Mengapa Pendidikan Seni Penting pada Tahun 2026
Pendidikan seni penting pada 2026 karena membentuk kreativitas, kepekaan budaya, kemampuan berpikir kritis, dan kesiapan menghadapi perubahan teknologi. Pendidikan seni adalah proses pembelajaran yang mengembangkan kemampuan peserta didik melalui praktik, apresiasi, dan kajian seni, sekaligus menghubungkan ekspresi kreatif dengan pembentukan karakter, identitas, dan kehidupan sosial.
Secara internasional, pendidikan seni semakin dipandang sebagai bagian penting dari pendidikan holistik di tengah perkembangan kecerdasan buatan dan perubahan kebutuhan keterampilan. UNESCO pada 2026 menempatkan pendidikan budaya dan seni dalam agenda global karena kontribusinya terhadap kreativitas, empati, kewargaan global, dan perdamaian. Perhatian terhadap akses pendidikan seni juga terlihat di Amerika Serikat melalui upaya legislatif memperluas kesempatan belajar seni. Perkembangan ini menunjukkan bahwa pendidikan seni tidak lagi sekadar pelengkap kurikulum, melainkan sarana mempersiapkan manusia yang kreatif, adaptif, dan mampu memahami keragaman budaya.
Di Indonesia, pendidikan seni memiliki fungsi strategis untuk menjaga identitas budaya sekaligus menyiapkan generasi kreatif yang mampu beradaptasi dengan teknologi. Berbagai perkembangan 2026 memperlihatkan penguatan bidang ini, mulai dari internasionalisasi pendidikan seni di ISI Yogyakarta, akreditasi unggul sejumlah program studi, hingga pengembangan pembelajaran seni yang humanis dan adaptif terhadap AI. Pendidikan seni juga berhubungan dengan keberlanjutan budaya dan ekonomi kreatif, seperti penguatan seni di Bali untuk menopang pariwisata. Pada tingkat pembelajaran, pendekatan seni digital, pameran mahasiswa, dan pendidikan seni berbasis lingkungan memperluas peran seni dari sekadar keterampilan artistik menjadi instrumen pendidikan, identitas, inovasi, dan pembangunan masyarakat.
Perkembangan Penelitian Pendidikan Seni 2011–2026
Perkembangan penelitian Pendidikan Seni sepanjang 2011–2026 menunjukkan pergeseran dari perhatian terhadap praktik kreatif dan teknologi pembelajaran menuju kajian yang semakin luas mengenai lintas disiplin, keadilan sosial, identitas budaya, keberagaman, ketahanan, kecerdasan buatan, lingkungan, dan transformasi sosial. Dengan demikian, evolusinya bukan dimulai dari pertanyaan tentang apa itu Pendidikan Seni, melainkan dari perubahan persoalan yang dihadapi peserta didik, pendidik, masyarakat, dan lingkungan tempat seni dipraktikkan. Referensi yang tersedia memperlihatkan bahwa seni semakin diposisikan sebagai ruang untuk menghasilkan pengetahuan, membangun agensi, mengembangkan kreativitas, membaca persoalan sosial, dan merespons perubahan teknologi.
2011–2015 — Digitalisasi ruang belajar seni
Pada periode ini, penelitian mulai semakin kuat menghubungkan Pendidikan Seni dengan teknologi digital, kreativitas, otonomi peserta didik, dan bentuk-bentuk baru pengalaman belajar. Creativity in Digital Art Education Teaching Practices (2011) menunjukkan perhatian terhadap praktik pengajaran seni digital, sementara When is Creativity? Intrinsic Motivation and Autonomy in Children’s Artmaking (2011) menempatkan motivasi intrinsik dan otonomi sebagai persoalan penting dalam kegiatan berkesenian. Perhatian kemudian meluas pada posisi seni dan desain dalam percakapan STEM serta pemanfaatan lingkungan digital seperti Minecraft dalam kurikulum seni.
Fokus utama:
- kreativitas dan motivasi dalam pembelajaran seni;
- praktik pengajaran seni berbasis teknologi digital;
- otonomi peserta didik dalam penciptaan karya;
- perluasan definisi ruang dan media pembelajaran seni;
- hubungan pendidikan seni dengan STEM dan desain.
Contoh arah penelitian:
- Pengaruh praktik seni digital terhadap kreativitas dan otonomi siswa.
- Penggunaan media digital dan lingkungan virtual dalam pembelajaran seni.
- Integrasi seni dan desain dalam pembelajaran STEM.
- Pengembangan kurikulum seni yang memanfaatkan teknologi interaktif.
- Hubungan antara kebebasan berekspresi, motivasi intrinsik, dan hasil belajar seni.
2016–2018 — Seni transdisipliner
Mulai 2016, orientasi penelitian bergerak dari sekadar penggunaan teknologi menuju integrasi pengetahuan lintas disiplin. From Interdisciplinary to Transdisciplinary: An Arts-Integrated Approach to STEAM Education dan Reinventing the STEAM Engine for Art + Design Education memperlihatkan semakin kuatnya posisi seni dalam STEAM. Penelitian juga mengeksplorasi konstruktivisme, design thinking, kreativitas melalui kegagalan, serta materialitas dalam proses belajar. Pada saat yang sama, Pendidikan Seni semakin dikaitkan dengan hak, kesetaraan, pemberdayaan, dan inklusi, termasuk penelitian tentang pendidikan seni untuk siswa dengan autisme dan seni sebagai aktivitas manusia.
Fokus utama:
- integrasi seni dengan sains, teknologi, teknik, dan matematika;
- pembelajaran transdisipliner dan design thinking;
- kreativitas sebagai proses eksperimental;
- materialitas dan objek dalam pembelajaran seni;
- akses, hak, pemberdayaan, dan inklusi.
Contoh arah penelitian:
- Model pembelajaran STEAM yang menempatkan seni sebagai komponen pengetahuan, bukan sekadar dekorasi.
- Penggunaan design thinking untuk mengembangkan kreativitas siswa.
- Peran kegagalan dalam proses pembelajaran kreatif.
- Pengaruh material dan objek terhadap proses berpikir artistik.
- Pendidikan seni inklusif bagi peserta didik dengan kebutuhan yang beragam.
- Pendidikan seni sebagai bagian dari pengembangan hak dan kesempatan berekspresi.
2019–2020 — Hubungan Seni dengan AI
Memasuki 2019–2020, penelitian Pendidikan Seni semakin jelas bergeser ke persoalan identitas, representasi, budaya, dan perubahan teknologi. Moving From Cultural Appropriation to Cultural Appreciation menunjukkan perhatian terhadap cara pendidikan seni memahami perjumpaan budaya. Changing Practice: Culturally Sustaining Pedagogy in Art Education memperkuat arah pedagogi yang mempertahankan keberagaman budaya peserta didik. Pada 2020, penelitian mulai secara eksplisit mempertanyakan masa depan kurikulum seni dalam dunia pascapandemi serta hubungan seni dengan AI dan entitas nonmanusia. Afrofuturisme juga digunakan untuk membayangkan kembali kurikulum seni dari perspektif pengalaman dan keberadaan kelompok yang kurang terwakili.
Fokus utama:
- pedagogi yang responsif dan berkelanjutan secara budaya;
- representasi dan identitas dalam kurikulum seni;
- kritik terhadap apropriasi budaya;
- AI dan nonhuman dalam masa depan Pendidikan Seni;
- adaptasi kurikulum terhadap perubahan besar dan pandemi.
Contoh arah penelitian:
- Strategi Pendidikan Seni untuk mencegah apropriasi budaya.
- Pengembangan pedagogi yang mempertahankan identitas budaya peserta didik.
- Representasi kelompok minoritas dalam kurikulum dan sejarah seni.
- Implikasi AI terhadap konsep penciptaan dan pembelajaran seni.
- Adaptasi pembelajaran seni dalam situasi pembelajaran jarak jauh.
- Pemanfaatan seni untuk membangun identitas dan agensi kelompok yang kurang terwakili.
2021–2023 — Resiliensi komunitas seni
Periode 2021–2023 memperluas Pendidikan Seni menjadi ruang untuk menghadapi krisis sosial, pandemi, ketidaksetaraan, dan persoalan representasi. Penelitian tentang kreativitas dan resiliensi mahasiswa seni selama COVID-19 memperlihatkan perhatian terhadap kemampuan komunitas seni bertahan dalam kondisi krisis. Critical Arts Pedagogy menghubungkan pendidikan seni dengan kesadaran kritis dan aktualisasi diri, sementara Visual Racial Literacy mengembangkan kemampuan membaca persoalan ras melalui visual. Pada periode yang sama, penelitian mulai mengeksplorasi lingkungan belajar berbasis komunitas, keterlibatan siswa melalui platform digital, dan pendidikan seni anak usia dini berbasis STEAM.
Fokus utama:
- ketahanan peserta didik dan komunitas seni;
- keadilan rasial dan keberagaman;
- kesadaran kritis melalui seni;
- komunitas dan kolaborasi;
- pendidikan anak usia dini;
- penggunaan platform digital untuk keterlibatan dan rasa memiliki.
Contoh arah penelitian:
- Pendidikan Seni sebagai strategi membangun resiliensi setelah krisis.
- Pengembangan visual racial literacy melalui pembelajaran seni.
- Pedagogi seni kritis untuk meningkatkan kesadaran sosial peserta didik.
- Pengaruh komunitas kreatif terhadap keterlibatan dan belonging siswa.
- Integrasi seni, kreativitas, bermain, dan STEAM pada pendidikan anak usia dini.
- Penggunaan platform digital untuk membangun komunitas pembelajaran seni.
2024–2026 — Tanggung jawab sosial seni
Pada fase terbaru, penelitian Pendidikan Seni semakin multidimensional. Teknologi tidak lagi hanya dipandang sebagai alat pembelajaran, tetapi juga sebagai objek yang harus dikritisi. White Default: Examining Racialized Biases Behind AI-Generated Images (2024), misalnya, membawa persoalan bias rasial ke dalam produksi gambar berbasis AI. Pada saat yang sama, pendidikan seni dikaitkan dengan pendidikan perdamaian, kreativitas yang inklusif, dan kemampuan menghadapi polarisasi sosial. Pada 2026, arah penelitian semakin luas: seni digunakan untuk membangun kepedulian sosial, mengeksplorasi afek dan imajinasi, menghadapi kekerasan berbasis gender, mengajarkan persoalan lingkungan, membahas krisis air dan limbah laut, serta menciptakan bentuk pedagogi yang lebih peduli dan berorientasi pada pengalaman peserta didik.
Fokus utama:
- literasi kritis terhadap AI dan bias algoritmik;
- perdamaian dan pengurangan polarisasi sosial;
- keberagaman, inklusi, dan keadilan;
- pendidikan lingkungan dan keadilan ekologis;
- pengalaman emosional dan affect dalam pembelajaran;
- seni sebagai bentuk partisipasi dan tanggung jawab sosial.
Contoh arah penelitian:
- Bias rasial dalam gambar yang dihasilkan AI dan implikasinya bagi Pendidikan Seni.
- Pengembangan literasi AI kritis melalui pembelajaran seni.
- Pendidikan seni untuk perdamaian dan rekonsiliasi sosial.
- Seni kolaboratif untuk membangun kepedulian dan tindakan komunitas.
- Pendidikan seni untuk menghadapi perubahan iklim, krisis air, dan pencemaran laut.
- Pemanfaatan material bekas sebagai media pembelajaran tentang keadilan lingkungan.
- Seni sebagai pedagogi untuk memahami kekerasan berbasis gender.
- Pengembangan pedagogi berbasis afek, kepedulian, imajinasi, dan pengalaman tubuh.
- Penggunaan ruang publik dan pameran sebagai lingkungan belajar.
- Pengembangan kurikulum seni yang lebih inklusif terhadap bahasa, budaya, identitas, kemampuan, dan pengalaman sosial yang beragam.
10 Tren Riset Utama Pendidikan Seni Tahun 2026
Pendidikan Seni pada 2026 berkembang ke arah yang semakin plural, kritis, relasional, dan responsif terhadap perubahan teknologi maupun persoalan sosial. Riset tidak lagi hanya mempertanyakan bagaimana seni diajarkan, tetapi juga bagaimana seni membentuk identitas, relasi, afeksi, keberagaman, kesadaran ekologis, kemampuan beradaptasi dengan kecerdasan buatan, dan cara peserta didik membayangkan masa depan. Referensi terbaru 2026 memperlihatkan sepuluh kecenderungan utama: kreativitas pasca-AI, pedagogi material dan multisensori, identitas dan interseksionalitas, relasi guru–siswa, kesejahteraan sosial-emosional, dialog lintas budaya, ekopedagogi, pedagogi kritis dan dekolonial, pembelajaran berbasis permainan serta teknologi digital, dan refleksi historis untuk membayangkan masa depan pendidikan seni.
1. Kreativitas Pasca-AI
Kecerdasan buatan menjadi salah satu medan utama penelitian Pendidikan Seni pada 2026. Fokusnya mulai bergeser dari sekadar penggunaan AI sebagai alat menghasilkan gambar menuju pertanyaan yang lebih mendasar mengenai apa arti kreativitas ketika proses penciptaan dapat dibantu atau bahkan sebagian dilakukan oleh mesin. Creative MASS: Re-Worlding Post-AI Creativity menunjukkan kecenderungan untuk memikirkan kembali kreativitas setelah hadirnya AI, sementara riset tentang hubungan AI dengan praktik multisensori memperluas pembahasan dari produksi visual ke pengalaman manusia yang lebih kompleks.
Topik penelitian potensial:
Kreativitas manusia dan AI generatif dalam pembelajaran seni.
Perubahan konsep orisinalitas setelah penggunaan AI.
AI sebagai mitra kreatif dalam proses pembelajaran seni.
Pengaruh AI generatif terhadap imajinasi dan ekspresi peserta didik.
Literasi AI kritis dalam Pendidikan Seni.
Bias algoritmik dalam produksi gambar untuk pembelajaran seni.
Perbedaan karya yang dibuat manusia, AI, dan kolaborasi manusia–AI.
Etika kepengarangan dan atribusi karya seni berbasis AI.
Post-AI creativity sebagai paradigma baru pendidikan seni.
2. Pembelajaran Seni Berbasis Multisensori
Penelitian Pendidikan Seni juga semakin memperhatikan bahwa belajar seni tidak hanya berlangsung melalui pikiran atau penglihatan, tetapi melalui hubungan antara tubuh, material, ruang, suara, benda, dan lingkungan. The Sculpture Kit, penelitian tentang pedagogi material, New Materialism and the Wonderous Pedagogy of Puppetry, serta Symbiotic Sensing memperlihatkan kecenderungan untuk memahami proses berkarya sebagai hubungan yang dinamis antara manusia dan material.
Topik penelitian potensial:
Materialitas dalam proses belajar seni.
Pembelajaran seni berbasis sentuhan, suara, gerak, dan multisensori.
Peran benda sehari-hari dalam pembentukan pengetahuan artistik.
Puppetry sebagai pedagogi multisensori.
Material daur ulang sebagai medium pembelajaran.
Hubungan tubuh, material, dan kreativitas peserta didik.
Entangled making dalam pendidikan seni.
Pengaruh karakter material terhadap proses berpikir artistik.
Eksplorasi ruang dan benda sebagai bagian dari kurikulum seni.
3. Keadilan dalam Pendidikan Seni
Interseksionalitas menjadi tema yang semakin sistematis. Hadirnya A Systematic Review of Intersectionality Studies in Art Education menunjukkan bahwa penelitian mulai memetakan bagaimana berbagai identitas dan posisi sosial saling berkelindan dalam pengalaman pendidikan seni. Dengan demikian, gender, ras, kelas, disabilitas, etnisitas, bahasa, dan identitas seksual tidak lagi diperlakukan sebagai kategori yang berdiri sendiri.
Topik penelitian potensial:
Interseksionalitas dalam pengalaman peserta didik seni.
Gender, ras, kelas sosial, dan akses terhadap Pendidikan Seni.
Representasi kelompok minoritas dalam kurikulum seni.
Pengalaman peserta didik dengan identitas berlapis.
Disabilitas dan inclusive excellence dalam pendidikan seni.
Identitas LGBTQ+ dalam pembelajaran dan penciptaan seni.
Representasi kelompok rasial dan etnis dalam materi pembelajaran seni.
Pedagogi yang responsif terhadap identitas majemuk.
Hubungan identitas sosial dengan partisipasi dalam kegiatan seni.
4. Identitas Guru Seni
Posisi guru seni juga menjadi objek penelitian yang penting. Negotiating Recognition: Subjectivation of Teaching Artists in Schools menunjukkan perhatian terhadap bagaimana seniman-pendidik membentuk identitas profesional dan memperoleh pengakuan di lingkungan sekolah. Sementara Dialogic Identities menggeser perhatian kepada hubungan guru–siswa sebagai proses negosiasi identitas yang berlangsung melalui interaksi artistik.
Topik penelitian potensial:
Identitas profesional teaching artist.
Pengakuan terhadap seniman yang bekerja dalam sistem sekolah.
Negosiasi identitas guru seni dan seniman.
Relasi kuasa antara guru dan peserta didik dalam pembelajaran seni.
Identitas guru–siswa melalui praktik berkarya bersama.
Pengembangan profesional guru melalui praktik artistik.
Teacher as conceptual artist.
Kelompok menulis dan pembentukan identitas peneliti bagi guru seni.
Kolaborasi antara seniman, guru, dan sekolah.
5. Afek dalam Interaksi Guru dan Peserta Didik
Dimensi emosional semakin kuat dalam penelitian Pendidikan Seni. Art as Transformation: Fostering SEL Through Arts-Based Teacher Development serta penelitian mengenai suara, ruang, percakapan, dan afek menunjukkan bahwa seni dipelajari sebagai pengalaman yang mampu memengaruhi perasaan, hubungan sosial, refleksi diri, dan pembentukan identitas. Pendidikan Seni semakin dipahami bukan hanya sebagai pengembangan keterampilan artistik, tetapi sebagai ruang pembentukan manusia secara emosional dan sosial.
Topik penelitian potensial:
Pendidikan Seni dan social-emotional learning.
Seni sebagai sarana regulasi dan ekspresi emosi.
Hubungan kreativitas dengan kesejahteraan psikososial.
Afek dalam interaksi guru dan peserta didik.
Seni dan pengembangan empati.
Pembelajaran seni untuk membangun rasa memiliki (belonging).
Seni sebagai ruang pemulihan dan transformasi sosial.
Pengaruh praktik artistik terhadap keterampilan sosial.
Hubungan suara, ruang, percakapan, dan afek dalam kelas seni.
6. Negosiasi Identitas
Pluralitas menjadi salah satu kata kunci penting dalam riset 2026. The Story Festival menggunakan seni bercerita untuk membangun dialog antarbudaya, sedangkan berbagai penelitian mengenai identitas dan keberagaman menunjukkan bahwa Pendidikan Seni semakin diposisikan sebagai ruang untuk mempertemukan pengalaman yang berbeda. Fokusnya bukan sekadar mengenalkan budaya lain, tetapi membangun kemampuan berdialog, mendengar, dan menegosiasikan perbedaan.
Topik penelitian potensial:
Seni sebagai medium dialog antarbudaya.
Storytelling dalam pendidikan seni multikultural.
Seni dan pembentukan identitas lintas budaya.
Pedagogi seni untuk masyarakat multibahasa.
Seni sebagai sarana membangun toleransi.
Pembelajaran seni berbasis cerita komunitas.
Dialog lintas generasi melalui praktik seni.
Seni dan rekonsiliasi identitas yang berbeda.
Pertukaran seni sebagai model pembelajaran global.
7. Ekopedagogi dalam Pendidikan Seni
Lingkungan menjadi salah satu medan penelitian yang semakin jelas. Editorial mengenai ecopedagogy, riset tentang seni dan lingkungan, serta kajian mengenai hubungan anak dengan tempat menunjukkan bahwa pendidikan seni mulai menghubungkan proses kreatif dengan krisis ekologis. Seni tidak hanya menggunakan lingkungan sebagai objek representasi, tetapi dapat menjadi cara untuk memahami relasi manusia dengan air, limbah, material, tempat, dan ekosistem.
Topik penelitian potensial:
Ekopedagogi dalam Pendidikan Seni.
Seni sebagai respons terhadap krisis iklim.
Pendidikan seni dan keadilan lingkungan.
Seni berbasis limbah dan material daur ulang.
Seni dan pendidikan mengenai krisis air.
Marine debris art dalam pembelajaran sekolah.
Seni publik sebagai pedagogi lingkungan.
Hubungan anak, tempat, dan ekologi.
Seni sebagai medium pembentukan kesadaran ekologis.
Integrasi isu keberlanjutan ke dalam kurikulum seni.
8. Antirasisme Melalui Pembelajaran Seni
Riset Pendidikan Seni 2026 juga semakin mempertanyakan siapa yang menentukan pengetahuan seni yang dianggap sah. Tema seperti pluralitas, sejarah yang terhapus, narasi dominan, identitas rasial, serta pedagogi kritis menunjukkan pergeseran dari sekadar memperbanyak representasi menuju mengkritisi struktur yang menghasilkan eksklusi. Penelitian historis seperti Drawing and the Pursuit of Progress in the Late 19th-Century Dominican Republic juga memperlihatkan pentingnya membaca kembali sejarah pendidikan seni dari perspektif yang lebih beragam.
Topik penelitian potensial:
Dekolonisasi kurikulum Pendidikan Seni.
Antirasisme melalui pembelajaran seni.
Kritik terhadap kanon seni dalam pendidikan.
Representasi seniman dari kelompok yang selama ini terpinggirkan.
Narasi sejarah seni dan politik pengetahuan.
Pedagogi fugitive dan praktik pendidikan alternatif.
Pendidikan seni untuk melawan stereotip.
Sejarah pendidikan seni dari perspektif Global South.
Penghapusan dan pemulihan narasi dalam sejarah seni.
Kurikulum seni yang lebih plural dan inklusif.
9. Bentuk Baru Pembelajaran Seni berbasis Permainan Digital
Teknologi digital tidak menghilang setelah munculnya AI; justru berkembang menjadi ekosistem pembelajaran yang lebih luas. Penelitian tentang digital games sebagai sarana pendidikan seni menunjukkan perhatian terhadap pengalaman belajar yang interaktif dan partisipatif. Tren ini membuka ruang penelitian mengenai bagaimana permainan, simulasi, ruang virtual, dan media digital dapat mengubah cara peserta didik mengeksplorasi visualitas dan menciptakan karya.
Topik penelitian potensial:
Digital games sebagai media pembelajaran seni.
Pembelajaran seni berbasis game-based learning.
Dunia virtual sebagai ruang studio seni.
Interaktivitas dalam pembelajaran seni digital.
Pengalaman pemain dalam pendidikan seni.
Gamifikasi proses penciptaan karya.
Hubungan permainan digital dan kreativitas.
Media interaktif untuk pendidikan seni anak.
Integrasi game, seni visual, dan teknologi pendidikan.
Perbandingan pembelajaran seni konvensional dan berbasis permainan digital.
10. Masa Depan Spekulatif Pendidikan Seni
Tren kesepuluh menunjukkan sesuatu yang menarik: penelitian Pendidikan Seni 2026 tidak hanya bergerak ke depan, tetapi juga kembali membaca masa lalu untuk membayangkan masa depan. Editorial Speculative Futures and Haunting Histories, Re-Turning to Plurality in Art Education, kajian historiografi, serta refleksi terhadap DBAE dan sejarah pendidikan seni memperlihatkan meningkatnya perhatian terhadap hubungan antara memori, sejarah, kemungkinan masa depan, dan perubahan paradigma pendidikan.
Topik penelitian potensial:
Masa depan Pendidikan Seni setelah AI.
Speculative pedagogy dalam pendidikan seni.
Historiografi Pendidikan Seni dan perubahan paradigma.
Pembacaan ulang sejarah pendidikan seni dari perspektif kontemporer.
Hubungan antara memori, sejarah, dan inovasi pedagogis.
Pelajaran dari paradigma pendidikan seni masa lalu untuk masa depan.
Skenario masa depan kurikulum seni.
Pendidikan seni dalam kondisi sosial yang tidak stabil.
Seni sebagai sarana membayangkan masa depan alternatif.
Hubungan sejarah, teknologi, dan transformasi Pendidikan Seni.
Apa Saja Topik Disertasi Pendidikan Seni yang Berdampak di Indonesia dan Dapat Tembus Q1?
Topik disertasi Pendidikan Seni yang berpeluang menghasilkan publikasi Q1 di Indonesia perlu menghubungkan persoalan lokal dengan perdebatan internasional, menghasilkan kontribusi teoretis sekaligus bukti empiris, dan menawarkan solusi yang dapat diuji. Bidang paling potensial mencakup AI, identitas, ekologi, pendidikan transdisipliner, kesejahteraan, inklusi, budaya lokal, dan transformasi pedagogis. Tren AI dalam pendidikan seni sendiri berkembang sangat cepat pada 2026.
Berikut sepuluh ide yang menurut saya paling kuat. Judul dibuat cukup spesifik untuk menjadi calon judul disertasi, tetapi masih dapat dipersempit berdasarkan jenjang pendidikan, wilayah, atau metode penelitian.
1. Rekonseptualisasi Kreativitas Siswa dalam Pendidikan Seni di Era Generative AI: Model Pedagogi Human–AI Co-Creation Berbasis Budaya Lokal Indonesia
Disertasi ini dapat mengkaji bagaimana hubungan antara siswa, guru, AI generatif, dan budaya lokal mengubah pengertian kreativitas. Fokusnya bukan sekadar apakah AI meningkatkan kualitas gambar, tetapi bagaimana siswa mengambil keputusan artistik, mempertahankan agensi, mengevaluasi keluaran AI, dan mengubahnya menjadi karya yang memiliki makna personal serta kultural. Tema ini sangat aktual karena penelitian 2026 menunjukkan pergeseran riset AI dari sekadar teknologi menuju pedagogi, kreativitas, kolaborasi, dan human–AI co-creation.
Topik penelitian potensial:
- kreativitas manusia–AI;
- prompt literacy dalam pendidikan seni;
- orisinalitas dan kepengarangan;
- AI dan seni tradisional Indonesia;
- bias AI terhadap representasi budaya Indonesia;
- pengembangan model asesmen karya seni berbantuan AI.
2. Model Pedagogi Seni Berbasis Kearifan Ekologis Lokal untuk Membangun Environmental Agency Siswa di Indonesia
Penelitian ini dapat mengembangkan model pendidikan seni yang menggabungkan praktik artistik dengan persoalan ekologis konkret seperti sampah plastik, pencemaran sungai, kerusakan pesisir, deforestasi, atau perubahan lanskap. Kekuatan disertasinya terletak pada penggabungan seni, ekologi, kearifan lokal, dan agency siswa, bukan sekadar menjadikan lingkungan sebagai tema gambar. Konteks Indonesia sangat cocok karena hubungan budaya lokal dan tanggung jawab ekologis juga sedang menjadi perhatian riset pendidikan.
Topik penelitian potensial:
- seni berbasis ekopedagogi;
- environmental art di sekolah;
- seni dan krisis sampah plastik;
- seni berbasis ekosistem pesisir;
- kearifan ekologis masyarakat adat;
- seni dan perubahan iklim;
- pengembangan environmental agency melalui proyek seni.
3. Pendidikan Seni sebagai Ruang Negosiasi Identitas: Pengembangan Model Pedagogi Interseksional bagi Siswa Indonesia
Disertasi ini dapat meneliti bagaimana gender, kelas sosial, etnisitas, agama, bahasa, wilayah, disabilitas, dan identitas sosial lainnya berinteraksi dalam pengalaman siswa mengikuti Pendidikan Seni. Kontribusi utamanya adalah membangun model pedagogi yang tidak melihat identitas siswa secara tunggal. Penelitian internasional 2026 bahkan telah menghasilkan systematic review khusus mengenai interseksionalitas dalam Pendidikan Seni, sehingga konteks Indonesia dapat menawarkan kontribusi empiris dari masyarakat yang sangat plural.
Topik penelitian potensial:
- interseksionalitas dalam kelas seni;
- identitas budaya siswa;
- kesenjangan akses Pendidikan Seni;
- gender dan partisipasi dalam seni;
- seni bagi siswa penyandang disabilitas;
- identitas etnis dan representasi dalam kurikulum;
- pedagogi seni yang sensitif terhadap identitas majemuk.
4. Dialogisitas Guru–Siswa dalam Pendidikan Seni Multikultural: Model Pembentukan Identitas dan Agency Siswa di Sekolah Indonesia
Fokus penelitian ini adalah hubungan guru–siswa sebagai bagian dari proses pembentukan identitas, bukan hanya sebagai hubungan instruksional. Penelitian dapat menguji bagaimana dialog, apresiasi, kritik karya, kolaborasi, dan praktik artistik bersama memengaruhi keberanian siswa mengekspresikan identitasnya. Riset terbaru menunjukkan bahwa hubungan guru–siswa dapat menjadi ruang penting bagi negosiasi identitas melalui seni.
Topik penelitian potensial:
- dialog guru–siswa dalam kelas seni;
- student voice;
- agency siswa;
- identitas guru seni;
- hubungan pedagogis dan kreativitas;
- kritik karya sebagai dialog;
- relasi kuasa dalam pembelajaran seni;
- model dialogic art pedagogy.
5. Pengembangan Model Pendidikan Seni Berbasis Social-Emotional Learning untuk Meningkatkan Kreativitas, Empati, dan Kesejahteraan Siswa
Disertasi ini dapat menguji apakah praktik seni seperti menggambar, fotografi, kolase, musik, drama, atau refleksi visual dapat dirancang menjadi pedagogi yang secara simultan mengembangkan kreativitas dan kompetensi sosial-emosional. Penelitian 2026 menunjukkan bahwa pelatihan guru berbasis seni dapat mendukung kesadaran emosional, perubahan perspektif, dan perkembangan kolaboratif.
Topik penelitian potensial:
- seni dan emotional intelligence;
- seni dan empati;
- kreativitas dan kesejahteraan siswa;
- peer feedback dalam kelas seni;
- seni sebagai ruang ekspresi emosi;
- seni dan student belonging;
- model SEL berbasis Pendidikan Seni;
- pengembangan kesejahteraan guru seni.
6. Transformasi Pendidikan Seni melalui Pembelajaran Transdisipliner: Model Integrasi Seni, Sains, Teknologi, dan Persoalan Lokal dalam Kurikulum Indonesia
Penelitian ini dapat mengembangkan model transdisipliner yang tidak menjadikan seni sekadar “pelengkap” STEM, tetapi mempertahankan seni sebagai cara menghasilkan pengetahuan. Konteks Indonesia sangat strategis karena penelitian 2026 mengenai Kurikulum Merdeka menemukan adanya ruang transdisipliner melalui P5, pembelajaran berbasis proyek, integrasi pengetahuan, kreativitas, dan seni. Penelitian tersebut juga mengingatkan bahwa seni berisiko hanya menjadi instrumen untuk tujuan mata pelajaran lain jika nilai artistik dan kritisnya diabaikan.
Topik penelitian potensial:
- model STEAM Indonesia;
- seni dalam P5;
- project-based art education;
- seni dan literasi sains;
- seni, teknologi, dan matematika;
- pembelajaran berbasis persoalan lokal;
- asesmen transdisipliner;
- posisi epistemologis seni dalam Kurikulum Merdeka.
7. Digital Games sebagai Studio Virtual Pendidikan Seni: Pengembangan Model Game-Based Art Learning untuk Meningkatkan Kreativitas dan Kolaborasi Siswa
Disertasi ini dapat memindahkan konsep “studio seni” ke lingkungan digital. Siswa bukan hanya memainkan game, tetapi menggunakan ruang permainan untuk merancang, membuat, memodifikasi, memamerkan, dan mendiskusikan karya. Penelitian 2026 menunjukkan meningkatnya perhatian terhadap digital games sebagai alat pendidikan seni, sehingga konteks Indonesia dapat dikembangkan melalui game, platform digital, dan budaya visual yang dekat dengan generasi muda.
Topik penelitian potensial:
- game-based art learning;
- Minecraft atau dunia virtual untuk pendidikan seni;
- studio seni virtual;
- kolaborasi artistik dalam ruang digital;
- desain lingkungan virtual;
- game dan literasi visual;
- game lokal sebagai sumber pembelajaran seni;
- hubungan permainan digital dengan kreativitas.
8. Seni sebagai Medium Dialog Antarbudaya: Pengembangan Model Storytelling Visual Berbasis Budaya Lokal untuk Memperkuat Toleransi Siswa Indonesia
Indonesia menawarkan laboratorium sosial yang sangat kuat untuk penelitian ini karena keberagaman etnis, bahasa, tradisi, dan bentuk kesenian dapat dijadikan basis pembelajaran. Siswa dapat menggunakan seni visual, cerita, fotografi, video, pertunjukan, atau ilustrasi untuk mendokumentasikan pengalaman budaya dan kemudian mendialogkannya dengan kelompok lain. Pendekatan seperti ini dapat menggeser Pendidikan Seni dari sekadar reproduksi motif budaya menuju proses negosiasi makna dan identitas.
Topik penelitian potensial:
- storytelling visual lintas budaya;
- seni dan toleransi;
- pembelajaran seni antaretnis;
- seni dan identitas lokal;
- seni tradisional dalam pendidikan kontemporer;
- pertukaran karya antarwilayah;
- dialog budaya melalui proyek seni kolaboratif;
- seni sebagai medium rekonsiliasi sosial.
9. Dekolonisasi Kurikulum Pendidikan Seni Indonesia: Rekonstruksi Representasi Seni Nusantara dalam Pembelajaran Seni Kontemporer
Disertasi ini dapat mempertanyakan bagaimana sejarah seni, seniman, karya, dan pengetahuan artistik Indonesia direpresentasikan dalam kurikulum. Fokusnya bukan sekadar menambahkan lebih banyak materi “seni tradisional”, tetapi menguji siapa yang dianggap menghasilkan pengetahuan seni, perspektif mana yang dominan, dan bagaimana pengetahuan lokal dapat diposisikan sebagai sumber teori dan praktik. Ini dapat menghasilkan kontribusi teoretis yang kuat karena persoalan kanon, narasi dominan, dan pluralitas sedang menjadi perhatian besar dalam Pendidikan Seni internasional.
Topik penelitian potensial:
- dekolonisasi kurikulum seni;
- rekonstruksi sejarah seni Indonesia;
- seni Nusantara sebagai epistemologi;
- representasi seniman lokal;
- kanon seni dalam buku dan kurikulum;
- pengetahuan masyarakat adat;
- hubungan seni lokal dan seni global;
- pengembangan kurikulum seni berbasis plural epistemologies.
10. Pendidikan Seni untuk Membangun Ketahanan Sosial di Era Ketidakpastian: Model Creative Civic Learning bagi Generasi Muda Indonesia
Ide ini menggabungkan seni dengan persoalan sosial yang lebih luas: polarisasi, perubahan teknologi, krisis lingkungan, konflik identitas, dan ketidakpastian masa depan. Seni ditempatkan sebagai praktik untuk berdialog, membayangkan masa depan, bekerja bersama, dan merumuskan respons terhadap persoalan masyarakat. Dengan demikian, keluaran penelitian bukan hanya peningkatan kemampuan membuat karya, tetapi model Pendidikan Seni yang menghasilkan creative civic agency.
Topik penelitian potensial:
- seni dan kewargaan kreatif;
- seni dan ketahanan sosial;
- seni untuk dialog dalam masyarakat terpolarisasi;
- seni dan pendidikan perdamaian;
- future-oriented art education;
- seni dan partisipasi masyarakat;
- proyek seni untuk penyelesaian masalah sosial;
- seni sebagai medium civic engagement;
- pembelajaran seni berbasis skenario masa depan.







