Studi kasus adalah salah satu pendekatan penelitian yang dapat digunakan peneliti saat membuat disertasi. Studi kasus, sesuai namanya, fokus pada suatu kasus saja. Tapi dalam disertasi, kita tidak bisa hanya menyebutkan sesederhana ini. Ada definisi yang spesifik dan harus dikutip verbatim. Kebanyakan orang akan merujuk pada buku tertentu yang membahas spesifik tentang Studi Kasus seperti buku Yin atau buku yang lebih luas terkait metode penelitian, khususnya metode campuran (mixed method), seperti Guba dan Lincoln. Walau begitu, seorang kandidat doktor wajib up to date dengan perkembangan di bidang ilmu pengetahuan. Selain itu, kandidat doktor juga semestinya lebih mengutamakan artikel jurnal daripada buku. Masalahnya, buku tidak memiliki standar kualitas yang jelas, sementara artikel jurnal memiliki standar yang ketat seperti SINTA atau Scopus. Artikel jurnal juga menggambarkan dinamika pemikiran yang lebih ilmiah dan multi-perspektif daripada buku.
Nah kalau kita memilih jurnal mana yang dapat dirujuk untuk metode penelitian, jurnal yang paling kami rekomendasikan adalah International Journal of Qualitative Methods. Jurnal ini masuk Scopus kategori Q1. Pun ia bukan terbitan dari penerbit yang dicurigai paper-milling ataupun predator. Ia adalah jurnal dari grup Sage yang terkenal fokus pada bidang humaniora dan sosial.
Dalam jurnal ini, ada satu paper yang secara khusus membahas definisi studi kasus, yaitu paper dari van Wynsberghe dan Khan (2007) berjudul Redefining Case Study. Dalam paper ini, kedua ilmuan membandingkan berbagai definisi dan penggunaan studi kasus, lalu menyimpulkan kalau studi kasus itu bukan metode, bukan metodologi, dan bukan juga desain penelitian, tetapi pendekatan heuristik. Secara spesifik, studi kasus merupakan pendekatan heuristik lintas-paradigma dan lintas-disiplin yang digunakan untuk mengkaji suatu fenomena secara mendalam melalui pembatasan yang jelas terhadap konteks, waktu, ruang, dan unit analisis, dengan memanfaatkan berbagai sumber bukti untuk memahami kompleksitas fenomena dalam konteks alamiahnya (VanWynsberghe & Khan, 2007). Pendekatan heuristik adalah cara atau kerangka untuk membantu peneliti menemukan, memperjelas, dan memahami fenomena yang diteliti, bukan sebagai prosedur penelitian yang sudah memiliki langkah-langkah baku seperti eksperimen atau survei. Maka tidak heran kalau dalam studi kasus, kita juga melakukan survey.
Jadi, menurut Van Wynsberghe dan Khan, studi kasus itu bersifat lintas paradigma dan lintas disiplin. Dahulu kita umumnya terbiasa diajarkan kalau studi kasus itu merujuk pada metode yang diberikan oleh Yin. Tetapi itu hanya dari satu paradigma saja. Salah seorang klien kami yang dulu berkuliah di Inggris dulu (sekarang telah lulus) pernah mengatakan bahwa promotornya menyuruhnya untuk berpegang teguh pada satu pengarang saja dalam metode penelitian. Alasannya karena studi kasus itu sangat beragam dalam paradigmanya. Kalau kita mencampurkan perspektif dari berbagai pengarang, maka kita mencampurkan pula paradigmanya dan ini tidak diterima di kampusnya. Nah Yin itu adalah peneliti dari paradigma post-positivisme yang menekankan data kuantitatif. Van Wynsberghe dan Khan menyebutkan bahwa studi kasus juga dapat dilihat dari paradigma teori kritis dan paradigma interpretivisme. Stake adalah pentolan studi kasus yang berangkat dari paradigma interpretivisme. Flyvbjerg berangkat dari paradigma teori kritis.
Jenis-Jenis Studi Kasus
Saat memberikan konsultasi tentang metode studi kasus, seringkali klien kami diminta oleh promotor atau penguji untuk menspesifikasi penelitian mereka termasuk jenis studi kasus apa. Memang ada sejumlah jenis studi kasus. Yin misalnya, membagi studi kasus berdasarkan tujuannya menjadi tiga: eksploratoris, deskriptif, atau eksplanatoris.
Studi kasus eksploratoris: mengeksplorasi pertanyaan atau fenomena yang masih belum jelas
Studi kasus deskriptif: memberikan deskripsi mendalam mengenai fenomena dalam konteksnya
Studi kasus eksplanatoris: menjelaskan bagaimana atau mengapa suatu fenomena terjadi
Selain berdasarkan tujuan, studi kasus juga dapat dibagi berdasarkan jumlah kasus. Dalam hal ini, ada studi kasus tunggal dan studi kasus jamak. Studi kasus tunggal hanya menggunakan satu kasus sebagai fokus penelitian. Studi kasus jamak menggunakan beberapa kasus yang dibandingkan. Contoh studi kasus tunggal adalah studi kasus mengenai implemasi AI entpada satu lembaga PAUD yang menjadi pionir penggunaan AI. Studi kasus jamak misalnya studi kasus komparatif mengenai implementasi AI pada tiga lembaga pendidikan dengan karakteristik berbeda. Ini berbeda dengan survey yang menggunakan banyak responden, minimal 30 orang. Orang itu bukan kasus, tapi unit analisis.
Salah seorang klien kami pernah berkonsultasi apakah harus menggunakan satu lokasi atau tiga lokasi dalam mengumpulkan data survey. Dalam kasus seperti ini, kita harus memilih tiga lokasi agar tetap dalam kerangka metodologi survey kuantatif. Jika kita reduksi menjadi satu lokasi saja, maka lokasi tersebut menjadi kasus dan pendekatan penelitian menjadi studi kasus, bukan lagi survey. Ini, tentunya dalam perspektif Yin.
Reliabilitas dan Validitas Studi Kasus
Karena memang kebanyakan penelitian menggunakan studi kasus dalm perspektif Yin, maka kami menjabarkannya dalam perspektif tersebut. Studi dakslam paradigma post-positivisme memang sangat menekankan reliabilitas dan validitas. Yin membedakan validitas menjadi tiga jenis: validitas konstruk, validitas internal, dan valdiitas eksternal. Berikut dijelaskan satu persatu taktik untuk mencapainya dalam studi kasus menurut Yin.
Validitas konstruk = gunakan banyak sumber bukti, berikan rantai bukti, dan serahkan draft laporan penelitian ke informan kunci untuk direview. Dua taktik pertama dijalankan saat pengumpulan data sementara taktik tinjauan informan itu setelah analisis data dan penulisan laporan hasil penelitian.
Validitas internal = lakukan pencocokan pola atau pembangunan penjelasan atau analisis deret waktu. Ini dilakukan saat analisis data.
Validitas eksternal = gunakan logika replikasi dalam banyak studi kasus. Ini dibuat saat merancang riset.
Reliabilitas = gunakan protokol penelitian dan kembangkan basis data studi kasus. Keduanya dilakukan saat pengumpulan data.
Jadi, studi kasus dalam penelitian disertasi bukan sekadar penelitian terhadap satu kasus, melainkan pendekatan heuristik untuk memahami fenomena secara mendalam dalam konteks alamiahnya. Perspektif Van Wynsberghe dan Khan (2007) menegaskan sifatnya yang lintas paradigma dan lintas disiplin, sedangkan Yin, Stake, dan Flyvbjerg merepresentasikan perspektif post-positivisme, interpretivisme, dan teori kritis yang memiliki konsekuensi metodologis berbeda. Karena itu, peneliti perlu menentukan paradigma secara konsisten, kemudian menetapkan jenis studi kasus berdasarkan tujuan dan jumlah kasus, serta menyesuaikan strategi validitas dan reliabilitas dengan paradigma yang digunakan. Dengan demikian, studi kasus yang kuat bukan ditentukan semata oleh jumlah lokasi atau kasus, tetapi oleh keselarasan antara paradigma, pertanyaan penelitian, kasus, unit analisis, sumber bukti, analisis data, dan kriteria kualitas penelitian.
Referensi
Ebneyamini, S., & Sadeghi Moghadam, M. R. (2018). Toward developing a framework for conducting case study research. International journal of qualitative methods, 17(1), 1609406918817954.
Flyvbjerg, B. (2001). Making social science matter: Why social inquiry fails and how it can succeed again. Cambridge, UK: Cambridge University Press.
Stake, R. E. (1995). The art of case study: Thousand Oaks, CA: Sage.
Van Wynsberghe, R., & Khan, S. (2007). Redefining case study. International journal of qualitative methods, 6(2), 80-94.
Yin, R. K. (2003). Case study research: Design and methods. London: Sage.
