Showing posts with label Sosial Politik. Show all posts
Showing posts with label Sosial Politik. Show all posts

Contoh Topik disertasi Masalah Publik dan Internasional


1.      Threshold setelan untuk partisipasi Negara: pendekatan baru bagi komitmen Negara berkembang dalam rezim perubahan iklim global
2.      Mengalamatkan kekerasan domestic sebagai kendala pemenuhan diri: hubungan resep kesejahteraan dengan pelecehan pasangan
3.      Stereotype seksual wanita kulit hitam dalam desain dan implementasi kebijakan AS
4.      Masa depan Dewan Kuasi-Mata Uang Argentina
5.      Reformasi kesehatan Chili
6.      Pengadilan untuk Timor: memilih keadilan transisi dalam ruang pengadilan Indonesia dibandingkan dengan pengadilan internasional
7.      Konflik Ethio-Eritrea dan usaha mediasi internasional
8.      Korupsi di Negara berkembang
9.      Migrasi keluar negeri vs ke dalam negeri di AS
10.  Peran resistensi non-kekerasan di Afrika Selatan: tenaga kulit hitam, gerakan, dan gereja dalam spiral Negara Apartheid 1980-1989
11.  Haruskah pasar baru memiliki otoritas manajemen hutang independen?
12.  Belajar dari Afrika Selatan: TRC, ICC, dan Masa depan akuntabilitas
13.  Perkembangan keuangan mikro dalam kemunculan konflik: contoh Uganda
14.  Isu keamanan Asia lainnya: nuklearisasi Asia Selatan dan pilihan bagi kebijakan luar negeri AS
15.  Proposal resep obat perawatan Clinton dan dampaknya pada insentif litbang farmasi
16.  Ekstraksi minyak dan perlindungan lingkungan di laut Kaspia
17.  Implikasi keputusan kebijakan mengenai penelitian sel punca embrionik di AS
18.  Penghukuman tentara anak Sierra Leone: pesan apa yang ingin dikirim PBB?
19.  Melibatkan publik AS dalam kebijakan keamanan dan asing
20.  Dekonstruksi minat politik: menjelaskan kegagalan mencegah konflik mematikan dan pembantaian missal
21.  Pengaruh batas waktu reformasi kesejahteraan pada anak dan keluarga: implikasi bagi reautorisasi
22.  Peran masyarakat internasional dalam penciptaan Negara baru
23.  Pengaruh etnisitas pada jalur kesuksesan akademis pada mahasiswa sarjana kulit hitam di Universitas Harvard
24.  Pendekatan baru pada pengaturan internet internasional
25.  Norma sosio-kultural dan penerimaan strategi pencegahan HIV/AIDS did distrik Simanjiro Tanzania
26.  Membangun demokrasi di Pakistan
27.  Dilemma desentralisasi dan pembangunan masyarakat dalam konteks otoriter
28.  Peran Amerika Serikat dan PBB dalam konflik Sahara Barat
29.  Perspektif lintas Negara pada kendala umum dan kebutuhan wirausahawan perempuan
30.  Rekomendasi untuk kebijakan senjata Nuklir AS
31.  Remedi puncak dan non-paksaan dalam sistem pendamaian perselisihan WTO
32.  Kerjasama regional dalam pembajakan maritime: pendahulu multilateralisme di Asia
33.  Sentralisme dan desentralisasi dalam Negara kesatuan: analisis komparatif Peru dan Senegal


Contoh topik disertasi sosial dan politik

  1. Musik kelas pekerja kota di Aceh
  2. Pemberian pinjaman oleh bank kepada wanita dan perubahan sosial
  3. Perhatian lingkungan di Indonesia lewat peninjauan latar belakang teori dan sosial selama 20 tahun
  4. Nasionalisme sekuler dan revivalisme religius di Indonesia
  5. Narasi sosialis Soeharto dalam masa pendudukan Timor Leste
  6. Tantangan Indonesia pada kekuatan AS di Asia
  7. Spektrum otoritarianisme dalam kebijakan Indonesia AS
  8. Perbandingan kebijakan asing George W Bush dan Barack Obama terhadap Indonesia sebagai kompleksitas konseptual pemimpin dan perubahan kebijakan luar negeri
  9. Kebangkitan Indonesia secara damai
  10. Reproduksi dan penentangan dominasi religius dalam organisasi, kebijakan dan tempat
  11. Studi dan pengajaran identitas religius
  12. Memikirkan identitas religius dalam ruang maya Indonesia dan Malaysia
  13. Minoritas agama, gender dan ras dalam ekonomi relasional organisasi kesehatan umum di Indonesia
  14. Kondisi pengabaian identitas religius dan maskulinitas audit dalam pendidikan tinggi di Indonesia
  15. Perubahan identitas religius dalam kepolisian
  16. Eksplorasi identitas religius tradisional dalam multibudaya Indonesia
  17. Ketidakstabilan hubungan Indonesia – Malaysia
  18. Hubungan citra afektif Malaysia terhadap perilaku warga negara Indonesia terhadap Malaysia
  19. Disonansi strategis antara Eropa dan Indonesia
  20. Pengaruh sosialisasi dan reward sosial sebagai penjelasan alternatif untuk motivasi dibalik partisipasi Indonesia dalam kelembagaan Internasional
  21. Masyarakat internasional sebagai proses dalam lembaga, identitas dan kebangkitan nasional damai Indonesia
  22. Debat orde dunia di abad ke-20 lewat mata permainan tingkat dua dan citra kedua
  23. Pemeriksaan kritis kekuatan halus sebagai kategori analitis
  24. Pemahaman definitif terhadap teori serang-bertahan
  25. Transnasionalitas dan gender : Kekuatan, kebijakan dan eksklusi
  26. Wacana korban, subjektivitas dan pengaturan wanita muslim dan prostitusi asing
  27. Imigrasi, gender dan negara madani serta masalah ketergantungan
  28. Menjembatani orientasi teoritis dalam studi migrasi transnasional
  29. Futurisme reproduktif neo imperialis dan solusi farmasi bagi krisis kesehatan jemaah haji
  30. Amerikanisasi dalam pembuatan kebijakan melawan kekerasan domestik di Indonesia
  31. Apakah revolusi damai mungkin di PSSI?
  32. Tribalisme dan teori ordo dunia
  33. Indonesia dan proses kerjasama di ASEAN

Sampel bab 2 disertasi

Berikut sampel bab 2 disertasi yaitu Tinjauan Literatur yang kami rancang. Disertasi berjudul Studi Kasus Pemeriksaan Validitas dan Reliabilitas Skala Orientasi Aktivisme pada Mahasiswa Sosial Politik.

BAB II
TINJAUAN LITERATUR

Penelitian – penelitian sebelumnya telah memberikan informasi dasar yang membantu memahami banyak isu seputar proses validasi Skala Orientasi Aktivisme (Corning dan Myers, 2002; Glasford et al, 2007). Dalam membahas literatur ini, tantangan pertamanya adalah bagaimana konsep dari aktivisme, bersama dengan sifat sosial dan politiknya. Selanjutnya, dibahas mengenai pandangan teoritis yang mendominasi literatur terbaru terkait orientasi aktivisme. Ketiga, faktor-faktor yang berpengaruh terhadap aktivisme dieksplorasi. Keempat, instrumen yang telah digunakan untuk mengukur tendensi aktivisme sebelumnya akan diperiksa. Kelima, aspek penting terkait validitas dan reliabilitas instrumen aktivisme yang dibahas. Dan terakhir, penelitian terkait dengan Skala Orientasi Aktivisme dan kompleksitas di sekelilingnya yang akan dipertimbangkan. Masing-masing sub bab ini akan membantu menjelaskan fokus dan arah penelitian disertasi ini.
Perlu dicatat kalau tinjauan pustaka ini berfokus pada perilaku aktivisme partisipan bukannya reaksi masyarakat atau pemerintah. Selain itu, walaupun tindakan kekerasan dan praktek menghalalkan segala cara dapat dipandang sebagai salah satu bentuk aktivisme, ia tidak akan dibahas dalam tinjauan pustaka ini. Tinjauan ini hanya akan membahas aktivisme dalam hubungannya dengan manajemen strategis para pelaku aktivitas sosial politik.

A. Konsep Aktivisme
Studi aktivisme membutuhkan kejelasan atas definisi aktivisme itu sendiri. Klar dan Kasser (2009) mendefinisikan aktivisme sebagai “perilaku mempromosikan kausa politik (sebagai contoh, melindungi lingkungan, isu Hak Asasi Manusia, menentang aborsi, atau mencegah perang) lewat sejumlah besar cara yang mungkin, misalnya mulai dari tindakan kelembagaan seperti mengajukan petisi hingga tindakan tidak konvensional seperti ketidakpatuhan sipil.” (hal.3).
Norris (2003) mengajukan kalau pada dasarnya aktivisme terdiri atas dua dimensi, yaitu repertoire dan agensi. Repertoire adalah “tindakan yang digunakan untuk menyalurkan ekspresi politik” (hal. 1) dan agensi adalah “organisasi kolektif yang digunakan untuk menjadi terlibat” (hal. 1). Selanjutnya Norris menyatakan bahwa ada sebuah pergeseran pola generasional antara aktivisme masa lalu dengan aktivisme masa kini dalam kedua dimensi tersebut. Pergeseran terjadi dari repertoire berbasis kewarga negaraan menjadi repertoire berbasis kausa. Sementara pergeseran pada dimensi agensi terjadi dari asosiasi tradisional seperti partai politik atau serikat menjadi gerakan sosial baru dan jaringan advokasi seperti LSM.
Perubahan ini sedikit banyak muncul akibat keberadaan internet dan web. Graber et al (2002) mengatakan bahwa “literatur mengenai jaringan minat dan aktivisme global terlihat kaya khususnya dalam contoh-contoh bagaimana berbagai penggunaan internet dan web telah mengubah aktivisme, tekanan politik dan strategi komunikasi publik” (hal 3) dan hal ini menunjukkan adanya pengaruh media baru pada aktivisme. Walau begitu, kebaruan sebuah media tidak selamanya berpengaruh lebih kuat daripada media lama. Morris (1996) menemukan bahwa surat kabar lebih kuat pengaruhnya dalam aktivisme politik ketimbang televisi, media yang lebih baru. Dilihat dari temuan ini, tampak wajar kalau internet memiliki kekuatan dalam meningkatkan aktivisme. Internet pada dasarnya lebih mirip dengan surat kabar ketimbang televisi. Lebih banyak isi internet yang berbentuk teks, bukannya tayangan video seperti televisi. Bahkan, dalam sejarah aktivisme, seringkali pengaruh sebuah buku sangat kuat bagi perkembangan aktivisme ketimbang menyaksikan sebuah peristiwa politik itu sendiri.
Bagi Rydin dan Pennington (2000), aktivisme tipe ini hanyalah sekedar wacana yang mentah. Ia belum dapat menjadi sebuah bentuk aktivisme walaupun telah berhasil mengubah pola pikir individu. Berbasis teori pilihan publik, mereka menyimpulkan sejumlah faktor yang mempengaruhi skala dan sifat aktivisme publik. Faktor-faktor ini antara lain:
1. Ongkos aktivisme
2. Manfaat langsung dari aktivisme
3. Ongkos non-aktivisme
4. Kemungkinan pengaruh aktivisme atas hasil kebijakan
5. Persebaran ongkos dan manfaat yang berhubungan dengan hasil kebijakan
6. Tingkat pengetahuan atas masalah dan proses kebijakan
Studi aktivisme transnasional (McAdam et al, 1996; Tarrow, 1998) menemukan tiga faktor yang yang mempengaruhi skala dan sifat aktivisme transnasional. Faktor-faktor ini antara lain:
1. Kekuatan jaringan sosial
2. Kekuatan identitas kolektif transnasional
3. Mekanisme untuk menghadapi kesempatan politik dalam lingkup nasional
Dapat dilihat bahwa aktivisme transnasional berbeda dengan aktivisme publik lokal. Hal ini karena transnasional memiliki ruang lingkup yang lebih luas dan bertujuan menyadarkan masyarakat global. Tarrow (2001) melihat bahwa peran negara asal aktivisme transnasional cukup kuat dalam menggiring kemunculan aktivisme transnasional ini, sejauh aktivisme tersebut bersifat “baik”. Contoh aktivisme “baik” ini seperti kampanye pencegahan penyebaran HIV, kampanye lingkungan dan kesetaraan gender. Aktivisme “buruk” termasuklah terorisme dan fundamentalisme militan.
Studi Norris (2002) pada sejumlah negara di Eropa mengungkapkan sejumlah trend aktivisme yang berlangsung di masa kini. Selain evolusi antar generasi yang telah disebutkan, aktivisme dalam bentuk protes semakin meningkat semenjak tahun 1980an. Sekarang, aktivisme protes bukan hanya milik kelas profesional dan kalangan terpelajar, namun telah merambah pada aneka kelompok masyarakat.
Dari sekian banyak jenis aktivisme kelompok, tampak kalau sebagian sarjana memandang aktivisme Islam sebagai sebuah bentuk aktivisme yang berbeda dari lainnya (Bullock, 2004). Hal ini karena aktivisme Islam dimotivasi oleh fanatisme irasional. Aktivisme demikian dianggap kasus khusus dan biasanya lebih dibahas lewat sudut pandang antropologi dan biologi, bukannya sosial politik. Walau begitu, Wiktorowicz (2004) menunjukkan bahwa aktivisme islam merupakan gejala sosial yang dapat dijelaskan lewat teori gerakan sosial.
Klasifikasi aktivisme lain diajukan oleh Klar dan Kasser (2009). Penelitian mereka mencari hubungan antara aktivisme dengan kesejahteraan psikologis. Klar dan Kasser membagi dua jenis aktivisme: aktivisme resiko rendah dan aktivisme resiko tinggi. Aktivisme resiko rendah termasuklah aktivisme yang tidak mengakibatkan seseorang dapat dipenjara. Sementara itu aktivisme resiko tinggi sebaliknya. Klar dan Kasser menemukan bahwa aktivisme resiko rendah berkorelasi dengan afeksi positif, kepuasan hidup, aktualisasi diri, makna dalam hidup, kepuasan kebutuhan psikologis, harapan dan agensi. Sementara itu aktivisme resiko tinggi hanya berkorelasi dengan aktualisasi diri. Secara komposit, aktivisme berkorelasi dengan tiga dari lima indikator dari apa yang disebut Klar dan Kasser sebagai kesejahteraan Eudaimonik, yang mencakup aktualisasi diri, kepuasan kebutuhan psikologis dan harapan. Dua indikator yang tidak signifikan adalah makna dalam hidup dan agensi.
Bila dilihat dari sudut pandang hirarki kebutuhan Maslow (1964) dapat diartikan bahwa kemungkinan aktivisme, baik resiko rendah maupun tinggi, umum dilakukan oleh orang yang telah mencapai pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dalam piramida Maslow. Aktualisasi diri terletak di puncak piramida dan terakhir dipenuhi ketika seluruh kebutuhan di bawahnya (fisik, keamanan, sosial dan penghargaan) telah terpenuhi. 

B. Teori-teori yang berhubungan dengan Orientasi Aktivisme
Literatur menggariskan sejumlah besar teori politik seperti teori politik normatif. Teori politik normatif berbasis pada persamaan normatif, yaitu setiap anggota masyarakat sipil memiliki hal dan kebebasan yang sama dengan anggota lain. Teori-teori politik normatif mengembangkan sejumlah model yang memberikan petunjuk apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannya. Teori-teori politik normatif ini antara lain teori kelompok minat, teori kritis elitisme, teori demokratik liberal, teori sosial politik liberal, teori kesadaran kelas Marxis, teori ekonomi Marxis, teori politik Marxis dan teori oportunisme sosiologis (Esping-Andersen et al, 1976; Offe dan Wiesenthal, 1980; Offe dan Ronge, 1975; Block, 1977). Setiap teori memberikan basis untuk perilaku pembuatan keputusan aktivisme. Sebagai alternatif, literatur teori pilihan publik melembaga mempertimbangkan aspek berbeda, yaitu cara atau struktur perkembangan aktivisme. Dua diantara teori cabangnya adalah teori tindakan kolektif dan teori permainan politik. Karena orientasi aktivisme lebih berhubungan dengan kedua teori ini, maka teori tindakan kolektif akan menjadi fokus sub bab ini.
Tiga sudut pandang teoritis memberi kita informasi mengenai perkembangan aktivisme: teori tindakan kolektif (Olson, 1965; Ostrom, 1990), model pelelangan (Coase, 1960; Kunreuther et al, 1987; Kunreuther dan Kleindorfer, 1986; Goetze, 1982; EPA, 1982), dan model kompetisi politik (Becker, 1983). Sebagai tambahan, literatur yang menggariskan teori ekonomi modern (Coase, 1988) dan khususnya ekonomi politik (Gardner, 1987) memberikan sumbangan pada pembahasan mengenai orientasi aktivisme. Masing-masing teori ini memberikan pengaruh pada penelitian terkait perilaku aktivisme selain instrumen yang dirancang untuk mengukurnya.

C. Teori Tindakan Kolektif
Teori tindakan kolektif paling banyak hubungannya dengan karya Olson (1965). Teoritikus tindakan kolektif menjelaskan bahwa tiap individual memperhitungkan sendiri minatnya yang kemudian menentukan hasil dari tindakan kolektif (Hamilton, 2008). Walau begitu, partisipasi individual tunggal kecil kemungkinannya untuk cukup berpengaruh dalam proses politik yang menyusun ongkos keterlibatan. Karenanya individu melakukan pilihan rasional untuk menumpang pada usaha partisipasi orang lain sehingga manfaatnya melebihi ongkosnya (Rydin dan Pennington, 2000). Dari sinilah muncul tindakan kolektif. Walau begitu, menurut Rydin dan Pennington (2000), situasi ini tidak terjadi pada situasi kelompok kecil. Dalam kelompok kecil, kemungkinan untuk mengawasi dan menghukum tindakan menumpang untuk berpartisipasi lebih besar. Karenanya “keberadaan ikatan sosial dan keinginan untuk menjaga hubungan baik dengan tetangga dapat mendukung derajat partisipasi yang tinggi” (Rydin dan Pennington, 2000, hal. 157).
Sesuai dengan ini, aktivisme akan muncul lebih mungkin secara kolektif dalam kelompok besar, seperti dalam kelompok pertemanan kecil dalam jejaring sosial di internet ataupun dalam sebuah agensi yang dibangun oleh beberapa orang yang bersahabat akrab di masyarakat. Penelitian yang sejalan dengan teori tindakan kolektif menekankan pentingnya peran ikatan sosial dalam kelompok kecil untuk menumbuhkan aktivisme dari titik awalnya (Fischel, 1985; Weale, 1992; Dwyer dan Hodge, 1996).


Demikianlah sekilas sampel bab 2 yang dapat kami buat. Tentu sampel di atas belum selesai karena pada aslinya masih panjang dan luas. Kami hanya ingin menunjukkan bagaimana model disertasi yang kami buat. Seperti yang anda lihat, polanya kurang lebih sama dengan disertasi pada umumnya. Tambahan lagi, bila anda memesan anda bukan hanya mendapatkan daftar pustakanya, namun artikel pustakanya itu sendiri.
Tinjauan pustaka di atas hanyalah sampel dan tidak boleh digunakan untuk tujuan akademis apapun. Untuk memesan model disertasi sesuai topik apapun yang anda inginkan, orisinil dan ditulis hanya untuk anda, anda dapat menghubungi kami di penulismemori@gmail.com atau langsung hubungi Whats App 0857 5950 1735.






Contoh topik disertasi tentang Penelitian Perdamaian

  1. Meramalkan konflik sipil secara statistik
  2. Bukti empiris demokratisasi dan perang saudara
  3. Penjelasan tentang insiden mediasi: rasa sakit, tekanan dan selubung politik
  4. Keberlangsungan politik, distribusi kebijakan dan pembentukan aliansi
  5. Korelasi lintas negara antara minyak dan demokrasi
  6. Kekerasan politik dan anti-teror
  7. Efek kebijakan luar negeri Indonesia terhadap stabilitas dan agitasi agen
  8. Anggaran perdagangan, demokrasi dan militer di balik perseteruan
  9. Efek regional terorisme pada pertumbuhan ekonomi dengan pendekatan regresi geografis
  10. Perwakilan kelompok etnis dalam kedutaan besar
  11. Konflik bersenjata di Indonesia, 1946-2009
  12. Etika, kebijakan dan hubungan sipil-militer
  13. Pengembangan universitas di kala bencana G30S/PKI
  14. Sejarah perdamaian di Indonesia
  15. Metodologi politik
  16. Kisah peran serta Indonesia dalam pasukan penjaga perdamaian
  17. Penggunaan logika minat diri Brazen untuk melihat dan membentuk masa depan
  18. Clash of Civilizations di Indonesia
  19. Realitas yang pahit dan pilihan strategis Indonesia
  20. Perang dan kuburan massal
  21. Teori keteraturan sosial
  22. Studi terorisme kritis
  23. Dilema peacebuilding dari perang menuju demokrasi
  24. Hukum nasional dan asal usul konflik antar agama
  25. Kapitalisme, mesin perang dan teori hubungan internasional
  26. Intervensi asing dalam konflik etnis
  27. Siklus sekuler
  28. Sudut pandang baru dalam peacebuilding liberal
  29. Efek hubungan internasional terhadap konflik sipil
  30. Peran kapasitas negara dalam perang sipil
  31. Implikasi teoritis dan empiris terhadap studi konflik sipil
  32. Kapitalisme dan perdamaian sipil di Indonesia, 1970-2005
  33. Struktur kesempatan politik, demokrasi dan perang sipil
  34. Pengkondisian konflik oleh negara: Bagaimana negara membatasi perluasan konflik
  35. Kapasitas negara, onset perang sipil dan komoditas pokok
  36. Implementasi kesepakatan damai perang sipil dan kapasitas negara
  37. Bagaimana kondisi eksternal dapat memperpanjang perang sipil
  38. Sangsi ekonomi dan durasi konflik sipil
  39. Investasi langsung asing dan konflik internasional termiliterisasi
  40. Program penelitian perdamaian demokrasi dan analisa level sistem
  41. Efektivitas pelacakan strategi diplomasi dalam intervensi pihak ketiga
  42. Protes non kekerasan dan pembentukan daerah otonom
  43. Pembentukan identitas pasca konflik
  44. Perilaku framing dan harapan terhadap perdamaian
  45. Politik para jenderal, ekonomi pertahanan dan legitimasi negara
  46. Penafsiran kesaksian perang dan kekerasan
  47. Dataset terminasi konflik UCDP
  48. Efek negatif integrasi ekonomi
  49. Transisi damai dan demokrasi
  50. Saling ketergantungan dan efek perdagangan disaggregasi terhadap pertikaian termiliterisasi
  51. Estimasi struktural sangsi ekonomi dari inisiasi menuju hasil
  52. Religiusitas, hilangnya sumberdaya dan dukungan terhadap kekerasan politik
  53. Penyelidikan empiris kerusuhan antar umat beragama dan latar belakang pertumbuhan ekonomi dan kekerasan etnis
  54. Kapabilitas pemberontakan dan kekerasan strategis terhadap penduduk
  55. Aspek psikologis dibalik pernyataan bertanggung jawab kelompok terhadap tindakan anarkis
  56. Misi bantuan regional terhadap konflik
  57. Formasi jaringan dan identitas etnis berbasis ingatan traumatis konflik
  58. Analisa Dataset ACLED