Daftar sepuluh masalah berikut dimaksudkan sebagai sebagai peta problematik yang dapat digunakan untuk menemukan ruang disertasi lintas disiplin. Titik berangkatnya adalah gagasan tentang struktur keilmuan dalam Permendikbud Nomor 154 Tahun 2014 tentang Rumpun Ilmu Pengetahuan dan Teknologi serta Gelar Lulusan Perguruan Tinggi. Regulasi tersebut mendefinisikan rumpun ilmu pengetahuan sebagai kumpulan sejumlah pohon, cabang, dan ranting ilmu pengetahuan yang disusun secara sistematis. Lebih jauh, Pasal 2 membagi rumpun ilmu pengetahuan dan teknologi ke dalam enam rumpun, yaitu ilmu agama, humaniora, sosial, alam, formal, dan terapan. Regulasi yang sama menegaskan bahwa rumpun tersebut dapat dikembangkan menjadi pohon, cabang, atau ranting ilmu pengetahuan; bahkan perguruan tinggi dapat mengembangkannya sesuai dengan kaidah keilmuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk melalui strategi monodisiplin, multidisiplin, interdisiplin, dan transdisiplin. Dengan pengertian demikian, sebuah masalah penelitian tidak harus dipenjara di dalam batas satu program studi. Sebaliknya, satu persoalan yang penting dapat menjadi batang persoalan yang kemudian bercabang menjadi pertanyaan-pertanyaan ilmiah yang berbeda sesuai dengan perspektif epistemologis masing-masing rumpun ilmu.
Peta 10 Problem Worlds
Atas dasar pemahaman tersebut, daftar masalah dalam tulisan ini dikembangkan melalui eksplorasi berbasis fenomena terhadap penelitian-penelitian Indonesia yang memperoleh perhatian dalam ekosistem sains global, khususnya yang diberitakan oleh ScienceDaily.com. ScienceDaily digunakan sebagai sumber pemetaan awal terhadap fenomena dan arah perkembangan penelitian yang relevan dengan Indonesia. Berita mengenai Indonesia memperlihatkan rentang persoalan yang sangat luas: dari dinamika arus laut dan iklim, batas biogeografis Wallacea, penemuan spesies, perdagangan satwa, terumbu karang, teknologi dan transisi energi, perubahan lanskap, hingga kesehatan dan dampak ekonomi antargenerasi. Misalnya, penelitian terumbu karang menunjukkan bahwa pemulihan ekosistem dapat berkaitan langsung dengan ketahanan pangan, sementara penelitian mengenai mikrobioma karang memperlihatkan bahwa ekosistem tersebut juga menyimpan keragaman genetik dan potensi bioteknologi yang masih sangat sedikit diketahui. Penelitian lain mengenai seni cadas berusia 67,800 tahun di Sulawesi memperlihatkan bahwa kepulauan Indonesia juga menjadi ruang penting untuk memahami sejarah migrasi dan kreativitas manusia. Bahkan fenomena kontemporer seperti erupsi Anak Krakatau menunjukkan bagaimana satu peristiwa lokal dapat beresonansi ke sistem transportasi udara dan kualitas udara pada skala regional. Dari berbagai temuan tersebut kemudian dilakukan abstraksi problematik: fenomena-fenomena yang tampak berbeda dikelompokkan bukan berdasarkan objeknya semata, tetapi berdasarkan pertanyaan mendasar yang dapat diturunkan darinya. Hasilnya adalah sepuluh problem worlds—Earth System, Evolutionary World, Biodiversity Knowledge, Human–Wildlife Market, Blue Economy, Green Technology Paradox, Landscape Transformation, Society and Space, Human Body, dan Generational Change—yang selanjutnya dipertemukan dengan enam rumpun ilmu untuk menghasilkan kemungkinan agenda disertasi yang lebih beragam dan tidak terjebak pada pengulangan tema yang sama.
Adapun masalah-masalah urgen tersebut mencakup:
1. Indonesia Sebagai Pengatur Iklim Regional
Posisi kepulauan Indonesia di antara Samudra Pasifik dan
Hindia membuatnya menjadi bagian dari sistem yang memindahkan panas, massa air,
uap air, dan energi antarsamudra. Arus lintas Indonesia (Indonesian
Throughflow), eddy, Indian Ocean Dipole, El Niño–La Niña, dan
perubahan monsun saling berinteraksi.
Masalah urgen: kita masih menghadapi kesenjangan dalam
memahami bagaimana perubahan dinamika laut Indonesia diterjemahkan menjadi
perubahan cuaca ekstrem, produktivitas laut, kekeringan, dan banjir di
Indonesia.
Paradoks: Indonesia sering dipandang sebagai penerima
dampak iklim, padahal secara fisik ia juga merupakan bagian dari mekanisme
yang mengatur distribusi panas dan kelembapan regional.
2. Mengapa Laut yang Dekat Tetap Menjadi Penghalang
Evolusi?
Fenomena “tidak ada kanguru di Bali dan tidak ada harimau di
Australia” memperlihatkan bahwa jarak geografis tidak identik dengan
konektivitas biologis.
Indonesia memiliki Wallace Line, Weber Line dan berbagai
zona biogeografis yang memperlihatkan bahwa laut dapat menjadi penghalang
dispersal selama jutaan tahun.
Masalah urgen: kita masih perlu memahami bagaimana batas
geografis, perubahan muka laut, iklim, dan kemampuan dispersal menghasilkan
pola biodiversitas Indonesia saat ini.
Paradoks: pulau-pulau Indonesia tampak seperti jaringan yang
berdekatan, tetapi secara evolusioner dapat berfungsi sebagai dunia biologis
yang terpisah.
3. Biodiversitas yang Ada tetapi Belum Kita Ketahui
Indonesia dapat menghadapi persoalan yang lebih mendasar
daripada kehilangan spesies: kita mungkin belum mengetahui sepenuhnya apa yang
sedang kita kehilangan.
Penemuan spesies burung, shrew, katak dan fauna lainnya
menunjukkan adanya taxonomic deficit, distributional gap dan biodiversity
data gap.
Masalah urgen: bagaimana konservasi dapat dilakukan secara
rasional jika basis pengetahuan tentang objek yang hendak dikonservasi sendiri
belum lengkap? Bagaimana melindungi sesuatu yang bahkan belum sepenuhnya kita
ketahui?
4. Mengapa Perlindungan Satwa Tidak Menghilangkan
Permintaan Pasar?
Indonesia memiliki persoalan perdagangan burung, reptil,
mamalia, dan satwa lainnya. Namun pendekatan konservasi sering berfokus pada
supply side: menangkap pemburu, menyita satwa, menutup perdagangan.
Masalah yang lebih mendasar adalah demand side.
Mengapa seseorang membeli burung tertentu karena warnanya?
Mengapa kelangkaan justru dapat meningkatkan nilai? Mengapa status sosial dapat
melekat pada kepemilikan satwa?
Paradoks: semakin langka suatu satwa, secara teori semakin
besar alasan untuk melindunginya; tetapi dalam pasar tertentu, kelangkaan
justru dapat menjadi sumber nilai.
5. Laut Sebagai Ruang Ekonomi sekaligus Ruang Kehidupan
Indonesia ingin mengembangkan ekonomi biru: perikanan,
pariwisata, transportasi, energi laut, mineral, konservasi dan perdagangan.
Namun semua aktivitas tersebut menggunakan ruang laut yang
sama.
Masalah urgen: bagaimana mengelola laut ketika kepentingan
ekonomi, ekologi, masyarakat pesisir dan mobilitas satwa semuanya membutuhkan
ruang yang sama?
Bagaimana manusia membagi laut yang sama untuk tujuan yang
saling bersaing?
6. Ketergantungan Baru Akibat Solusi Hijau
Transisi energi membutuhkan teknologi baru: baterai,
kendaraan listrik, jaringan listrik, penyimpanan energi, mineral kritis dan
berbagai teknologi rendah karbon.
Tetapi Indonesia menghadapi dua masalah sekaligus:
teknologi tersedia tetapi tidak selalu dapat ditransfer, dan
teknologi hijau sendiri membutuhkan material serta
infrastruktur baru.
Paradoks sentralnya:
Bagaimana jika teknologi yang diperlukan untuk menyelamatkan
lingkungan justru membutuhkan eksploitasi lingkungan baru?
7. Perubahan Lanskap yang Lebih Cepat daripada Kemampuan
Adaptasi Sistem Sosial dan Ekologis
Hutan, gambut, pesisir, sungai dan lahan pertanian terus
berubah akibat pembangunan, perkebunan, pertambangan, urbanisasi dan restorasi.
Di sini unit of analysis-nya adalah landscape as a
system.
8. Mengapa Jarak Fisik Tidak Selalu Menjelaskan
Ketimpangan?
Ini merupakan problem khas negara kepulauan.
Dua komunitas dapat hanya dipisahkan beberapa puluh
kilometer, tetapi memiliki akses yang sangat berbeda terhadap pendidikan, rumah
sakit, pasar, pekerjaan, internet, pelabuhan dan pemerintahan.
Sebaliknya, komunitas yang secara geografis jauh dapat
sangat terhubung melalui teknologi dan jaringan ekonomi.
Paradoksnya:
Pulau memisahkan manusia secara geografis, tetapi teknologi,
perdagangan dan transportasi dapat menghubungkan mereka secara sosial.
9. Penyakit Modern sebagai Produk Interaksi Tubuh dan
Lingkungan
Di sini kita meninggalkan laut, hutan, biodiversitas dan
tata ruang.
Berita tentang metabolisme dan kanker, konsumsi natrium,
pola makan, paparan lingkungan, dan perubahan gaya hidup dapat digabung menjadi
pertanyaan yang lebih mendasar:
mengapa tubuh manusia yang sama menghasilkan konsekuensi
kesehatan yang berbeda dalam lingkungan sosial dan ekologis yang berbeda?
“Bagaimana tubuh, lingkungan dan masyarakat bersama-sama
menghasilkan penyakit?”
10. Krisis Singkat Yang Mengubah Kehidupan Satu Generasi
Krisis ekonomi 1997–1998 memberikan contoh penting: suatu
guncangan dapat berlangsung relatif singkat, tetapi pengalaman pada masa
tertentu dalam kehidupan seseorang dapat memengaruhi pendidikan, pekerjaan,
kesehatan, pendapatan dan keputusan keluarga bertahun-tahun kemudian.
Masalah ini dapat diperluas pada pandemi, krisis pangan,
bencana ekonomi, dan berbagai macro shocks.
Paradoksnya sangat kuat:
Krisis dapat berlangsung beberapa tahun, tetapi konsekuensinya dapat berlangsung puluhan tahun.
10 Ide Disertasi Indonesia Berdasarkan Enam Rumpun Ilmu
Ilmu Alam
- Earth System
Dinamika Arus Lintas Indonesia dan Perannya dalam Redistribusi Panas serta Variabilitas Iklim Regional - Evolutionary World
Dinamika Biogeografis Wallacea dan Mekanisme Pembentukan Batas Distribusi Fauna di Kepulauan Indonesia - Biodiversity Knowledge
Keanekaragaman Hayati Tersembunyi Indonesia: Integrasi Taksonomi, Genetika dan Ekologi untuk Mengungkap Biodiversitas yang Belum Terdokumentasi - Human–Wildlife Market
Karakteristik Biologis Satwa sebagai Determinan Nilai Ekonomi dalam Perdagangan Satwa Liar Indonesia - Blue Economy
Interaksi Ekologis antara Aktivitas Ekonomi dan Dinamika Populasi Megafauna Laut di Perairan Indonesia - Green Technology Paradox
Jejak Material dan Dampak Ekologis Teknologi Energi Rendah Karbon dalam Transisi Energi Indonesia - Landscape Transformation
Transformasi Fungsi Ekologis Lanskap Tropis Indonesia akibat Perubahan Tutupan dan Penggunaan Lahan - Society and Space
Dinamika Geomorfologi Kepulauan dan Pembentukan Pola Aksesibilitas Wilayah Indonesia - Human Body
Interaksi Metabolisme, Nutrisi dan Paparan Lingkungan dalam Pembentukan Risiko Penyakit Metabolik - Generational Change
Dampak Jangka Panjang Paparan Krisis Lingkungan Masa Kanak-Kanak terhadap Trajektori Kesehatan Generasi Indonesia
Ilmu Formal
- Earth System
Pemodelan Spasial-Temporal Nonlinier Interaksi Indian Ocean Dipole, ENSO dan Arus Lintas Indonesia - Evolutionary World
Pemodelan Probabilistik Dispersal Spesies dan Pembentukan Batas Biogeografis di Wallacea - Biodiversity Knowledge
Pengembangan Model Probabilistik untuk Memprediksi Biodiversitas yang Belum Terdeteksi di Indonesia - Human–Wildlife Market
Pemodelan Jaringan Permintaan dan Risiko Perdagangan Satwa Liar di Indonesia - Blue Economy
Optimasi Multiobjektif Tata Ruang Laut Indonesia untuk Menyeimbangkan Ekonomi, Konservasi dan Ketahanan Ekologis - Green Technology Paradox
Model Dinamik Ketergantungan Teknologi dan Jalur Transisi Energi Indonesia - Landscape Transformation
Pemodelan Transisi Lanskap dan Prediksi Perubahan Fungsi Ekosistem di Indonesia - Society and Space
Pemodelan Jaringan Spasial untuk Mengukur Ketimpangan Konektivitas Antarwilayah Kepulauan Indonesia - Human Body
Pemodelan Multilevel Risiko Penyakit berdasarkan Interaksi Faktor Metabolik, Lingkungan dan Perilaku - Generational Change
Pemodelan Life-Course dan Estimasi Efek Jangka Panjang Guncangan Makroekonomi terhadap Mobilitas Antargenerasi
Ilmu Sosial
- Earth System
Dampak Variabilitas Sistem Iklim Kepulauan Indonesia terhadap Ketahanan Ekonomi Masyarakat Pesisir - Evolutionary World
Implikasi Fragmentasi Biogeografis terhadap Pengelolaan Sumber Daya dan Konservasi Berbasis Komunitas di Wallacea - Biodiversity Knowledge
Kesenjangan Pengetahuan Biodiversitas dan Tata Kelola Konservasi di Indonesia - Human–Wildlife Market
Mekanisme Sosial-Ekonomi Pembentukan Permintaan terhadap Satwa Liar di Indonesia - Blue Economy
Kontestasi Ruang dan Distribusi Manfaat Ekonomi dalam Implementasi Ekonomi Biru Indonesia - Green Technology Paradox
Mengapa Teknologi Hijau Tidak Teradopsi? Institusi, Kapabilitas dan Ketergantungan Teknologi di Indonesia - Landscape Transformation
Ekonomi Politik Transformasi Lanskap dan Distribusi Manfaat Pembangunan di Indonesia - Society and Space
Ketimpangan Konektivitas dan Reproduksi Ketidaksetaraan Sosial di Wilayah Kepulauan Indonesia - Human Body
Ketimpangan Sosial dan Pembentukan Lingkungan Obesogenik pada Masyarakat Indonesia - Generational Change
Guncangan Ekonomi dan Reproduksi Ketimpangan Antargenerasi di Indonesia
Ilmu Humaniora
- Earth System
Pengetahuan Ekologis Masyarakat Kepulauan dalam Memaknai Perubahan Musim dan Laut yang Berubah - Evolutionary World
Manusia, Hewan dan Ruang Kepulauan: Konstruksi Budaya atas Batas-Batas Biogeografis Indonesia - Biodiversity Knowledge
Dari Spesies yang Diketahui ke Spesies yang Tak Terlihat: Epistemologi Pengetahuan Keanekaragaman Hayati Indonesia - Human–Wildlife Market
Keindahan, Status dan Kepemilikan: Konstruksi Makna Satwa dalam Budaya Konsumsi Indonesia - Blue Economy
Laut sebagai Ruang Kehidupan: Perubahan Makna Laut dalam Masyarakat Pesisir Indonesia - Green Technology Paradox
Gagasan Kemajuan dan Teknologi: Kritik Filosofis terhadap Paradoks Transisi Hijau - Landscape Transformation
Lanskap sebagai Memori: Perubahan Makna Ruang akibat Transformasi Lingkungan Indonesia - Society and Space
Jarak, Ruang dan Rasa Keterhubungan dalam Pengalaman Masyarakat Kepulauan Indonesia - Human Body
Tubuh Sehat dan Tubuh Ideal: Konstruksi Budaya tentang Kesehatan dalam Masyarakat Indonesia - Generational Change
Ingatan Generasi Krisis: Narasi, Memori Kolektif dan Pembentukan Identitas Pascaguncangan Ekonomi
Ilmu Agama
- Earth System
Etika Keagamaan tentang Relasi Manusia dan Alam dalam Menghadapi Perubahan Sistem Iklim Kepulauan - Evolutionary World
Relasi Etis Manusia dan Keanekaragaman Hayati Kepulauan dalam Perspektif Ekoteologi - Biodiversity Knowledge
Pengetahuan tentang Makhluk Hidup dan Tanggung Jawab Manusia terhadap Keanekaragaman Ciptaan - Human–Wildlife Market
Etika Kepemilikan dan Pemanfaatan Satwa dalam Tradisi Keagamaan Indonesia - Blue Economy
Etika Pemanfaatan Laut dan Keadilan Antargenerasi dalam Pembangunan Ekonomi Biru - Green Technology Paradox
Etika Teknologi dan Tanggung Jawab Ekologis dalam Transisi Energi Berkelanjutan - Landscape Transformation
Perubahan Lanskap dan Etika Pengelolaan Tanah dalam Perspektif Keagamaan - Society and Space
Keadilan Spasial dan Distribusi Akses Pelayanan Dasar dalam Perspektif Etika Keagamaan - Human Body
Konsep Kesehatan, Moderasi Konsumsi dan Pemeliharaan Tubuh dalam Tradisi Keagamaan Indonesia - Generational Change
Ketahanan Keluarga dan Makna Kesulitan Ekonomi Antargenerasi dalam Perspektif Keagamaan
Ilmu Terapan
- Earth System
Pengembangan Sistem Prediksi Risiko Hidrometeorologi Berbasis Dinamika Laut Indonesia untuk Ketahanan Wilayah Pesisir - Evolutionary World
Perancangan Strategi Konservasi Berbasis Konektivitas untuk Mempertahankan Dispersal Satwa di Lanskap Kepulauan - Biodiversity Knowledge
Pengembangan Platform Integratif Biodiversity Intelligence untuk Mendukung Prioritas Konservasi Indonesia - Human–Wildlife Market
Perancangan Intervensi Perubahan Perilaku Konsumen untuk Mengurangi Permintaan Satwa Liar Ilegal - Blue Economy
Pengembangan Sistem Pendukung Keputusan Tata Ruang Laut Berbasis Ekologi, Ekonomi dan Aktivitas Maritim - Green Technology Paradox
Pengembangan Model Transfer dan Adopsi Teknologi Rendah Karbon untuk Industri Indonesia - Landscape Transformation
Perancangan Kerangka Restorasi Lanskap Multifungsi untuk Mengintegrasikan Produksi, Konservasi dan Ketahanan Ekologis - Society and Space
Pengembangan Model Konektivitas Multimoda untuk Meningkatkan Akses Pelayanan Dasar di Wilayah Kepulauan - Human Body
Pengembangan Model Intervensi Presisi untuk Pencegahan Penyakit Metabolik Berbasis Profil Risiko Individu dan Lingkungan - Generational Change
Pengembangan Model Kebijakan Intervensi Life-Course untuk Mencegah Dampak Jangka Panjang Krisis terhadap Generasi Muda







