2011–2026 menunjukkan transformasi dari disiplin yang berfokus pada pengembangan algoritma dan model komputasi menjadi fondasi utama berbagai inovasi lintas disiplin. Pada awal dekade, penelitian masih didominasi oleh optimalisasi metode komputasi, teori graf, sistem rekomendasi, serta integrasi dengan bidang teknik. Memasuki pertengahan dekade, kecerdasan buatan, big data, Internet of Things (IoT), dan keamanan data mulai menjadi arus utama penelitian. Sejak tahun 2020, kemajuan machine learning, deep learning, dan komputasi awan mendorong munculnya berbagai aplikasi cerdas di hampir seluruh sektor. Selanjutnya, periode 2023–2026 ditandai oleh ledakan Generative AI, komputasi kuantum, komputasi fotonik, chip neuromorfik, dan semikonduktor generasi baru yang mengubah arah penelitian ilmu komputer dari sekadar pengembangan perangkat lunak menuju integrasi perangkat keras, kecerdasan buatan, dan komputasi berperforma tinggi. Berdasarkan sintesis berbagai publikasi internasional, perkembangan tersebut dapat dikelompokkan sebagai berikut.



2011–2013: Optimalisasi Algoritma dan Sistem Komputasi

Pada periode ini penelitian masih berpusat pada pengembangan metode komputasi yang lebih efisien untuk menyelesaikan berbagai persoalan kompleks.

Fokus utama:

  • graph theory
  • graph coloring
  • recommender systems
  • approximation algorithms
  • distributed computing

Contoh arah penelitian:

  • aplikasi teori graf dalam optimasi jaringan dan penjadwalan,
  • pengembangan sistem rekomendasi berbasis machine learning,
  • pendekatan approximate bisimulation untuk sistem kompleks.

2014–2017: Integrasi Artificial Intelligence dan Interdisipliner

Penelitian mulai bergeser menuju penerapan kecerdasan buatan dalam berbagai bidang ilmu sekaligus memperluas kolaborasi antara ilmu komputer dengan disiplin lain.

Fokus utama:

  • artificial intelligence
  • machine learning
  • psychoinformatics
  • privacy-preserving computation
  • data-intensive computing

Contoh arah penelitian:

  • AI untuk pengenalan pola,
  • integrasi ilmu komputer dengan psikologi melalui psychoinformatics,
  • perlindungan privasi pada data digital,
  • ekstraksi informasi otomatis dari dokumen ilmiah.

2018–2021: Komputasi Cerdas dan Infrastruktur Digital

Perkembangan teknologi digital mendorong penelitian menuju sistem komputasi yang mampu memproses data dalam skala besar secara real time.

Fokus utama:

  • deep learning
  • cloud computing
  • Internet of Things
  • automation
  • high-performance computing

Contoh arah penelitian:

  • otomatisasi penelitian berbasis AI,
  • integrasi IoT dengan komputasi awan,
  • komputasi berkinerja tinggi untuk simulasi ilmiah,
  • penerapan AI dalam berbagai sistem industri.

2022–2024: Era Generative AI dan Large Language Models

Periode ini menjadi titik balik penelitian ilmu komputer dengan munculnya model bahasa besar (LLMs) dan Generative AI yang mengubah cara manusia mengembangkan perangkat lunak maupun mengolah informasi.

Fokus utama:

  • generative artificial intelligence
  • large language models
  • foundation models
  • AI-assisted programming
  • intelligent automation

Contoh arah penelitian:

  • pemanfaatan LLM untuk pengembangan perangkat lunak,
  • otomatisasi penulisan kode program,
  • integrasi Generative AI ke dalam berbagai aplikasi komputasi,
  • pengembangan sistem cerdas berbasis model fondasi.

2025: Komputasi Cerdas Berkelanjutan

Penelitian mulai diarahkan pada efisiensi energi, integrasi AI dengan perangkat keras, serta penerapan AI secara bertanggung jawab.

Fokus utama:

  • AI engineering
  • sustainable computing
  • trustworthy AI
  • semiconductor innovation
  • edge AI

Contoh arah penelitian:

  • integrasi AI dengan penelitian teknik,
  • komputasi hemat energi,
  • pengembangan semikonduktor generasi baru,
  • sistem AI yang lebih aman dan transparan.

2026: Intelligent Computing Ecosystem

Pada tahun 2026 penelitian ilmu komputer berkembang menuju ekosistem komputasi cerdas yang mengintegrasikan perangkat keras generasi baru, kecerdasan buatan, dan komputasi kuantum.

Fokus utama:

  • quantum computing
  • neuromorphic computing
  • photonic computing
  • atomic semiconductor engineering
  • AI hardware acceleration

Contoh arah penelitian:

  • chip neuromorfik kriogenik untuk komputer kuantum,
  • komputasi fotonik berbasis exciton-polaritons,
  • fabrikasi semikonduktor dua dimensi dengan presisi atomik,
  • simulasi desain chip kuantum menggunakan ribuan GPU,
  • memori nanoscale berperforma tinggi untuk sistem AI masa depan.


10 Tren Riset Utama Ilmu Komputer Tahun 2026

Perkembangan publikasi pada Chinese Journal of Computers, IEEE Transactions, ACM Computing Surveys, Communications of the ACM, serta berbagai jurnal bereputasi lainnya menunjukkan bahwa penelitian Ilmu Komputer pada tahun 2026 mengalami transformasi yang sangat pesat. Jika sebelumnya penelitian banyak berfokus pada pengembangan algoritma, perangkat lunak, dan sistem komputasi konvensional, kini perhatian bergeser menuju ekosistem komputasi cerdas yang mengintegrasikan kecerdasan buatan, perangkat keras generasi baru, komputasi awan dan edge, keamanan siber, serta komputasi kuantum. Berdasarkan sintesis berbagai publikasi terbaru, terdapat sepuluh tren penelitian utama yang mendominasi bidang Ilmu Komputer pada tahun 2026.




1. Large Language Models (LLMs) dan AI Agents

Perkembangan Large Language Models (LLMs) telah memasuki fase baru menuju AI Agents yang mampu memahami tujuan pengguna, melakukan penalaran, menggunakan berbagai perangkat (tools), serta menyelesaikan tugas secara mandiri. Penelitian tidak lagi berfokus pada peningkatan akurasi model bahasa, tetapi pada pembangunan sistem AI yang mampu berinteraksi, merencanakan, dan mengambil keputusan dalam berbagai lingkungan komputasi.

Topik penelitian potensial

  • AI Agents
  • Large Language Models (LLMs)
  • Agentic AI
  • Intent-Oriented Software
  • LLM Infrastructure

2. Physical AI dan Embodied Intelligence

Artificial Intelligence berkembang dari sistem digital menuju Physical AI, yaitu kecerdasan buatan yang mampu berinteraksi secara langsung dengan lingkungan fisik melalui robot, kendaraan otonom, perangkat edge, maupun sistem siber-fisik. Penelitian juga mengembangkan konsep embodied intelligence yang memungkinkan AI memiliki representasi diri (self model) untuk meningkatkan kemampuan adaptasi terhadap lingkungan yang dinamis.

Topik penelitian potensial

  • Physical AI
  • Embodied AI
  • Intelligent Robotics
  • Edge Intelligence
  • Self Model

3. Artificial Intelligence untuk Ilmu Pengetahuan dan Kedokteran

AI semakin banyak dimanfaatkan sebagai mesin penemuan ilmiah (scientific discovery engine). Penelitian berkembang dari penggunaan AI untuk analisis data menuju integrasi AI dalam diagnosis medis, simulasi molekuler, bioinformatika, analisis citra medis, hingga pengambilan keputusan klinis. Tren ini menunjukkan bahwa AI menjadi infrastruktur utama dalam riset multidisiplin.

Topik penelitian potensial

  • Medical AI
  • Scientific AI
  • Computational Biology
  • Medical Imaging
  • Clinical Decision Support

4. Trustworthy AI dan Privacy-Preserving Computing

Meningkatnya penerapan AI di berbagai sektor mendorong berkembangnya penelitian mengenai AI yang aman, transparan, dapat dipercaya, serta mampu melindungi privasi pengguna. Berbagai pendekatan seperti federated learning, privacy-preserving computing, uncertainty calibration, dan trusted AI menjadi fokus utama untuk memastikan sistem AI dapat digunakan pada aplikasi yang bersifat kritis.

Topik penelitian potensial

  • Trustworthy AI
  • Federated Learning
  • Privacy-Preserving Computing
  • Explainable AI
  • AI Reliability

5. Edge Computing dan Cloud Intelligence

Arsitektur komputasi modern mengalami pergeseran dari sistem cloud terpusat menuju kolaborasi antara cloud, edge, dan perangkat pengguna. Penelitian diarahkan pada pengembangan sistem AI yang mampu melakukan inferensi secara real-time dengan latensi rendah, konsumsi energi yang efisien, serta distribusi beban komputasi yang adaptif.

Topik penelitian potensial

  • Edge Computing
  • Cloud Computing
  • Distributed AI
  • Edge Intelligence
  • Serverless Computing

6. Hardware-Aware AI dan Arsitektur Komputasi Generasi Baru

Perkembangan AI mendorong lahirnya berbagai inovasi perangkat keras yang dirancang khusus untuk mendukung kebutuhan komputasi cerdas. Penelitian meliputi pengembangan prosesor berbasis RISC-V, in-memory computing, arsitektur heterogen, reconfigurable computing, hingga otomatisasi desain prosesor menggunakan AI. Integrasi perangkat keras dan perangkat lunak menjadi salah satu arah utama penelitian ilmu komputer.

Topik penelitian potensial

  • AI Accelerators
  • RISC-V
  • In-Memory Computing
  • Heterogeneous Computing
  • Processor Design Automation

7. Quantum Computing dan High-Performance Computing

Komputasi kuantum berkembang semakin cepat seiring meningkatnya kebutuhan terhadap komputasi berkinerja tinggi (high-performance computing). Penelitian tidak hanya berfokus pada perangkat keras kuantum, tetapi juga sistem perangkat lunak, optimasi algoritma, simulasi ilmiah, serta integrasi antara komputasi kuantum dan AI untuk menyelesaikan permasalahan yang sulit ditangani oleh komputer konvensional.

Topik penelitian potensial

  • Quantum Computing
  • Quantum Software
  • High-Performance Computing
  • Parallel Computing
  • Scientific Computing

8. Advanced Machine Learning dan Graph Intelligence

Selain Transformer dan LLM, penelitian machine learning berkembang menuju model yang mampu memahami struktur data yang semakin kompleks. Berbagai pendekatan seperti graph neural networks, hypergraph learning, physics-informed neural networks, serta cross-modal learning digunakan untuk meningkatkan kemampuan AI dalam memodelkan hubungan antarobjek dan berbagai jenis data secara bersamaan.

Topik penelitian potensial

  • Graph Neural Networks
  • Hypergraph Learning
  • Physics-Informed AI
  • Multimodal Learning
  • Geometric Deep Learning

9. Intelligent Data Systems dan Knowledge Computing

Pengelolaan data berkembang dari sekadar penyimpanan menuju pembangunan sistem yang mampu memahami hubungan antarpengetahuan. Penelitian diarahkan pada pengembangan knowledge graph, analisis jaringan kompleks, pencarian informasi multimodal, serta pemanfaatan LLM untuk meningkatkan kemampuan sistem dalam mengolah informasi yang semakin besar dan beragam.

Topik penelitian potensial

  • Knowledge Graph
  • Complex Networks
  • Intelligent Retrieval
  • Knowledge Computing
  • Data Intelligence

10. Cybersecurity dan Secure Computing

Keamanan siber menjadi salah satu fokus utama penelitian ilmu komputer akibat meningkatnya ancaman terhadap sistem digital modern. Penelitian berkembang dari keamanan perangkat lunak menuju perlindungan berbasis perangkat keras, analisis biner otomatis, komputasi yang menjaga privasi, serta mekanisme pertahanan adaptif berbasis AI untuk melindungi infrastruktur digital.

Topik penelitian potensial

  • Cybersecurity
  • Secure Computing
  • Binary Analysis
  • Hardware Security
  • Privacy Engineering 

Contoh Topik Disertasi Ilmu Komputer yang Layak Diteliti (2026)

Berikut merupakan contoh topik disertasi yang disusun berdasarkan perkembangan riset Ilmu Komputer internasional tahun 2026 sebagaimana tercermin pada berbagai jurnal bereputasi seperti Communications of the ACM, IEEE Transactions on Computers, IEEE Transactions on Pattern Analysis and Machine Intelligence, IEEE Transactions on Knowledge and Data Engineering, ACM Transactions, Information Sciences, Knowledge-Based Systems, Artificial Intelligence, serta berbagai publikasi mutakhir mengenai Large Language Models (LLMs), Agentic AI, Trusted AI, Edge Intelligence, Federated Learning, Graph Neural Networks, Quantum Computing, dan Privacy-Preserving Computing. Topik-topik tersebut juga disesuaikan dengan kebutuhan strategis Indonesia, seperti transformasi digital nasional, pengembangan AI berbahasa Indonesia, keamanan siber, layanan publik digital, smart city, industri 4.0, kesehatan digital, ketahanan pangan, mitigasi bencana, dan ekonomi digital.




1. Pengembangan Agentic Artificial Intelligence untuk Otomatisasi Layanan Publik Pemerintah Indonesia Berbasis Large Language Models

Mengembangkan framework Agentic AI yang mampu memahami tujuan pengguna, mengeksekusi alur pelayanan lintas instansi secara otomatis, serta mendukung transformasi layanan publik digital Indonesia melalui integrasi dengan sistem pemerintahan berbasis elektronik.


2. Pengembangan Trusted Artificial Intelligence untuk Deteksi Hoaks Berbahasa Indonesia Menggunakan Multi-Source Knowledge Fusion

Mengembangkan model Trusted AI yang mengintegrasikan Large Language Models, knowledge graph, media sosial, media massa, dan sumber resmi pemerintah untuk meningkatkan akurasi, transparansi, serta kemampuan penelusuran sumber informasi dalam deteksi hoaks nasional.


3. Pengembangan Federated Learning untuk Diagnosis Penyakit Nasional Berbasis Kolaborasi Data Rumah Sakit Indonesia

Mengembangkan algoritma Federated Learning yang memungkinkan rumah sakit di Indonesia membangun model diagnosis bersama tanpa harus memindahkan data pasien, sehingga meningkatkan akurasi kecerdasan buatan sekaligus menjaga privasi data kesehatan.


4. Pengembangan Privacy-Preserving Computing untuk Analisis Data Kependudukan Nasional Menggunakan Encrypted Artificial Intelligence

Mengembangkan arsitektur komputasi yang memungkinkan analisis data kependudukan berskala nasional secara aman menggunakan teknik enkripsi, secure computation, dan privacy-preserving machine learning untuk mendukung kebijakan pemerintah berbasis data.


5. Pengembangan Hypergraph Neural Network untuk Prediksi Penyebaran Penyakit Menular di Indonesia Berbasis Data Mobilitas Penduduk

Mengembangkan model Hypergraph Neural Network yang mampu merepresentasikan hubungan sosial yang kompleks antar individu, keluarga, sekolah, tempat kerja, dan transportasi sehingga meningkatkan akurasi prediksi penyebaran penyakit menular di Indonesia.


6. Pengembangan Geometric Deep Learning untuk Analisis Perubahan Tutupan Lahan Indonesia Menggunakan Data Satelit Multisumber

Mengembangkan metode Geometric Deep Learning yang mengintegrasikan citra satelit, data spasial, dan informasi topologi guna meningkatkan akurasi pemantauan deforestasi, kebakaran hutan, perubahan penggunaan lahan, dan degradasi lingkungan.


7. Pengembangan Physics-Informed Artificial Intelligence untuk Prediksi Erupsi Gunung Api Indonesia

Mengembangkan model Physics-Informed Neural Networks (PINNs) yang menggabungkan hukum fisika vulkanologi dengan pembelajaran mesin untuk meningkatkan kemampuan prediksi aktivitas gunung api dan sistem peringatan dini di Indonesia.


8. Pengembangan Large Language Model Berbahasa Indonesia untuk Analisis dan Harmonisasi Regulasi Nasional

Mengembangkan Large Language Model khusus regulasi Indonesia yang mampu melakukan pencarian semantik, identifikasi konflik antarperaturan, penyusunan ringkasan hukum, serta mendukung harmonisasi regulasi nasional secara otomatis.


9. Pengembangan Arsitektur Cybersecurity Berbasis Data Processing Unit untuk Perlindungan Infrastruktur Digital Nasional

Mengembangkan sistem keamanan siber generasi baru menggunakan Data Processing Unit (DPU) yang mampu mendeteksi, memblokir, dan merespons serangan siber secara langsung pada tingkat perangkat keras untuk melindungi pusat data pemerintah dan infrastruktur kritis nasional.


10. Pengembangan Physical Artificial Intelligence Berbasis Edge Computing untuk Smart Agriculture Indonesia

Mengembangkan sistem Physical AI yang mengintegrasikan robot otonom, sensor IoT, computer vision, dan edge computing untuk mendukung pertanian presisi, deteksi penyakit tanaman, optimasi irigasi, dan peningkatan produktivitas pertanian Indonesia.


11. Pengembangan Multi-Agent Artificial Intelligence untuk Optimasi Logistik Maritim Nasional Indonesia

Mengembangkan sistem Multi-Agent AI yang mengoordinasikan pelabuhan, kapal, gudang, dan transportasi darat secara real-time guna meningkatkan efisiensi logistik antarpulau dan memperkuat konektivitas maritim Indonesia.


12. Pengembangan Quantum Machine Learning untuk Optimasi Sistem Kelistrikan Nasional Berbasis Smart Grid

Mengembangkan algoritma Quantum Machine Learning untuk menyelesaikan permasalahan optimasi pada sistem tenaga listrik Indonesia, termasuk penjadwalan pembangkit, distribusi energi, dan integrasi energi terbarukan.


13. Pengembangan Graph Neural Network untuk Prediksi Kemacetan Lalu Lintas Perkotaan Menggunakan Data Multisumber

Mengembangkan model Graph Neural Network yang mengintegrasikan data CCTV, GPS kendaraan, cuaca, media sosial, dan sensor jalan guna memprediksi kondisi lalu lintas perkotaan secara real-time.


14. Pengembangan Explainable Artificial Intelligence untuk Diagnosis Penyakit Tropis Berbasis Rekam Medis Multimodal

Mengembangkan sistem Explainable AI yang menggabungkan citra medis, hasil laboratorium, rekam medis elektronik, dan data klinis untuk menghasilkan diagnosis penyakit tropis yang lebih akurat sekaligus mudah dipahami oleh tenaga kesehatan.


15. Pengembangan AI Software Engineer Berbasis Large Language Models untuk Otomatisasi Rekayasa Perangkat Lunak

Mengembangkan AI Software Engineer yang mampu membantu analisis kebutuhan, penulisan kode, pengujian perangkat lunak, deteksi bug, dokumentasi, dan refactoring secara otomatis guna meningkatkan produktivitas industri perangkat lunak Indonesia.


16. Pengembangan Hybrid Edge–Cloud Intelligence untuk Infrastruktur Smart City Indonesia

Mengembangkan arsitektur Hybrid Edge–Cloud Computing yang mengoptimalkan distribusi beban komputasi antara edge device dan cloud sehingga mampu mendukung aplikasi kota cerdas dengan latensi rendah dan efisiensi energi tinggi.


17. Pengembangan Multimodal Trusted Artificial Intelligence untuk Sistem Informasi Kebencanaan Nasional

Mengembangkan sistem AI yang mengintegrasikan teks, citra, video, sensor IoT, dan data media sosial untuk mendukung deteksi dini, verifikasi informasi, serta pengambilan keputusan cepat pada bencana alam di Indonesia.


18. Pengembangan Artificial Intelligence untuk Deteksi Kerentanan Perangkat Lunak Pemerintah Indonesia Menggunakan Automated Code Analysis

Mengembangkan metode AI yang mampu mendeteksi kerentanan keamanan, malware, insecure coding, dan potensi serangan siber secara otomatis pada aplikasi pemerintahan dan layanan digital nasional.


19. Pengembangan Retrieval-Augmented Generation Berbasis Knowledge Graph untuk Sistem Tanya Jawab Regulasi Indonesia

Mengembangkan sistem Retrieval-Augmented Generation (RAG) yang memanfaatkan knowledge graph regulasi Indonesia sehingga mampu menghasilkan jawaban hukum yang akurat, konsisten, dapat dijelaskan, dan selalu mengacu pada peraturan terbaru.


20. Pengembangan Digital Twin Berbasis Artificial Intelligence untuk Monitoring Infrastruktur Transportasi Nasional Indonesia

Mengembangkan platform Digital Twin yang mengintegrasikan sensor IoT, computer vision, edge computing, dan kecerdasan buatan untuk memantau kondisi jalan, jembatan, pelabuhan, serta infrastruktur transportasi nasional secara real-time dan prediktif.


Karakteristik 20 Topik

Dibandingkan topik-topik disertasi Ilmu Komputer di Indonesia pada dekade sebelumnya yang masih banyak berfokus pada pengolahan citra, data mining, sistem pendukung keputusan, klasifikasi, pengenalan pola, sistem pakar, information retrieval, optimasi algoritma, dan pengembangan aplikasi, dua puluh topik di atas mencerminkan arah penelitian internasional tahun 2026. Fokus penelitian telah bergeser menuju Agentic Artificial Intelligence, Large Language Models (LLMs), Trusted AI, Federated Learning, Privacy-Preserving Computing, Edge Intelligence, Graph Neural Networks, Hypergraph Learning, Quantum Computing, Digital Twin, Explainable AI, dan AI for Science. Seluruh topik tersebut juga memiliki relevansi yang kuat dengan agenda strategis Indonesia, mulai dari transformasi digital pemerintahan, pengembangan industri kecerdasan buatan nasional, penguatan keamanan siber, layanan kesehatan digital, smart city, logistik maritim, mitigasi bencana, hingga penguatan daya saing ekonomi digital menuju Visi Indonesia Emas 2045.


Penutup

Perkembangan penelitian Ilmu Komputer sepanjang 2011–2026 menunjukkan transformasi yang sangat cepat dan fundamental. Jika pada awal dekade penelitian masih didominasi oleh pengembangan algoritma, basis data, jaringan komputer, dan sistem informasi konvensional, maka pada tahun 2026 fokus penelitian telah bergeser menuju kecerdasan buatan generatif (Generative AI), Large Language Models (LLMs), AI Agents, komputasi tepi (Edge Computing), komputasi awan (Cloud Computing), Graph Neural Networks, komputasi kuantum, keamanan siber generasi baru, serta integrasi perangkat keras dan perangkat lunak yang semakin cerdas. Ilmu Komputer tidak lagi hanya berperan sebagai disiplin yang mengembangkan teknologi komputasi, tetapi telah menjadi fondasi utama transformasi digital di hampir seluruh sektor kehidupan, mulai dari kesehatan, manufaktur, transportasi, pertanian, pendidikan, pemerintahan, hingga industri kreatif. Berbagai perkembangan terbaru, seperti Agentic AI, Physical AI, Federated Learning, Trusted AI, dan Physics-Informed Machine Learning menunjukkan bahwa penelitian Ilmu Komputer akan semakin mengarah pada sistem yang otonom, adaptif, aman, dan mampu berkolaborasi dengan manusia dalam menyelesaikan berbagai permasalahan kompleks.

Bagi Indonesia, peluang pengembangan penelitian Ilmu Komputer sangat besar. Bonus demografi, percepatan transformasi digital nasional, pertumbuhan ekonomi digital, implementasi Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE), pengembangan smart city, digitalisasi layanan kesehatan, modernisasi sektor pertanian, industri manufaktur berbasis Industri 4.0, hingga meningkatnya kebutuhan keamanan siber nasional menciptakan ruang yang sangat luas bagi lahirnya inovasi berbasis komputasi. Selain itu, karakteristik Indonesia sebagai negara kepulauan dengan keragaman bahasa, budaya, dan kondisi geografis juga membuka peluang penelitian yang unik, seperti pengembangan Large Language Models untuk bahasa daerah, AI untuk mitigasi bencana, edge computing pada wilayah terpencil, analitik spasial untuk tata kelola wilayah, serta sistem cerdas yang mendukung pelayanan publik dan pembangunan berkelanjutan. Oleh karena itu, pemilihan topik disertasi yang mengikuti perkembangan riset internasional sekaligus menjawab kebutuhan strategis Indonesia akan meningkatkan peluang menghasilkan penelitian yang orisinal, memiliki kontribusi ilmiah yang kuat, serta berpotensi dipublikasikan pada jurnal internasional bereputasi.

Apabila Anda sedang mempersiapkan studi doktor atau menyusun proposal penelitian di bidang Ilmu Komputer, kami siap membantu sesuai dengan kebutuhan akademik Anda. Layanan yang tersedia meliputi pendampingan penyusunan proposal disertasi, penyusunan kerangka konseptual dan research framework, identifikasi research gap berbasis tren riset internasional, penyusunan instrumen penelitian, pengembangan model dan algoritma, analisis data menggunakan berbagai metode komputasi dan kecerdasan buatan, penulisan artikel jurnal nasional maupun internasional, editing dan proofreading naskah akademik, penyusunan buku ilmiah, hingga konsultasi strategi publikasi pada jurnal bereputasi. Seluruh proses pendampingan dilakukan secara profesional dengan mengedepankan orisinalitas, integritas akademik, metodologi penelitian yang kuat, serta peningkatan kualitas luaran ilmiah sesuai standar perguruan tinggi dan penerbit internasional.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan menghubungi:

WhatsApp: 0857-5950-1735

Email: penulismemori@gmail.com

Kami juga menyediakan konsultasi awal tanpa komitmen untuk membantu mendiskusikan kelayakan topik penelitian, memetakan novelty dan research gap, memilih pendekatan metodologis yang tepat, menentukan teknik analisis data yang sesuai, serta menyusun strategi publikasi pada jurnal nasional terakreditasi maupun jurnal internasional bereputasi (Scopus dan Web of Science). Pendampingan juga dapat disesuaikan dengan bidang spesialisasi, seperti Artificial Intelligence, Machine Learning, Computer Vision, Natural Language Processing, Data Science, Cybersecurity, Software Engineering, Internet of Things, High Performance Computing, Cloud Computing, hingga Quantum Computing.

Artikel ini akan diperbarui secara berkala mengikuti perkembangan penelitian Ilmu Komputer internasional sehingga tetap relevan sebagai referensi dalam memilih topik disertasi, proposal penelitian, maupun pengembangan roadmap riset. Update terakhir: 14 Juli 2026.

Contoh topik disertasi Perbandingan Agama

  1. Keutamaan intelegensi dalam agama-agama di Indonesia
  2. Pesan dari agama suku di Sumatera Utara
  3. Islam dan kesaradaran mengenai kemutlakan
  4. Mengenai keabadian dalam agama
  5. Lagu anggur (al-Khamriyyah) dari Umar ibnu al Farid
  6. Kejayaan spritiual agama suku di Jambi
  7. Fungsi eliatik
  8. Meditasi perjalanan
  9. Simbolisme taman Tao
  10. Perubahan dalam monoteisme semitik
  11. Siapa yang menjadi wakil Timur?
  12. Masalah seksualitas dalam agama
  13. Pemikiran kuintessensial
  14. Ilmu dan teknologi dalam islam tradisional: refleksi pada karya tulis terbaru
  15. Derajat seni dalam agama
  16. Kesadaran kristus Blake
  17. Aspek tradisi agama kaharingan modern di Kalimantan Barat
  18. Atas nama Yesus
  19. Landasan estetika integral dalam agama
  20. Naga yang menelan santo George
  21. Beberapa pemikiran mengenai festival dunia islam di Eropa
  22. Bhagavad Gita: Pendahuluan bagi pembaca Indonesia
  23. Pesan agama suku di Sulawesi Tengah terhadap dunia modern
  24. Simbolisme langit dalam agama
  25. Sains modern dan dehumanisasi manusia
  26. Perisai Achilles
  27. Fabel Sufi – ‘Dongeng Ikan’ karya Shah Da’I I Shirazi
  28. Metafisik polifoni musikal
  29. Kehidupan para nomaden
  30. Tiga dimensi sufisme
  31. Dengan semua pikiran kalian
  32. Mistisisme Islam
  33. Islam dan musik

Mutu Disertasi Indonesia dilihat dari Indeks Potensi Inovasi

Disertasi dimaksudkan untuk menciptakan pengetahuan baru atau inovasi baru bagi bidang ilmu yang bersangkutan. Pengetahuan ataupun inovasi tersebut merupakan output dari pendidikan semenjak lahir hingga lulus dengan gelar doktor. Bila kita batasi rentang pengetahuan tersebut sebatas program pasca sarjana s3 saja, maka inputnya adalah potensi calon mahasiswa s3 untuk menghasilkan pengetahuan baru atau inovasi baru tersebut. Disinilah letak hubungan indeks potensi inovasi terhadap mutu disertasi itu sendiri.
Kita mengharapkan bahwa dalam disertasi telah tertuang segala potensi inovasi dan pengetahuan yang telah kita pelajari selama ini. Walau begitu, setiap individu memiliki potensi yang berbeda. Hal ini dapat dirata-ratakan hingga seluruh populasi di suatu negara.
Global Innovation Index 2009-2010 telah melakukan survey terhadap 132 negara, salah satunya Indonesia. Salah satu surveynya menghasilkan nilai indeks potensi inovasi. Bagaimana indeks potensi inovasi Indonesia relatif terhadap negara lain? Tabel berikut menampilkan lima besar negara dengan indek potensi inovasi di wilayah Asia Tenggara, Asia dan Dunia.
Negara
Ranking Asia Tenggara
Ranking Asia
Ranking Dunia
Finlandia
-
-
1
Islandia
-
-
2
Swedia
-
-
3
Amerika Serikat
-
-
4
Denmark
-
-
5
Taiwan
-
1
6
Jepang
-
2
7
Korea Selatan
-
3
8
Singapura
1
4
10
Israel
-
5
13
Indonesia
2
13
59
Filipina
3
17
69
Thailand
4
19
72
Vietnam
5
20
73
Cukup baik posisi Indonesia di Asia Tenggara. Kita urutan kedua sebagai negara dengan indeks potensi inovasi tertinggi di Asia Tenggara. Sayangnya, hal ini masih berupa potensi. Sesuatu yang dapat mewujud, namun dapat juga hanya terpendam semakin dalam, jika salah dikembangkan. Adalah tugas kami sebagai jasa penulisan disertasi untuk mengembangkan pengetahuan dan potensi inovasi anda dalam bidang keilmuan anda. Dalam bekerja sama dengan kami, anda bukan hanya memperoleh rekan dialog untuk berbagi ide dan pengetahuan, namun anda juga dapat memperoleh masukan-masukan keilmuan penting serta referensi-referensi yang sulit anda peroleh jika anda bekerja sendiri atau tidak dengan profesional. Mari kita kembangkan potensi yang telah ada di diri anda sekarang. Hubungi kami di penulisdisertasi@gmail.com

Contoh bab 3 disertasi Ilmu Komunikasi

A. Pendahuluan
Bab ini dan bab selanjutnya akan memberikan pendekatan pada komunikasi yang akan digunakan penulis untuk mengkritik kampanye komunikasi publik. Model komunikasi ini berdasarkan pada apa yang dikenal sebagai prinsip dialogis. Ia memiliki dua tampilan prinsipil yang berbeda dari pendekatan komunikasi lainnya: pertama ia memperlakukan bahasa sebagai sebuah peristiwa, bukannya sistem; kedua, ia memperlakukan makna sebagai sifat yang muncul, dimana makna dibangkitkan oleh interaksi dua atau lebih partisipan dalam sebuah peristiwa komunikasi dan hanya muncul sebagai hasil tindakan bersama.
Banyak pengarang telah tertarik pada pandangan komunikasi ini dan telah ada banyak pembahasan mengenai pergeseran paradigma saat teoritikus komunikasi mulai menggunakan terminologi prinsip dialogis. Walau begitu, sebagaimana yang akan ditunjukkan oleh penulis, sebagian besar penulis ini telah lama memeluk sifat radikal prinsip dialogis dan belum melihat bahwa bukan hanya sekedar terminologi yang harus dirubah. Dalam kebanyakan kasus tidak ada pergeseran paradigma sama sekali, namun hanya perubahan dalam teori dan model yang telah ada.
Dalam bab ini, penulis memperkenalkan prinsip dialogis, dan memeriksa aspek yang relevan dari paradigma kemanusiaan dan ilmu sosial. Konsentrasi pada bab ini dan selanjutnya ada pada aspek konseptual berbagai pendekatan komunikasi, sementara pertimbangan etik dan praktis akan dibahas di sepanjang disertasi.
Penulis mendekati bab ini menggunakan prinsip dialogis dengan kehati-hatian. Seperti banyak orang yang telah menulis mengenai komunikasi, penulis menyadari ketidakcukupan komunikasi tradisional dalam membahas subjek ini. Namun sebagaimana akan penulis arungi menuju model baru kampanye komunikasi publik, model komunikasi sebagai percakapan yang akan membawa kita dari model transmisi, penulis sadar akan adanya sebuah ironi: sangat sulit melakukan percakapan diperluas mengenai topik ini. Kita tidak memiliki kosakata dan metafora penunjangnya untuk melakukan percakapan mengenai percakapan. Model yang ada sangat kabur dan cair sehingga menyelusup ke semua komunikasi mengenai komunikasi. Apa yang kita perlukan sekarang adalah metafora-metafora baru yang memungkinkan kita membahas dan menulis dengan yakin mengenai komunikasi tanpa berimplikasi pada pergerakan makna dari satu individu ke individu lain.
Dalam model komunikasi sebagai percakapan yang ingin penulis kembangkan untuk kampanye komunikasi publik, makna tidak berlompatan dari orang ke orang, namun diciptakan dalam tindakan perckapan. Komunikasi adalah sebuah peristiwa yang memunculkan perubahan; namun komunikasi sendiri tidak melibatkan pergerakan, dari satu tempat ke tempat lainnya, baik dari pesan maupun makna. Instrumen komunikasi bergerak – gelombang udara bergetar, kertas dipertukarkan, sinyal elektronis berdenyut di kabel dan berpendar di layar – namun interaksi bermakna antar manusia tidaklah sama seperti instrumen yang digunakan untuk berinteraksi. Inilah kesalahan dasar Weaver saat beliau menerapkan model komunikasi matematis Shannon untuk mencakup semua komunikasi manusia; ia salah mengambil instrumental untuk esensial. Namun Weaver tergoda dengan metafora umum sebagaimana orang-orang sebelumnya. Dalam bab sebelumnya penulis telah menjelaskan ketidakmampuan para ilmuan komunikasi untuk membuang kebiasaan ini dalam pikirannya; dalam bab ini, penulis akan kembali menunjukkan bagaimana kuatnya metafora dan keyakinan yang dipegang luas mengenai komunikasi, membawa pada mereka yang ingin mengubah paradigma menuju dialogis kembali terjatuh pada kebiasaan berpikir dan berperilaku model pengirim – pesan – penerima.
Walau begitu, bukan metafora komunikasi semata yang perlu diubah. Penulis berpendapat bahwa paradigma komunikasi yang menginformasikan kelembagaan kita, hubungan formal dan publik memiliki tampilan yang sama dengan paradigma cabang pengetahuan manusia lainnya. Penulis yakin bahwa satu-satunya jalan untuk meningkatkan hubungan ini adalah perubahan radikal dalam paradigma komunikasi, yang tergantung untuk berhasil pada perubahan radikal paradigma lainnya.
Paradigma dominan ilmu sosial memiliki banyak kesamaan dengan sains akhir abad ke-19. Karena sains adalah sebuah lembaga dalam batasan pemikiran barat klasik, tidaklah mengherankan kalau asumsi sains dan cabang-cabangnya ditandai dengan karakteristik epistemologis yang umum ditemukan pada bentuk wacana lainnya, yang sepanjang abad telah menjadi bagian pemikiran dasar kita yang kita berikan label asumsi ‘masuk akal.’ Tampilan paradigma ilmu sosial tradisional mencakup empat elemen epistemologis yang signifikan untuk penelitian disertasi ini: linearitas, struktur, reifikasi dan reduksionisme (lihat halaman 121 dibawah). Bahkan kalau ada panggilan untuk menggeser paradigma, usaha untuk melakukannya biasanya berada didalam berbagai ranah postmodernisme, yang secara umum tidak berhasil, karena dua alasan penting: pertama, setiap perubahan yang dibuat hanya terjadi dalam batasan disiplin tertentu, dan bukan pada skema konseptual keseluruhan; dan kedua, perubahan yang dibuat hanya pada satu atau dua komponen kecil paradigma, bukan pada paradigma itu sendiri secara keseluruhan. Penulis akan menunjukkan di bawah bahwa kesarjanaan postmodernisme tidaklah konsisten dan tidak pula menyeluruh dalam hal berikut: kita melihat kejanggalan kecil pada paradigma lama, namun paradigma lama ini tetap mampu tumbuh di atas luka-luka tersebut.
B. Cara Baru Membicarakan Komunikasi
Penulis mengambil titik awal pada posisi tiga filsuf: intelektual Rusia, Bakhtin (1895-1975) dan/atau Voloshinov (1884-1936), khususnya dalam Marxisme dan Filsafat Bahasa 1929; teologian dan filsuf Austria, Martin Buber (1878-1965) dalam Dialog 1929; dan Ludwig Wittgenstein (1878-1965) dalam karyanya Penyelidikan Filosofis 1953.
Bakhtin dan Buber, yang menghasilkan karya mereka di tahun 1920an dan 30an, menunjukkan sifat dasar komunikasi yang menurut penulis paling memuaskan dan bermanfaat. Pandangan mereka mengenai sifat komunikasi, yang kadang disebut prinsip dialogis (khususnya dalam membahas karya Bakhtin), membawa komunikasi lepas dari pendekatan instrumental mekanistik yang telah mendominasi pemikiran Barat dalam bidang ini sejak lama, dan masih hingga sekarang. Walau begitu, penulis tidak akan menggunakan terminologi mereka, karena penulis memilih istilah ‘percakapan’ sementara mereka menggunakan istilah ‘dialog’, dan menggunakan dialog sebagai bentuk sekunder dan turunan dari percakapan (seperti menurut penulis, berlaku pada semua bentuk lain komunikasi, termasuk komunikasi massa dan komunikasi publik). Alasan penulis mengadopsi istilah ‘percakapan’ sebagai pengganti ‘dialog’ akan dijelaskan dalam bab berikutnya.
Wittgenstein tidak menggunakan istilah ‘dialog’ atau ‘percakapan’, namun memilih ‘bahasa’ dan ‘permainan-bahasa’. Namun dalam Investigations, bahasa dan makna adalah bahasa dan makna yang digunakan: tidak masuk akal merujuk pada bahasa kecuali dalam hal berkomunikasi dengan orang lain. Pemaksaannya bahwa bahasa pada dasarnya publik – bahwa setiap aspek psikologis tidak relevan pada bagaimana individu menggunakan bahasa dan merumuskan makna – memberikan intisari prinsip dialogis.
1. Bakhtin
Kesarjanaan Bakhtinian telah menghabiskan cukup waktu dalam membahas apakah tulisan yang dinisbahkan pada dua pendahulu Bakhtin, Medvedev dan Voloshnikov, sesungguhnya ditulis oleh Bakhtin, dan hal ini menghasilkan kebingungan dalam nomenklatur dan juga kepengarangan. Ketidakpastian mengenai kepengarangan ini dicerminkan dalam beragam nama: sebagian kritikus merujuk pada pengarang Marxisme dan Filsafat Bahasa adalah Bakhtin (misalnya Todorov), yang lain Voloshnikov (misalnya Hodge dan Kress), dan yang lain Voloshnikov/Bakhtin (misalnya Morris). Untuk keberanian dan kemudahan pembacaan, penulis merujuk pada Bakhtin.
Pendekatan pertama pada komunikasi yang penulis pandang berguna untuk wacana publik mengikuti teori penyebutan Bakhtin. Bakhtin mengembangkan pendekatan bahasa dan komunikasinya, terutama pada tahun 1930an, sebagai kritik pada teori linguistik strukturalis Saussure dan Jakobson. Ia mengantisipasi tema ‘konstruksi sosial realitas’ lewat bahasa, yang telah menjadi, paling tidak secara nominal, karakteristik dari banyak pendekatan terbaru dalam sosiologi. Dalam pandangan Bakhtin, wacana tidak mencerminkan dunia, namun membentuknya lewat pengucapan; pandangan umum bahwa seseorang menyandikan dan mengirimkan isi pikirannya lewat pesan, yang kemudian disandikan dan ditafsirkan oleh orang lain, tidak perlu sejalan dengan realitas diskursif. Sebaliknya, pengucapan tidak akan ada hingga mereka dikonstruksi antara orang-orang yang terorganisir secara sosial dimana hubungannya berada dalam kondisi bentuk dan transformasi yang permanen.
Frase ‘konstruksi sosial realitas’ sering ditafsirkan oleh sosiolog modern berdasarkan perspektif Kartesius, dimana masing-masing dari kita (sebagai subjek) mengkonstruksi dunia sosial kita (objek) menggunakan bahasa dan lambang lainnya sebagai alat operasional. Pendekatan dalam teori komunikasi yang dikenal sebagai interaksionisme simbolik adalah salah satu penafsiran subjek-objek instrumentalis demikian. Disertasi ini tidak menganut pandangan interaksionis simbolik.
Bakhtin menekankan dualitas takterkurangi dari pengucapan bermakna, sementara makna tidak berada dalam orang atau teks apapun tapi merupakan produk dari interaksi interlokutor dalam konteks sosial unik (Todorov, 1984; Morris, 1994; Dentith, 1995). Makna pada dasarnya berada di luar orang dan teks:
Bahkan pengucapan paling primitif yang dihasilkan oleh organisme individual, dari sudut pandang isinya, kepentingan dan maknanya, tersusun diluar organisme tersebut, dalam kondisi ekstraorganisme dalam relung sosial. Pengucapan karenanya merupakan produk dari interaksi sosial (Bakhtin, dikutip dalam Dentith, 1995:138).
Dalam teori pengucapan ini, bahasa tidak dijelaskan sebagai sebuah sistem namun sebagai sederetan peristiwa, dimana makna dan nilai dibuat sebagai hasil dari interaksi dan konteks sosial tertentu.
2. Buber
Filsafat Buber menjelaskan kontras antara resiprositas serempak dan mutualitas hubungan manusia (dialog) dan hubungan utilitarian yang dimodelkan dalam sisi ilmiah subjek dan objek (monolog). Sebagai teolog, Buber percaya bahwa agama lah menciptakan hubungan mutual antara manusia, namun filsafatnya penuh berisikan kemanusiaan yang mendalam selain visi spiritual. Buber menolak memisahkan religius dari sekuler, dan melihat misteri mendalam pada kreativitas sebagai karakteristik manusia dan juga ilahiah. Adalah kemanusiaannya pada pengamatannya mengenai hubungan pribadi dan kreativitas yang sangat berguna bagi tujuan kita sekarang.
Tujuan Buber dalam Dialogue (1929) adalah menggambarkan dan memperjelas prinsip dialogisnya, yang telah pada awalnya dibangun dalam karya yang lebih mistik berjudul I and Thou. Intuisi Buber pada dialog adalah bahwa hubunganlah yang menyusun ‘mutualitas aksi internal’(hal. 25). Gerakan dasar kehidupan dialog bergerak menuju lainnya. Keluar dari mutualitas ini adalah penciptaan kelompok komunikasi. Buber memahami bahwa ia berusaha menjelaskan sesuatu yang hampir tak terekspresikan dalam bahasa biasa. Ia melihat dialog sebagai sesuatu yang lebih mendasar daripada signifikansi lainnya:
Dialog manusia, karenanya, walaupun memiliki kehidupan berbeda dalam tanda, yaitu suara dan gerakan … dapat ada tanpa tanda, namun tidak diakui dalam bentuk yang dapat dipahami secara objektif. Di sisi lain, sebuah unsur komunikasi, betapapun internalnya, tampak merupakan milik esensinya … Kehidupan dialog tidak terbatas pada lalu lintas manusia satu sama lain; ia telah menunjukkan dirinya berhubungan dengan manusia satu sama lain yang hanya dapat disajikan dalam lalu lintasnya (Buber, 1961: 20-25).
Dialog diawali dengan ‘dimana kemanusiaan bermula’ (hal. 54):
Dialog bukanlah masalah kemewahan spiritual, ia adalah masalah penciptaan mahluk … Agar jelas maksudnya contohnya adalah seorang pekerja yang dapat mengalami hubungannya dengan mesin, bahkan hubungan ini dapat dipandang sebagai sebuah dialog, saat, misalnya, seorang kompositor memberi tahu kalau ia memahami suara gumam mesin sebagai “tersenyum pada saat karena membantunya mengatasi masalah dan kendala yang mengganggu dan menyakitinya, sehingga sekarang ia dapat bekerja dengan baik” (Buber, 1961:55-57).
Dialog adalah masalah penciptaan. Ia adalah masalah tindakan bersama. Ia bukan sesuatu yang terjadi pada satu partisipan saja, sebagaimana dijelaskan oleh teori transmisi monologis, namun sesuatu yang orang (semua orang, semua yang terlibat dalam dialog) lakukan – bahkan saat, seperti dijelaskan dalam kutipan sebelumnya, salah satu partisipan dapat berupa mesin – dan kita melakukan ini karena kita secara aktif (mungkin, seperti dalam kasus pekerja Buber, kadang sedang bermain-main) memberikan minat dan kepengarangan pada partisipan lainnya (Sless dan Shrensky, 1995). Mutualitas dan resiprositas dianggap sebagai kondisi a priori yang perlu untuk komunikasi.
Pemahaman Bakhtin pada komunikasi sebagai peristiwa dan pandangan Buber bahwa ia adalah prinsip dasar yang intisarinya adalah penciptaan hubungan manusia memberikan intuisi baru komunikasi yang jauh terlepas dari pandangan komunikasi instrumental sebagai alat yang kita gunakan untuk menyatakan gagasan kita. Sebaliknya, ia menjadi alat dimana gagasan dibuat.
3. Wittgenstein
Wittgenstein dalam Investigations menggeser penekanan dalam filsafat linguistik lepas dari pandangan bahasa sebagai sistem tanda formal, statis dan diperumum kepada pandangan bahasa dalam penggunaan pada konteks aktivitas sosial sehari-hari. Bahasa selalu menjadi fenomena publik; tidak ada yang namanya bahasa pribadi (hal. 241):
Ia adalah apa yang dikatakan manusia sebagai benar dan salah; dan mereka setuju dalam bahasa yang mereka gunakan. Ini bukan kesepakatan pendapat namun dalam bentuk kehidupan (hal. 241).
Yang dimaksud ‘bentuk kehidupan’ oleh Wittgenstein menurut penulis adalah sesuatu seperti aktivitas sosial bertujuan konvensional atau terikat aturan. Wittgenstein berpendapat bahwa makna kata-kata suatu bahasa tidak berada dalam objek yang dinamakan oleh kata tersebut, namun dalam bagaimana kata-kata tersebut digunakan dalam masyarakat linguistik: ‘Bahasa adalah sesuatu yang diucapkan’, seperti diekspresikan oleh Rush Rhees (1954:94) dalam artikelnya mengenai argumen bahasa privat.
Dalam bagian selanjutnya dari bab ini, penulis akan memberikan argumen-argumen yang lebih detil mengenai pemahaman penulis pada pendekatan Wittgenstein, dan bagaimana ia dapat sesuai dengan model komunikasi yang penulis kembangkan untuk komunikasi publik.
C. Unsur-Unsur Komunikasi Dialogis
Dalam disertasi ini, penulis mengadopsi sebuah ontologi komunikasi yang berbeda secara radikal dari teori dan praktek yang umum diikuti. Teori tradisional mereduksi komunikasi pada tiga unsur berbeda dan diskrit – pengirim, pesan dan penerima – dan menyatakan komunikasi sebagai pengiriman pesan (sebuah kognisi pra ada yang tersandikan dalam sistem tanda) dari pengirim (komunikator aktif dan asal pesan, sebagai pengarang atau teks) kepada penerima (tujuan pasif yang akan dipengaruhi pesan). Dalam pendekatan dialogis pada komunikasi yang penulis sarankan, komunikasi memiliki karakteristik sebagai berikut (akan dijelaskan secara detail di depan):
  • Bahasa dinyatakan sebagai sederetan peristiwa atau tindakan;
  • Hubungan antara gagasan dan dunia adalah resiprositas bersama;
  • Makna muncul sebagai produk interaksi dialektikal antara individu, atau antara individu dan teks;
  • Kognisi adalah produk komunikasi
dan seterusnya ….

Topik Disertasi Neurologi: Tren Penelitian 2011-2026

Neurologi merupakan cabang ilmu kedokteran yang mempelajari struktur, fungsi, serta berbagai gangguan pada sistem saraf, yang meliputi otak, sumsum tulang belakang, saraf perifer, dan sistem neuromuskular. Peran neurologi menjadi semakin penting pada tahun 2026 karena kesehatan otak tidak lagi dipandang hanya sebagai isu klinis, melainkan sebagai fondasi kualitas hidup, produktivitas, dan keberlanjutan masyarakat yang menua. Berbagai temuan ilmiah terbaru menunjukkan bahwa gangguan neurologis dapat dideteksi jauh sebelum muncul gejala klinis. Penelitian American Academy of Neurology, misalnya, menemukan bahwa ritme sirkadian atau body clock yang melemah dapat menjadi indikator dini terjadinya demensia. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa kadar vitamin D yang baik pada usia dewasa muda berkorelasi dengan kadar protein tau yang lebih rendah pada usia lanjut, sehingga berpotensi menurunkan risiko demensia. Temuan-temuan tersebut menandai pergeseran paradigma neurologi dari pendekatan kuratif menuju pendekatan prediktif, preventif, dan berbasis biomarker.

Di tingkat internasional, neurologi menjadi salah satu bidang riset kesehatan yang berkembang paling pesat seiring meningkatnya prevalensi penyakit neurodegeneratif, seperti Alzheimer, Parkinson, epilepsi, multiple sclerosis, dan ataksia. Sepanjang tahun 2026 berbagai institusi dunia melaporkan terobosan penting dalam bidang ini. Yale School of Medicine berhasil mengidentifikasi dua protein permukaan neuron yang berperan dalam penyebaran protein toksik penyebab penyakit Parkinson, sehingga membuka peluang pengembangan terapi yang mampu memperlambat progresivitas penyakit. Bersamaan dengan itu, berbagai perusahaan bioteknologi mempresentasikan hasil uji klinis terapi baru untuk Parkinson, epilepsi, dan multiple sclerosis pada pertemuan tahunan American Academy of Neurology, sementara layanan neurologi virtual juga mulai dikembangkan untuk meningkatkan akses pasien dengan gangguan neurologis kronis. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa neurologi telah memasuki era precision medicine, terapi berbasis molekuler, kecerdasan buatan, serta pemantauan kesehatan otak secara digital yang menjadi prioritas utama sistem kesehatan global.

Di Indonesia, urgensi bidang neurologi juga semakin meningkat sebagai respons terhadap bertambahnya beban penyakit saraf, penuaan penduduk, dan kebutuhan pemerataan layanan spesialis. Pertemuan Ilmiah Nasional Perhimpunan Dokter Spesialis Neurologi Indonesia (PIN PERDOSNI) 2026 mengangkat tema mengenai meningkatnya penyakit saraf dan otak sekaligus mendorong transformasi layanan neurologi berbasis sains dan teknologi melalui gerakan nasional "Otak Sehat, Negara Kuat". Berbagai rumah sakit mulai memperluas layanan neurologi, seperti pembentukan pusat neurologi anak, pengembangan fasilitas EEG dan EMG, serta penambahan dokter spesialis saraf di berbagai daerah. Di sisi pendidikan, sejumlah perguruan tinggi juga membuka program pendidikan dokter spesialis neurologi guna menjawab kebutuhan tenaga ahli nasional. Selain itu, pemerintah melalui BPOM memperkuat kolaborasi riset klinis internasional di bidang terapi neurologi. Seluruh perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pada tahun 2026 neurologi tidak hanya menjadi prioritas dalam pelayanan kesehatan, tetapi juga menjadi bidang strategis bagi pengembangan riset, pendidikan kedokteran, inovasi teknologi kesehatan, serta peningkatan kualitas hidup masyarakat Indonesia.

Disertasi Terbaik Mei 2010 : Kondisi Komunikasi Perawat dan Pasien Masalah Gigi dan Kulit yang Buruk

Masalah-masalah yang dihadapi pasien saat kondisi dental atau kulit sering dipandang berbeda oleh perawat. Hal ini ditunjukkan dalam disertasi Francesca Sampogna, seorang peneliti epidemiologi dari Istituto Dermopatico dell'Immacolata di Roma.
“Untuk membatasi masalah ini, arah khusus dalam komunikasi harus dimasukkan dalam pelatihan personil keperawatan,” kata beliau. Ia mempertahankan disertasinya berjudul Kualitas Kehidupan dan Penanganan Penderitaan oleh Perawat dan Pasien dalam Kondisi Oral dan Kulit di Fakultas Odontologi, Universitas Malmo.
Diperlukan komunikasi yang baik agar perawat memahami masalah pasiennya sementara disaat bersamaan memberi tahu pasien mengenai kondisi mereka. Dalam disertasinya, Fransesca Sampogna menyelidiki bagaimana perawat memandang situasi psikososial pasien karena kondisi kulit atau gigi. Salah satu temuannya adalah dermatologis sering mengabaikan kemunculan rasa takut dan depresi pada pasien mereka.
“Saya yakin hal ini merupakan hasil komunikasi yang buruk dengan pasien, namun juga berdasarkan fakta bahwa dokter hanya melihat pada situasi klinis. Di saat yang sama, saya sadar kalau tidaklah mudah mengevaluasi status mental pasien dalam hanya beberapa menit, namun bahkan dalam waktu terbatas, seorang dokter harus mampu menciptakan dialog dengan pasiennya untuk mendapatkan petunjuk bagaimana kondisi tersebut mempengaruhi kehidupan psikososial pasien.”


Dua studi dalam disertasinya berurusan dengan pasien dengan kondisi dental. Hasilnya menunjukkan kalau dokter gigi memiliki kecenderungan mengabaikan kualitas hidup pasiennya. Ini artinya secara umum status kesehatan gigi pasien tidak harus memiliki pengaruh negatif demikian pada kualitas hidup sebagaimana dipercaya dokter gigi.
“Ini penemuan menarik, dan saya percaya sebagian penjelasan dapat ditemukan dalam perbedaan dalam bagaimana pasien dan dokter gigi atau perawat gigi memandang situasinya. Bagi pasien, kondisi gigi, walaupun mungkin serius, hanyalah satu dari banyak komponen hidupnya, sementara penyedia pengetahuan perawat pada kondisi ini dapat membawa mereka pada pengabaian bagaimana pasien terpengaruh olehnya.”
Studi keempat menyelidiki bagaimana dokter gigi dan pasien memandang keparahan kondisi dalam kasus masalah selaput lendir mulut di rongga mulut. Penemuan menunjukkan perbedaan besar antara kedua kelompok, dimana pasien memandang masalah mereka jauh lebih besar daripada dokter gigi.
“Saat membahas tentang masalah gigi dan kulit, tampaknya seringkali staff baik itu dokter maupun perawat tidak memandang situasi psikososial pasien mereka dan tidak setuju dengan pandangan pasien.”
Dalam disertasinya, Francesca Sampogna telah menunjukkan pentingnya komunikasi yang baik antara pasien dan staff untuk memahami apa kebutuhan khusus sang pasien.
“Perbedaan yang saya temukan dalam studi-studi saya adalah tanda adanya masalah komunikasi. Karenanya, arah komunikasi khusus harus dimasukkan dalam pelatihan penyedia kesehatan dan menjadi bagian dari pendidikan berkelanjutan,” kata beliau.

Contoh Bab Empat Disertasi Pendidikan

A. Pendahuluan
Dalam bab ini, keempat guru honorer yang berpartisipasi dalam studi diperkenalkan dan data yang dikumpulkan dari wawancara dan entri jurnal disajikan. Data disajikan bukan dalam bentuk daftar atau tabulasi namun dalam bentuk narasi cerita negosiasi jalur efikasi profesional. Kisah-kisah yang diambil dari data dalam wawancara dan jurnal guru (lihat Bab Tiga: Halaman 51) ditulis dalam sudut pandang orang ketiga. Walau begitu, kisah-kisah ini sering mengandung kutipan panjang yang diambil langsung dari wawancara dan jurnal dalam usaha untuk menekankan pentingnya persepsi pengalaman sebagaimana yang diekspresikan oleh guru honorer. Guru honorer dirujuk sebagai narator kisah untuk menggariskan bahwa ini adalah kisah mereka yang sedang diceritakan. Format cerita untuk penyajian data dipilih sebagai usaha untuk mendekati semangat “pengalaman langsung” yang intens (Clandinin dan Connely, 2000:128) yang ada dalam semua narasi guru honorer. Kisah dari tiap guru honorer/narator diceritakan dalam dua bagian.
  • Bagian Satu mengenai hal-hal dan pengalaman yang mempengaruhi guru honorer dan reaksi mereka pada praktek mengajar.
  • Bagian Dua mengenai hubungan pengalaman tersebut dengan perkembangan pengetahuan dan naluri efikasi profesional.
Walau tidak diceritakan secara tepat berurutan, penyusunan kembali episode-episode dan peristiwa-peristiwa dari semua data dari tiap guru honorer, kisahnya dapat disusun dalam bentuk kronologis. Di akhir Bagian Satu adalah sebuah gambar yang mengilustrasikan proses konstruksi keyakinan dan teori privat dari kolisi yang dialami narator. Pada akhir Bagian Dua adalah gambar yang mengilustrasikan hubungan pengalaman guru honorer pada perkembangan naluri efikasi profesional mereka.
Pada Bagian Satu, kisah-kisah yang berhubungan dengan narator yang tiba pada keputusan untuk menjadi guru (masing-masing kisah diberi subjudul dengan pernyataan “misi” yang dikutip langsung (Korthagen, 2004; ditelusuri November 2004) dan kemudian seperti apa rasanya di ruang kelas. Dalam peristiwa-peristiwa yang telah mereka pilih untuk ceritakan dan jelaskan, pengalaman-pengalaman yang berkesan dan menggerakkan guru honorer diperjelas dan di analisa. Analisis dan penafsiran (diambil dengan metode analitik tiga kluster) dari peran signifikan pengalaman menemani deskripsi peristiwa – sehingga data dan analisis data serentak disajikan dalam cerita. Pengungkapan tiap kisah mengikuti pola yang kurang lebih sama dalam menekankan pengembangan pengetahuan yang disajikan sebagai keyakinan individual dan teori privat guru honorer.
Pola ini pada awalnya muncul saat penyandian dan penyandian ulang jam-jam wawancara dan entri jurnal. Dalam satu dari banyak bacaan data, gambaran jelas “kolisi” (tabrakan tidak sengaja dari perilaku dan peristiwa) mendadak menangkap apa yang tampaknya terjadi dalam kehidupan semua guru honorer. Analisa ulang data kembali dengan bantuan penemuan gambaran baru ini mengungkapkan barisan sejajar perkembangan keyakinan dan teori privat. Pada awalnya, kolisi dikategorikan secara umum sebagai “latar belakang pribadi” “profesional” dan “universitas”. Walau demikian, setelah pemeriksaan lebih jauh, masing-masing guru honorer tampaknya telah mengalami kolisi yang unik dalam kategori tersebut yang mempengaruhi perkembangan keyakinan individual dan teori privat mereka. Dalam kisah-kisah tersebut, penafsiran keyakinan (pernyataan pengetahuan abstrak universal) dan teori privat (pernyatan ringkas “Saya harus” atau “Saya mesti” yang tampak bertindak sebagai pemandu perilaku) kemudian diturunkan dari sebuah analisa peristiwa disekitar kolisi dan bahasa yang dipergunakan untuk menjelaskan kolisi tersebut. Masing-masing kisah diceritakan menggunakan bentuk pencitraan kolisi individual dan pernyataan keyakinan dan teori privatnya sebagai lambang sentral dan esensial dalam proses belajar menjadi guru yang efektif.
Seperti banyak peristiwa yang mungkin terjadi dalam kehidupan narator dan banyaknya hasil dari analisis yang mungkin disajikan dalam teori-teorinya. Walau begitu, ruang yang ada membatasi penulis untuk menyajikan setiap pengalaman atau hasil analisis. (Semua wawancara tersedia bila diminta.) Episode-episode yang tidak dipilih – seperti ketidak setujuan terisolasi dimana salah satu narator hadapi dengan seorang rekannya mengenai mood sang kolega yang mengganggu – tidak dimasukkan karena peristiwa ini tampaknya tidak memiliki indikasi yang penting dan merupakan hal yang terus terjadi dalam narasi. Insiden-insiden yang tidak berulang atau disebutkan hanya sedikit ditafsirkan sebagai yang kurang relevan dengan perkembangan naluri efikasi profesional. Begitu juga, citra terisolasi atau anomali struktural bahasa yang tidak sepertinya menjadi bagian dari pola umum seperti penggunaan istilah “bekerja terus sampai koma” oleh salah satu narator (Ros, 2009: Wawancara 1) dicatat dalam teks cerita. Di sisi lain dimana penafsiran didukung oleh lebih dari satu perangkat data – seperti tiga pernyataan yang menunjukkan satu tema – biasanya hanya satu insiden disebutkan dalam kisahnya untuk menghindari kesan persuasi yang berlebihan. Insiden atau pernyataan yang disajikan adalah yang telah terpilih atas keragaman ekspresinya dan atas penyajian khas kepribadian guru honorer – sebagai contoh dalam salah satu kisah narator tampaknya menekankan pentingnya sebuah insiden lewat sebuah “cerita pendek” yang sangat panjang yang juga menunjukkan afeksi dan kepeduliannya pada murid-muridnya. Gaya ekspresi individual dari tiap guru honorer menambah dalam dan menariknya cerita begitu pula menjadi elemen penting analisis.
Keempat guru honorer dalam bab ini dengan baik hati memberikan waktunya ditengah jadwal yang sangat menuntut untuk menceritakan pengalaman mereka dan kisah berkelanjutan mengenai bagaimana ia berubah dari pelajar menjadi pengajar. Alasan mereka untuk melakukan hal tersebut beragam. Masing-masing narator tertarik dalam menganalisa dan menawarkan saran untuk mengembangkan program penyetaraan guru untuk membantu mengembangkan dan memperbaiki komponen-komponennya bagi siswa selanjutnya. Lebih jauh, semua narator merencanakan pada suatu waktu akan melanjutkan studi mereka melebihi program penyetaraan dan tertarik dalam proses penelitian studi ini. Masing-masing ingin menyumbangkan kisahnya pada studi ini dan menekankan kesetujuan mereka dengan pentingnya tujuan penelitian. Mereka juga mengatakan bahwa dengan ikut serta pada penelitian ini, mereka meningkatkan pemahaman mereka sendiri mengenai pengalaman dari pelajar menjadi pengajar pula. Cukup membantu membicarakan mengenai apa yang terjadi pada diri mereka. Beberapa narator mengatakan bahwa mereka menikmati kesempatan mengungkapkan dan membahas peristiwa mengajar dengan orang luar yang tertarik dan tidak memihak. Salah satu narator mengatakan, “Anda membantu saya merefleksikan diri …” (Delima, 2009: Wawancara 2) dan yang lain mengatakan bahwa wawancara ini adalah “penyelamat hidup” (Lili, 2010: pertemuan informal seminar Oktober) dalam melalui masa-masa ragu. Semua narator tergerak oleh niat dan keseriusan dari analisis yang panjang dan detil dari kata-kata yang mereka ucapkan secara spontan dan memperhatikan dengan seksama penjelasan penafsiran persepsi mereka. Kisah-kisah mereka diceritakan dan ditulis dalam potongan-potongan lalu menjadi satu keseluruhan bagi mereka dan bagi penulis lewat proses analisis narasi.
Akhirnya, masing-masing guru honorer dalam kisah-kisah ini menggunakan pseudonim – nama sebuah bunga. Nama-nama bunga dipilih sebagai citra dari tiap narator karena kualitas kesegarannya – bersinar dan penting sekaligus baru dan tidak berpengalaman. Guru honorer, seperti bunga, mereka dinamakan atas kerapuhannya namun mengandung ketegaran yang membawanya melalui masa belajar untuk menjadi guru. Di Indonesia sendiri bunga adalah citra dominan – ada beribu ragam bunga (sebagian tidak dapat ditemukan di tempat lain di dunia ini) tumbuh di negara tropis ini. Seperti halnya ada banyak sekali bunga di taman, begitu juga ada banyak persepsi belajar menjadi pengajar disajikan dalam sejumlah besar cara.
B. Kisah Ros:
‘Saya ingin menjadi guru hebat yang bermakna bagi hidup anak.’
Ros ikut serta dalam program universitas di tahun pertama keberadaannya dari Januari hingga Desember 2009. Ia diwawancarai tujuh kali sepanjang tahun selalu di universitas setelah ia selesai mengajar di pagi hari dan kuliah atau menyelesaikan tugas kuliah di sore hari. Di malam hari ia akan bekerja di rumah untuk menyiapkan “tugas belajar” rencana pengajaran (DeKock dan Slabbert, 2004: 12) untuk besok harinya. Wawancara kedelapan dilakukan di sekolah dimana ia akan mengajar penuh setelah lulus. Karena tekanan jadwalnya yang sibuk, sesi wawancara masing-masing panjangnya sekitar 45 menit. Jurnal reflektifnya dibaca pada akhir masanya di kampus. Penulis mengunjunginya suatu pagi di sekolah pertama dimana ia ditugaskan mengajar. Ia dijelaskan dalam teks sebagai wanita muda tinggi dan menarik di awal usia dua puluhan. Bahasa ibunya bahasa Skeah namun kami melakukan wawancara dalam bahasa Indonesia. Ia mengatakan bahwa ia tidak malu dan tidak peduli mengenai isu kerahasiaan dalam wawancara. ‘Apa yang saya katakan kepada anda juga akan saya katakan pada orang lain …” (Ros, 2009: Wawancara 1).
Beliau menandatangani pernyataan kerahasiaan. (Lihat Lampiran I) Pada waktu wawancara ia telah tinggal dengan orang tuanya dan beberapa saudara di pinggiran kota dalam kompleks berpagar, tidak menikah dan tidak punya anak. Gaya berbicara Ros dalam wawancara hidup dan lancar dan member kesan seseorang dengan semangat dramatis. Analisis isi dan bahasa narasi beliau menggunakan metode kluster performatif, struktural dan sastra menunjukkan insidensi tinggi penggunaan bahasa figuratif dan presentasi tema, sedikit penggunaan wacana, makna situatif kata dan monolog interior dan hanya satu kesempatan episode kritis. Ros menjelaskan dirinya sebagai seorang ‘perfeksionis’ dan ‘pecinta organisasi’, ‘orang yang terstruktur’ namun dapat ‘terlalu emosional’ (Ros, 2009: Wawancara 5). Ia juga menjelaskan dirinya sebagai orang yang mandiri. “Saya sangat senang menjadi mandiri. Masalahnya … karena saya terlalu mandiri … (Ros, 2009: Wawancara 2). Sering saat kami bertemu ia tampak kelelahan dan teralihkan: “Ros tampaknya letih dan tidak bersemangat hari ini. Ada lingkaran hitam dibawah matanya” (Catatan lapangan, 8 Mei 2009). Walau begitu, dalam tiap pertemuan, kesan dominan dirinya adalah bahwa ia berniat menjadi guru dan sangat ingin memenuhi misinya sebagai “guru hebat (yang) sangat berarti bagi anak...” (Ros, 2009: Wawancara 2). Naluri determinasinya tidak pernah meninggalkan dirinya dan sesulit apapun masa itu bagianya, ia tidak pernah menyebutkan kalau ia berpikir akan berhenti kuliah.
Ros menghabiskan tahun praktikumnya di universitas dengan mengalami dan menunjukkan perasaan (dalam bahasa figuratif yang jelas) dari kebingungan hingga menjadi “malaikat” (Ros, 2009: Wawancara 1) dan “penonton” (Ros, 2009: Wawancara 2) “mimpi buruk” (Ros, 2009: Wawancara 2) dan “mukjizat” (Ros, 2009: Wawancara 1). Baginya itu adalah tahun yang ia sebut sebagai “kolisi”.
Saya benar-benar bertabrakan di tengah karena saya orang yang sangat sopan dan santun namun bekerja dengan anak-anak yang tidak punya sopan santun … Tabrakan yang nyata terjadi saat saya mencoba menyuruh mereka melakukan sesuatu namun mereka malah mengejek saya … (Ros, 2009: Wawancara 4).
Kisah Ros penuh dengan peristiwa kolisi dan keyakinan serta teori privat dari dalam kelas dan dari luar kelas. Sebagian keyakinan dan teori privatnya dibawakan dari pengalaman masa lalunya dan sebagian dikembangkan atau terungkap saat ia melalui pengalaman mengajar pertamanya.
Dari sejak awal kisah Ros menjadi seorang guru, citra “kolisi” dari satu hal atau lainnya adalah gaya yang berpengaruh dalam hidupnya. Sebagai contoh, keputusan Ros untuk menjadi guru berdasarkan pada kecintaannya dalam mengajar. “Saya senang menjelaskan sesuatu dan saya juga tipe tutor yang baik …” (Ros, 2009: Wawancara 1). Ia sering mengekspresikan keinginannya untuk membuat perbedaan dalam “skala besar” (Ros, 2009: Wawancara 1) lewat pengajarannya – sebuah tema yang sering terjadi berulang kali dalam narasinya. Walau begitu, komitmen Ros untuk menjadi guru tidak dipandang ringan. Ayahnya tidak setuju atas pilihannya untuk menjadikan guru sebagai sebuah profesi.
Ayah saya tidak ingin saya mengajar. Ia seorang akuntan dan mengatakan bahwa mengajar tidak menghasilkan uang. Namun saya menyukai apa yang saya lakukan … (Ros, 2009: Wawancara 1).
Ia menceritakan masa kecilnya sebagai masa yang “sangat indah” (Ros, 2009: Wawancara 2) jadi untuk menyenangkan hati ayahnya ia mengambil kuliah S1 di bidang psikologi, menghabiskan beberapa tahun di luar daerah dan mencoba mengambil pekerjaan yang mewah dan menghasilkan (Ros, 2009: Wawancara 1). Dalam apa yang dapat disebut sebagai “episode kritis” (Elbaz, 1991:17), ia mengatakan :
Dan seterusnya …..