Dalam pengalaman kami mengasistensi calon doktor dalam menyusun disertasi mereka, kami menemukan beberapa bentuk kesalahan yang umum ditemukan dan terus berulang. Jadi dalam artikel ini, kami menyampaikan apa saja kesalahan tersebut sehingga kita tidak terjebak dalam kesalahan yang sama dalam menulis disertasi.
1. Menulis terlalu panjang
Memang secara umum, disertasi rata-rata memiliki panjang sekitar 300 halaman. Tetapi ada perbedaan yang cukup tajam juga, tergantung pada bidang ilmu. Disertasi di bidang ilmu alam memiliki panjang sekitar 200an saja sedangkan di bidang seperti filsafat dapat mencapai 400an. Jadi kadang mahasiswa dari bidang ilmu alam seperti kedokteran dan teknik sipil menulis terlalu banyak sehingga pada akhirnya harus dipotong. Hal ini dapat merugikan jika disertasi keseluruhannya harus di print dan banyak mengandung gambar berwarna, hanya untuk dicoret oleh promotor atau penguji karena redundant atau bertele-tele.
2. Topik terlalu luas
Memang disertasi itu memiliki cakupan yang besar, lebih besar dari tesis. Disertasi tidak mungkin hanya mengkaji satu kasus kecil, misalnya hanya satu puskesmas terkait kunjungan pasien. Tetapi kadang mahasiswa juga terlalu luas dalam mengangkat topiknya, hingga sampai ke level provinsi dan bahkan nasional. Jika memang ada ruang lingkup wilayah, satu kabupaten sudah cukup besar bagi lingkup disertasi. Intinya adalah topik itu harus cukup besar untuk dapat ditangani tapi tidak terlalu kecil juga sehingga tidak memberikan kekayaan data.
3. Kontribusi penelitian masih kabur
Penelitian disertasi dituntut memberikan kontribusi yang besar dan nyata. Tapi kadang mahasiswa menyamakan kontribusi yang luas dengan kontribusi yang spesifik. Sesuatu yang luas belum tentu harus umum. Kita bisa memberikan kontribusi yang spesifik, pada satu kasus yang konkrit, tetapi kasus itu memiliki jangkauan yang luas.
4. Pertanyaan penelitian tidak mendorong penyelidikan analitis yang mendalam
Pertanyaan penelitian disertasi harus bersifat analitis secara mendalam, dalam artian menjawabnya membutuhkan analisis dan daya interpretasi yang sepantasnya untuk seseorang yang sudah melewati gelar sarjana dan master. Jika jawaban penelitian mampu terjawab hanya dengan mengutip jawaban partisipan wawancara atau melihat asosiasi langsung dari hasil analisis statistik sederhana, pertanyaan itu masih belum cukup dalam.
5. Penelitian terdahulu muncul tapi tidak dipertentangkan dan ditelusuri gap metodologis atau teoritisnya
Banyak kandidat doktor hanya mendaftarkan literatur di bagian tinjauan literatur. Mereka membahas satu per satu penelitian, apa kelemahannya, apa kelebihannya, dan setelah itu pindah paragraf dan mulai meninjau penelitian baru. Jadi tidak terlihat ada keterkaitan antara satu penelitian dengan penelitian lainnya dan apakah terdapat gap yang sistematis dari semua riset tersebut, khususnya dalam aspek metode dan teoritis. Kebanyakan kandidat hanya membahas aspek empirisnya dan melupakan aspek metode dan teori tersebut, apalagi membangun sintesis yang mempertentangkan antar penelitian.
6. Ketika menggunakan mixed method, tidak jelas bagaimana temuan kuantitatif dan kualitatif tersebut diintegrasikan saat interpretasi
Mixed method atau penelitian campuran berarti kita menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif sekaligus. Tetapi kedua metode tersebut harus sifatnya saling melengkapi, bukan berdiri sendiri-sendiri. Kadangkala ini yang dilupakan mahasiswa. Mereka menjawab satu pertanyaan penelitian dengan metode ini, pertanyaan lain dengan metode satunya lagi, lalu lupa mengintegrasikannya.
7. Inkonsistensi dalam Kutipan
Disertasi sekarang sebagian besar menggunakan kutipan APA versi tujuh. Tapi kadang mahasiswa masih menggunakan versi lama, APA keenam, yang lebih panjang dan ribet. Sebagai contoh, pada APA 6, kita harus menyebutkan semua nama pengarang untuk pertama kali muncul, baru setelahnya menggunakan et al. Pada APA ketujuh, kita dapat langsung memakai et al. Kutipan lama juga ada yang harus menyertakan halaman sementara versi baru tidak memerlukan halaman. Intinya banyak mahasiswa belum memahami keragaman versi kutipan yang ada di kalangan akademis. Ada APA, Chicago, Vencouver, MLA, dan sebagainya. Agar lebih mudah, mahasiswa biasanya diwajibkan memakai software manajemen kutipan seperti Mendeley dan Zotero. Tetapi kadang mahasiswa langsung mengimpor data dari PDF ke software tanpa menyunting data dalam dashboard kedua software tersebut. Akibatnya hasilnya sangat berantakan dan jauh lebih buruk dari cara manual. Itu belum lagi kadang kita lupa menyetel versi kutipan yang digunakan.
8. Tidak bergambar
Pembuatan gambar memang memerlukan kompetensi tersendiri. Jadi wajar kalau disertasi banyak yang meninggalkan gambar dalam paparannya. Kalaupun ada, itu hanya untuk gambar kerangka pikir. Padahal, gambar sangat memudahkan bagi pembaca untuk memahami isi disertasi. Mahasiswa perlu belajar membuat gambar menggunakan Word. Kadang kalau kita kurang paham, kita langsung menempatkan gambar di kertas sehingga gambar menjadi berantakan, karena gambar ini sifatnya kerangka, menghubungkan sejumlah bentuk yang mewakili konsep tertentu. Ketika satu berantakan, yang lain ikut berantakan. Jadi kalau ingin menggambar, mulainya dengan membuat kanvas terlebih dahulu agar kerangka konseptual rapi, tidak bertindihan dengan teks. Kadangkala ada juga mahasiswa yang menggunakan Smart Art. Kami tidak menyarankan ini karena fitur bawaan Word ini dikritik tidak memberikan apapun yang dibutuhkan oleh penggunanya: hurufnya terlalu kecil, panahnya terlalu kaku, dan formatnya terlalu memakan tempat. Sekarang banyak juga mahasiswa memutuskan menggunakan AI untuk membuatkan gambar kerangka konsep. Tapi inipun tidak akan memuaskan karena AI seringkali mendistorsi hubungan antar konsep, memberikan simbol dan kata-kata yang tidak perlu pada gambar, dan kadang sebaliknya, mendramatisasi gambar melebihi maksud awal. Kadang kita bisa frustrasi hanya untuk memberikan perintah yang salah dieksekusi oleh AI ketimbang belajar membuat sendiri gambar yang kita inginkan.
9. Temuan riset tidak meyakinkan karena penjelasan alternatif sama kuat atau bahkan lebih kuat
Kadang kita terjebak pada bias bahwa jika ada satu fenomena yang sesuai dengan prediksi kita, maka teori kita benar. Padahal, ada banyak kemungkinan yang dapat menyebabkan suatu fenomena. Akibatnya, mahasiswa seringkali dikritik pada bagian pembahasan karena menyatakan kalau teori mereka benar karena hipotesis terbukti tanpa secara kritis mempertimbangkan penjelasan-penjelasan alternatif. Akibatnya, mahasiswa diminta untuk menganalisis hasil lebih mendalam lagi dengan membandingkan penjelasan-penjelasan alternatif dan berargumen kalau penjelasannya lah yang paling mampu menjelaskan fenomena yang signifikan tersebut.
10. Memilih metode studi kasus padahal survey atau sebaliknya
Kami sudah membahas cukup dalam mengenai studi kasus. Intinya adalah studi kasus berarti meneliti satu fenomena spesifik dengan pendekatan yang fleksibel. Asumsinya kasus ini adalah kasus yang unik. Penelitian studi kasus dapat hanya memakai studi survey tetapi seringkali survey saja tidak cukup, terlebih jika sampel diambil bukan secara sensus. Di sisi lain, studi survey mengasumsikan sampel mewakili populasi. Jadi ia bukan suatu kasus khusus. Mahasiswa sering terbalik. Mereka menyatakan studi survey padahal studi kasus karena sampel sensus atau kasus yang dipelajari khusus. Mereka menyatakan studi kasus padahal studi survey karena sampel tidak khas atau kasus hanyalah sesuatu yang mewakili banyak kasus yang sama.
11. Latar belakang terlalu tipis
Bagian latar belakang pada disertasi seorang doktor idealnya panjang lebar, lengkap dengan berbagai refrensi, mulai dari referensi statistik mengenai keadaan terkini hingga studi empiris dan literatur teoritis. Latar belakang harus padat dengan kutipan di satu sisi, namun di sisi lain, memiliki kebaharuan atau sintesis yang jelas dari pemikiran kandidat doktor itu sendiri. Kadang kala, mahasiswa langsung meloncat ke pertanyaan penelitian sebelum cukup membahas mengenai masalah yang ingin dipelajari tersebut, apa gap penelitiannya, dan apa yang ditawarkannya untuk menyelesaikan masalah tersebut.
12. Instrumen penelitian tidak sesuai dengan ruang lingkup pertanyaan penelitian
Instrumen adalah alat yang digunakan untuk menangkap data sehingga dapat menjawab pertanyaan penelitian. Tetapi kadang mahasiswa merancang instrumen, baik itu panduan wawancara, panduan pengamatan, atau kuesioner, yang tidak selaras dengan tujuan penelitian. Sebagai contoh, pertanyaan penelitian diarahkan pada konteks guru dan pelajar, tetapi instrumen yang dirancang hanya diberikan pada pelajar dan pelajar diminta menilai gurunya. Jadi ini timpang. Seharusnya guru juga sama, diberikan kuesioner yang harus diisi.
13. Landasan historis dan kontekstual penelitian tidak solid
Pada bagian latar belakang, kita juga perlu untuk menyampaikan latar historis dari suatu isu. Latar historis ini dapat bersifat akademis, artinya ia ingin diselesaikan sejak lama oleh para pemikir dan peneliti dari masa lalu tapi belum juga terselesaikan. Begitu juga, di latar belakang perlu ada latar kontekstual, dimana kita menjabarkan fenomena kekinian lengkap dengan konteksnya. Referensi yang dipakai harus dari otoritas statistik, bukan dari sumber sekunder seperti berita atau dari penelitian terdahulu. Kadang inilah yang kurang dieksplorasi oleh mahasiswa sehingga mereka terlihat berada dalam pijakan yang goyah dan tidak solid dalam merumuskan masalah penelitian.
14. Paradigma kualitatif tidak konsisten
Studi kualitatif di tingkat doktoral harus memiliki pijakan pada filsafat ilmu. Ada banyak paradigma dalam filsafat ilmu dan masing-masing memiliki karakteristik tersendiri dalam melaksanakan penelitian. Masalahnya, walaupun mahasiswa sudah benar menyebutkan satu paradigma sebagai paradigma pegangannya (post-positivisme, hermeneutika, kritis, fenomenologi, pragmatisme, etnografi, dan sebagainya), dalam praktinya ia menggunakan metode dari paradigma lain. Hal ini membuat mahasiswa kebingungan sendiri ketika ditanya oleh penguji atau promotor.
15. Menggunakan referensi yang tidak up-to-date
Memang wajib bagi disertasi untuk merujuk langsung ke sumber primer. Kadangkala, sumber primer ini usianya sudah sangat tua. Sebagai contoh, teori resource based view, merujuk pada tahun 1991 karya Barney atau yang lebih tua lagi, theory of the firm, di tahun 1950an. Teori sistem juga ditarik ke tahun 1950an karya von Bertalanffy. Tetapi ini tidak berarti kita harus selalu memakai referensi tua. Perdebatan teoritis itu terus terjadi hingga sekarang dan ada banyak referensi teoritis baru yang terbit lima tahun terakhir yang dapat diambil sebagai referensi teori. Jadi, kadang mahasiswa melupakan perkembangan ini sehingga teori yang dipegangnya tetap teori versi lama seolah tidak ada perkembangan semenjak teori itu dipaparkan ke publik.
16. Data penelitian tidak rapi
Kadang mahasiswa datang dengan data yang sulit dianalisis karena masih berbentuk mentah. Wawancara masih berupa rekaman atau transkrip verbatim. Kita tidak dapat langsung mengutip hasil wawancara di bab 4 tanpa melewati proses analisis tema terlebih dahulu. Data harus diolah dan dikategorikan ke dalam sub-tema, tema, dan kategori, hingga menjadi jelas apa yang dibicarakan oleh partisipan. Hal ini karena ada asumsi pada diri mahasiswa kalau jika kita sudah bertanya secara langsung, maka jawaban atas pertanyaan itu adalah apa yang kita tulis di disertasi. Tidak semudah itu. Pada kenyataannya, jawaban itu bisa tidak nyambung. Jawaban atas pertanyaan kita saat wawancara bisa saja justru ada pada jawaban atas pertanyaan lain yang maksudnya berbeda. Atau bisa jadi, ada banyak jawaban yang tersebar sepanjang proses wawancara, walaupun hanya ada satu pertanyaan wawancara yang kita khususkan untuk menggali jawaban partisipan. Analisis tematik memastikan kalau semua tema dalam jawaban partisipan tersaring, tidak peduli apa pertanyaan dari peneliti pada partisipan saat itu. Inilah mengapa penelitian kualitatif tidak sesederhana tanya jawab biasa dalam wawancara kerja.
17. Mengutip di teks tapi tidak ada di daftar pustaka
Ini masalah kealpaan. Kadang kita mendapatkan referensi yang bagus lalu dimasukkan ke badan disertasi, tetapi lupa membuat bibliografinya di daftar pustaka atau menguploadnya ke Zotero atau Mendeley untuk diupdate di daftar pustaka. Kadang sudah sebenarnya, tapi tahun publikasi berbeda. Karena kadang dalam dokumen, kita memperoleh versi awal sementara di daftar pustaka, versi yang terbaru yang muncul. Hal ini sebenarnya menguntungkan karena ketika kita mendapatkan dokumen tahun 2020 misalnya, ini diatas 5 tahun yang disyaratkan banyak perguruan tinggi sebagai jangka waktu maksimal kutipan jurnal. Tetapi ketika di update, ternyata artikel tersebut terbit dalam versi terakhirnya di tahun 2022 atau 2023, karena memang kadangkala, untuk jurnal setaraf Q1, kita harus menunggu dua hingga tiga tahun dulu baru bisa masuk ke dalam edisi utama jurnal tersebut, bukan lagi menjadi early cite yang tidak memiliki volume atau nomor dan halaman.
18. Rumus matematika tidak jelas
Bagi disertasi di bidang fisika dan matematika, rumus akan sering digunakan dalam teks. Kadang kita terburu-buru sehingga melupakan memberikan keterangan simbol pada rumus tersebut atau memberikan nomor urut pada persamaan yang kita buat. Hal ini wajar karena pembuatan rumus memang memerlukan ketelitian. Bisa dibayangkan betapa ribetnya mahasiswa doktoral di bidang matematika murni harus membuat persamaan-persamaan yang jumlahnya ratusan.
19. Tabel dan gambar tidak dirujuk di teks
Kadang kita sudah merasa lengkap untuk memasukkan tabel dan gambar ke dalam teks. Kadang kita menyebutnya gambar berikut, atau tabel di bawah ini. Istilah-istilah ini sebenarnya tidak boleh dalam disertasi. Kita wajib menyebut nomor dari tabel atau gambar itu, dan letak tabel dan gambar itu harus tidak jauh, di atas atau di bawah teks, tidak boleh menyeberang paragraf. Kita bisa menggunakan update nomor tabel atau gambar, tapi ini cukup kacau seandainya ada tabel atau gambar baru yang disisipkan di teks sementara kita lupa mengupdate nomor urut baik di teks maupun di gambar atau tabel itu.
20. Tidak sesuai panduan penulisan disertasi
Bukan saja beda universitas, beda faktultas, dan bahkan beda departemen/program studi maka model penulisan disertasinya bisa berbeda. Lebih dari itu, kadang beda tahun, beda pula panduan penulisannya. Jadi pastikan kita mendapatkan panduan penulisan disertasi terbaru pada program studi yang sama. Memang secara garis besar, ada tiga model penulisan disertasi berdasarkan bidang ilmu: model MIPA yang padat, model sosial yang lumayan renggang, dan model humaniora yang ekspresif argumentatif panjang lebar. Tapi masing-masing mengandung variasi yang besar.
21. Menganalisis data kualitatif menggunakan AI
AI sekarang sudah bisa membuat disertasi. Banyak mahasiswa doktoral mengandalkan AI untuk menulis dan karenanya, banyak yang terjun bebas menuju permasalahan beruntun karena mengandalkan otomatisasi ini: rujukan palsu, argumen yang seolah kuat padahal hampa, kalimat repetitif, dramatisasi, kesimpulan muncul di setiap sub-bab, kata-kata "terlarang" yang menyusup jika kita lengah, gambar yang tidak sesuai dengan narasi, penekanan yang tidak perlu, paragraf yang tidak memiliki makna empiris dan teoritis hanya retorika, simbol signatur AI, kata-kata negatif, kemunculan pernyataan-pernyataan baru entah dari mana. Inilah dunia tulisan AI. Setelah setahun bergelut dengan AI, para promotor sudah tahu ciri-ciri kalimat buatan AI. Dan mengandalkan AI untuk menganalisis data kualitatif adalah ide yang sangat buruk. Memang ada yang menyarankan memakai AI untuk analisis data, tapi ini sangat terbatas dengan metode yang penuh hati-hati. Masalahnya, cara kerja AI berbeda dari prosedur analisis data selayaknya. Maka dari itu, kadang AI menghitung sederhana pun salah. Menggunakan AI untuk analisis data kualitatif memerlukan kompetensi tersendiri. Kami telah mempelajari metode yang tepat untuk memanfaatkan AI versi LLM seperti Claude, ChatGPT, atau Gemini agar mereka menghasilkan analisis yang sesuai dengan metodologinya. Kesalahan dalam memanfaatkan AI untuk analisis data justru akan menghasilkan bencana, alih-alih analisis yang tajam dan teliti. Serahkan analisis data kualitatif ke profesional dan kami akan menggunakan AI secara optimal, bertanggungjawab, dan transparan untuk menghasilkan analisis data yang cepat, tepat, dan berdampak.
22. Gap riset dan novelty tidak dijabarkan dengan kuat
Menyerahkan identifikasi gap riset dan novelty pada AI tanpa kehati-hatian juga dapat menjadi bencana. Sama seperti analisis data, ketika mengidentifikasi gap, AI akan mencari apa yang dikatakan orang sebagai gap, bukan mengidentifikasi gap itu sendiri sebagai ketiadaan fokus pada bidang tertentu. Jadi ini bertentangan dengan makna novelty sebagai sesuatu yang baru. Bagaimana bisa dikatakan baru jika ia telah diidentifikasi sebelumnya. Jadi kita harus mengandalkan ketajaman seorang penulis disertasi agar dapat mengidentifikasi gap riset. Bahkan jurnal Q1 banyak yang mengakui bahwa AI tidak dapat mengidentifikasi gap riset, merumuskan masalah penelitian, dan tentu saja, melakukan wawancara.
23. Hipotesis dalam model SEM tidak dijelaskan seluruhnya
Banyak mahasiswa memandang kalau hipotesis semata adalah kombinasi arah panah antar konsep. Jadi kalau ada tiga variabel bebas, satu variabel mediasi, dan satu variabel terikat, maka akan ada tujuh hipotesis, tiga variabel bebas masing-masing ke variabel mediasi, masing-masing ke variabel terikat, dan satu dari variabel mediasi ke terikat. Kalau model seperti ini, maka ia harus dijelaskan satu persatu dan didukung dengan teori. Tetapi karena hipotesis aslinya lebih sedikit dari ini, maka ada hipotesis yang tidak memiliki penjelasan yang memadai. Padahal, kalau kita jeli, kita bisa membangun argumen bahkan untuk hipotesis yang sifatnya melengkapi seperti hipotesis mediasi atau hipotesis hubungan langsung.
24. Pengambilan responden dan prosedur sampling tidak detail
Sebenarnya bagian yang paling inti dari disertasi ada di metodologi. Maka dari itu letaknya ada di tengah-tengah. Ketika metodologi buruk, maka kita akan kesulitan kedepannya dan lebih sulit lagi untuk menghubungkan kembali apa yang kita temukan dengan bagian awal disertasi. Salah satu permasalahan yang paling umum dalam disertasi bagian metodologi adalah masalah pengambilan responden dan prosedur sampling. Sebenarnya secara teori sederhana, tapi pada praktiknya, ketika konteks riset kita perhitungkan, isu ini menjadi jauh lebih kompleks. Misalnya, random sampling menjadi sangat sulit ketika kita harus mengambil sampel dari para pelaku UMKM. Lalu bagaimana menentukan siapa yang menjadi partisipan wawancara dan siapa yang tidak diwawancara, mengapa, lalu apakah mereka diberitahukan etikanya. Ini perlu tajam.
25. Langkah penanganan validitas dan reliabilitas konstruk SEM tidak sah
Analisis data kuantitatif kadang sangat lancar tapi kadang juga menghadapi tantangan yang begitu berat dan memaksa kita mengambil langkah radikal seperti penghapusan item dalam jumlah besar agar model tetap valid dan reliabel. Apapun langkah yang kita ambil, kita harus memiliki justifikasi teoritis, metodologis, dan empiris atas keputusan kita. Itulah makna dari menjadi seorang doktor. Jangan dulu fokus ke hasilnya, jangan dulu fokus ke hipotesis diterima atau tidak, tapi fokus pada penyusunan argumentasi yang kokoh dan mencerminkan kompetensi kita sebagai calon doktor.
Demikianlah, 25 kesalahan dalam menyusun disertasi yang paling umum yang kami temukan selama kami memberikan asistensi pada para mahasiswa program doktoral di Indonesia dan bahkan di beberapa negara. Masalahnya selalu berulang dan menegaskan betapa pentingnya kami terlibat dalam memberikan bantuan bagi mahasiswa. Kami sudah memahami bagaimana seharusnya disertasi ditulis dari ratusan disertasi dari berbagai bidang dan berbagai perguruan tinggi. Jadi anda dapat menghemat banyak waktu, bahkan melebihi apa yang ditawarkan asistensi manapun, termasuk asistensi AI. Oleh karena itu, anda bisa segera menghubungi kami untuk mendapatkan asistensi yang anda butuhkan. Email kami di penulismemori@gmail.com atau hubungi kami di WhatsApp 0857 5950 1735. Kami akan menawarkan skema harga yang sesuai dengan kebutuhan anda dan memberikan bantuan profesional yang langka dan selama ini anda cari.









