A. Pendahuluan
Bab ini menyajikan dan memeriksa secara kritis temuan penelitian yang bersifat spesifik kelas dan guru sesuai instrumen elisitasi data. Bab ini memperluas pembahasan hasil di bab 4. Seperti bab 4, ia harus dibaca dengan berpanduan pada lampiran ekstensif disertasi dengan penekanan khusus pada Lampiran 11.
B. Struktur Bab dan Pembahasan
Alasan membuat bab khusus untuk hasil penelitian penelitian spesifik kelas dan guru ada dua.
Pertama, partisipan guru dan kelas mereka dalam penelitian didukung secara aktif untuk mendorong kreativitas mereka dalam menggunakan ELP dalam kelas mereka. Karenanya partisipan proyek ini merancang ELP agar sesuai dengan kelas yang mereka kelola, dan peneliti merasa penting untuk memeriksa dan membahas penemuan bagaimana berbagai implementasi belajar dan mengajar efektif ELP dapat terjadi dalam masing-masing setting.
Kedua, substrata umum (norma kelompok pertemanan di dalam sebuah kelas, peraturan sekolah, derajat dukungan administrasi dari kepala sekolah dan wali kelas, dukungan kelompok pertemanan guru, dsb) dan keseluruhan lingkungan dari setiap kelas penelitian cukup bervariasi. Karenanya ia mempengaruhi bagaimana PBE dimediasi dari guru ke siswanya dan mempengaruhi hasil sehingga hasil tidak dapat dibahas secara bermakna bila disajikan dalam bentuk agregat seperti yang digunakan dalam bagian pembahasan di bab 4. Sebagai hasilnya, bagian kedua pembahasan, yaitu bab 5, perlu untuk dibuat. Bagian ini membahas penemuan yang dipecah berdasarkan kelas (dan berarti juga berdasarkan sekolah dan guru).
Pembahasan di bab ini dibagi atas dua bagian. Bagian pertama berada dalam bagian C dibawah dan menyajikan hasil kuantitatif spesifik kelas yang sudah disajikan dalam bab 4. Bagian kedua pembahasan terdiri dari tujuh belas bagian mengandung satu bagian untuk masing-masing kelas penelitian dimana hasil yang valid berhasil dikumpulkan dengan semua instrumen penelitian. Di bagian-bagian tersebut peneliti mencoba melakukan integrasi hasil yang paling besar berhubungan dengan kelas. Sayangnya, dalam keterbatasan ruang, pembahasan totalitas tiap kelas tidaklah mungkin. Walau begitu, harapan peneliti adalah bagian ini dapat membantu pembaca memahami substrat penelitian ini secara lebih baik.
Urutan penyajian kelas penelitian bersifat simptomatik dan tidak menunjukkan ranking apapun, karena ia mengikuti kesesuaian dengan nomer urut kelas dalam database SPSS. Nomer indeks ini diberikan saat penyandian respon di awal tahun dan sebagai hasil hanya menunjukkan urutan pemberian kuesioner di sekolah-sekolah penelitian. Terakhir, hasil yang berhubungan dengan dua kelas (#15 dan #18) tidak akan dibahas dalam bagian mereka karena tidak ada temuan yang cukup valid untuk dijadikan pembahasan spesifik kelas yang koheren dan komprehensif.
C. Temuan Kuantitatif
Seperti telah disebutkan dalam pembahasan temuan kuantitatif di bab 4, sebagian instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini dipakai oleh sampel pembelajar tidak menghasilkan kekuatan statistik yang cukup untuk memberikan kesimpulan pada basis spesifik kelas. Sebagai hasilnya, instrumen tersebut tidak akan dibahas dalam bagian ini. Ia mencakup hasil terkait hasil terkait IPerPos dan KRD-P, dimana uji normalitas Lavene menunjukkan ketiadaan umum variabilitas kelas respon yang cukup. Lebih jauh, tidak semua instrumen penelitian berbasis POP akan dibahas disini, karena sebuah pemeriksaan spesifik kelas prinsipil tidak hanya akan hati-hati dalam menerapkan sifat instrumen yang digunakan, namun juga memerlukan ruang pembahasan yang lebih luas daripada yang bisa dicakup dalam sebuah disertasi. Dibawah ini penyajian temuan terkait dengan instrumen penelitian kuantitatif yang tersisa ditawarkan, dalam bentuk tabel-tabel rangkuman yang disertai dengan komentar singkat. Lebih jauh, sebuah matriks inter korelasi dan analisa reliabilitas terkait dengan instrumen penelitian ini telah diberikan dalam bab 4, dan tidak ada lagi komentar lanjutan dibuat disini.
Berdasarkan fakta kalau semua temuan kuantitatif dalam bab ini spesifik kelas, peneliti cukup mendeskripsikannya disini dan membahasnya lebih menyeluruh dalam bagian yang berhubungan dengan kelas yang diwakilinya. Menurut pendapat peneliti, hal ini menawarkan integrasi temuan kuantitatif dan kualitatif lebih baik terkait tiap kelas, dan dapat membantu pembaca mencapai pemahaman yang lebih komprehensif mengenai karakteristik tiap kelas penelitian dan bagaimana mereka dipengaruhi dengan penggunaan PBE.
Seperti dalam bab 4, digunakan ANOVA antar kelompok satu arah. Tiap baris tabel ANOVA yang disajikan di bawah mengandung rangkuman data yang dikumpulkan dari satu atau lebih ANOVA satu arah yang memeriksa perbedaan antar kelas. Dalam kolom berurutan, terkandung nama skala yang diberikan, rata-rata teramati, deviasi standar skala (SD), derajat kebebasan yang dapat diterapkan (DF), derajat perbedaan teramati dalam rata-rata kelompok berbeda yang diperiksa (F) diikuti dengan variabel pengelompokkan yang menentukan kelompok yang berkaitan. Dua kolom tambahan memberikan signifikansi ANOVA (p) yang memberi tahu mengenai tingkat keyakinan dimana kita dapat mengklaim apakah sampel pengamatan tersebut terkandung dalam populasi yang diperiksa atau tidak dan dapat digunakan untuk membuat kesimpulan statistik mengenai populasi, dan akhirnya eta kuadrat (H2), sebuah ukuran pengaruh hasil (yaitu perbedaan antar kelompok) yang dibahas.
Nama skala | Rata-rata | SD | DF | F (kelas) | P | H2 |
KRDLext | 2.0321 | 0.6270 | 18,183 | 3.2909 | 0.008 | 0.164 |
KRDLinr | 2.0007 | 0.6232 | 18,183 | 3.2546 | 0.008 | 0.162 |
KRDLide | 1.8839 | 0.6088 | 18,183 | 3.1199 | 0.007 | 0.154 |
KRDLint | 2.2519 | 0.6541 | 18,183 | 3.5445 | 0.01 | 0.177 |
KRDAext | 2.2898 | 0.6587 | 18,183 | 3.5882 | 0.01 | 0.179 |
KRDAinr | 1.0151 | 0.5019 | 18,183 | 2.1174 | 0.0002 | 0.101 |
KRDAide | 2.1795 | 0.6452 | 18,183 | 3.4610 | 0.009 | 0.173 |
KRDAint | 1.0429 | 0.5053 | 18,183 | 2.1495 | 0.0004 | 0.103 |
Tabel 5.1: orientasi motivasional KRD-A: Tinjauan ANOVA pengaruh kelas untuk putaran pertama
Tabel 5.1 mengandung rangkuman hasil dari delapan ANOVA antar kelompok satu arah. Ia menunjukkan pengaruh teramati kelas penelitian pada penelitian dalam ronde a sebagaimana diukur oleh KRD-B dan KRD-A. Sebagai mana dapat dilihat dari kolom DF (DF=40, 183), 184 responden dalam 19 kelas melaporkan penemuan ini. Seperti dapat diamati dalam kolom P di atas, semua F berkaitan dengan semua orientasi motivasi tampak ssangat signifikan secara statistik (jangkauan p 0.0002 – 0.01). Karenanya kita dapat menyimpulkan kalau ada perbedaan kelas signifikan secara statistik dalam respon dalam ronde pertama dalam hal orientasi motivasi intirinsik, teridentifikasi, terintrojeksi dan ekstrinsik. Dengan mengikuti perbandingan antar kelompok ganda post hoc Bonferroni pada semua ANOVA, perbedaan signifikan berikut teramati di antara kelompok.
Mengenai orientasi motivasi ekstrinsik dalam PB, perbedaan terlacak pada fakta kalau pembelajar di kelas #15 memiliki tingkat motivasi lebih tinggi daripada pembelajar di kelas lain (perbedaan statistik signifikan antara kelas penelitian berikut sesuai nomor urutnya: #15-#13 p = 0.040, #15-#18 p=0.039).
Mengenai orientasi motivasi introjeksi dalam PB, perbedaan terlacak karena fakta kalau pembelajar di kelas #19 memiliki tingkat motivasi introjeksi yang lebih tinggi daripada pembelajar di kelas lain (perbedaan signifikan statistik: #19-#1 p=0.034).
Mengenai orientasi motivasional teridentifikasi dalam PB, perbedaan terlacak pada fakta kalau pembelajar di kelas #17 memiliki tingkat morivasi teridentifikasi lebih rendah daripada pembelajar di kelas lain (perbedaan signifikan statistik: #17-#2 p=0.048; -#13 p=0.050; -#11 p=0.002).
Mengenai orientasi motivasional intrinsik dalam PB, perbedaan terlacak pada fakta kalau pembelajar dalam kelas #12 dan #4 memiliki tingkat motivasi intrinsik lebih tinggi daripada pembelajar di kelas lain (perbedaan signifikan statistik: #12-#1 p=0.045; #12-#7 p=0.003; #12-#15 p=0.035; #4-#5 p=0.035).
Perbandingan antar kelompok Bonferroni dalam hubungannya dengan motivasi di sekolah secara umum menunjukkan perbedaan yang serupa antar kelas mengenai motivasi di sekolah secara umum. Lebih khususnya:
Mengenai orientasi motivasi ekstrinsik secara umum di sekolah, perbedaan terlacak pada fakta kalau pembelajar di kelas #15 memiliki tingkat motivasi lebih tinggi daripada pembelajar di kelas lain (perbedaan statistik signifikan antara kelas penelitian berikut sesuai nomor urutnya: #15-#2 p = 0.003, #15-#3 p=0.018; #15-#5 p = 0.027, #15-#6 p=0.003; #15-#11 p = 0.042, #15-#12 p=0.023; #15-#13 p = 0.048, #15-#18 p=0.033, #15-#19 p = 0.047)
Mengenai orientasi motivasi introjeksi secara umum di sekolah, perbedaan terlacak karena fakta kalau pembelajar di kelas #19 memiliki tingkat motivasi introjeksi yang lebih tinggi daripada pembelajar di kelas lain (perbedaan signifikan statistik: #19-#2 p=0.026; #19-#2 p = 0.015).
Mengenai orientasi motivasional teridentifikasi secara umum di sekolah, perbedaan terlacak pada fakta kalau pembelajar di kelas #17 memiliki tingkat morivasi teridentifikasi lebih rendah daripada pembelajar di kelas lain (perbedaan signifikan statistik: #17-#2 p=0.022; -#10 p=0.023; -#16 p=0.005; -#19 p=0.036).
Dan seterusnya ….
No comments:
Post a Comment