Perkembangan Penelitian Ilmu Pendidikan 2011–2026
Penelitian ilmu pendidikan pada 2011–2026 menggambarkan perluasan medan penelitian: dari perhatian pada efektivitas pembelajaran dan pengukuran hasil pendidikan menuju penelitian yang semakin memperhatikan konteks sosial, ketimpangan, hubungan riset-praktik, kompleksitas sistem pendidikan, teknologi digital, kecerdasan artifisial, serta kondisi sosial yang berada di luar sekolah tetapi memengaruhi proses belajar.
2011–2013 — Perluasan Cara Memahami Pembelajaran
Pada awal periode, penelitian pendidikan mulai semakin kuat menghubungkan proses belajar, konteks sosial, inovasi pembelajaran, dan desain penelitian. Design-Based Research menjadi salah satu pendekatan penting karena penelitian tidak hanya mengamati proses pendidikan, tetapi juga merancang, menguji, dan memperbaiki intervensi dalam konteks nyata. Pada saat yang sama, perhatian terhadap perbedaan budaya dan batas generalisasi penelitian pendidikan semakin terlihat. Artikel tentang Design-Based Research pada 2012, misalnya, menggambarkan perkembangan pendekatan tersebut sebagai bagian dari kemajuan metodologis penelitian pendidikan.
Fokus utama:
- inovasi dan desain pembelajaran;
- hubungan antara teori dan praktik pendidikan;
- konteks budaya dalam proses belajar;
- pengembangan metodologi penelitian pendidikan;
- mulai berkembangnya computational thinking dalam pendidikan.
Contoh arah penelitian:
- desain dan evaluasi model pembelajaran inovatif;
- pengembangan lingkungan belajar berbasis teknologi;
- penelitian tentang pembelajaran lintas konteks budaya;
- integrasi computational thinking ke dalam pembelajaran;
- pengembangan instrumen untuk mengukur proses dan hasil belajar.
2014–2016 — Kualitas Bukti Intervensi
Pertengahan dekade membawa perhatian yang lebih besar pada kualitas bukti penelitian. Replikasi, interpretasi effect size, dan validitas kesimpulan menjadi bagian penting dari agenda penelitian. Makel dan Plucker, misalnya, menyerukan perhatian lebih besar pada replikasi daripada sekadar mengejar kebaruan penelitian.
Pada periode yang sama, penelitian pendidikan semakin melihat bahwa hasil penelitian tidak otomatis diterjemahkan menjadi perubahan praktik. Konsep research–practice partnerships berkembang sebagai cara mempertemukan peneliti, guru, sekolah, dan pemangku kepentingan dalam proses penelitian. Literatur tentang kemitraan tersebut kemudian menekankan tujuan bersama, produksi pengetahuan secara kolaboratif, dan siklus pembelajaran berkelanjutan.
Fokus utama:
- kualitas dan replikasi bukti;
- efektivitas intervensi pendidikan;
- hubungan penelitian dengan praktik;
- profesionalisme dan pengembangan guru;
- kemitraan peneliti–praktisi.
Contoh arah penelitian:
- replikasi penelitian intervensi pendidikan;
- meta-analisis efektivitas program;
- pengukuran kualitas pengajaran;
- penelitian pengembangan profesional guru;
- research–practice partnerships;
- penggunaan DBR untuk memecahkan masalah nyata di sekolah.
2017–2019 — Pendidikan sebagai Sistem Kompleks
Menjelang akhir 2010-an, perhatian penelitian semakin bergeser dari pertanyaan sederhana seperti “apakah suatu intervensi berhasil?” menuju pertanyaan “dalam kondisi apa, untuk siapa, dan melalui mekanisme apa intervensi tersebut bekerja?”
Penelitian mulai menghubungkan berbagai level pendidikan—siswa, guru, kelas, sekolah, keluarga, komunitas, hingga kebijakan. Konsep pendidikan sebagai complex system memperkuat pendekatan ini. Pada saat yang sama, penelitian mengenai ketimpangan pendidikan semakin memperhatikan akses, persistensi, mobilitas guru, kondisi sosial-ekonomi, dan pengalaman siswa. Artikel tentang pendidikan sebagai sistem kompleks pada 2019 secara eksplisit membahas implikasi konseptual dan metodologis dari perspektif tersebut.
Fokus utama:
- kompleksitas sistem pendidikan;
- ketimpangan dan kesempatan belajar;
- hubungan sekolah, keluarga, dan komunitas;
- pengalaman siswa;
- faktor kontekstual yang memengaruhi hasil pendidikan.
Contoh arah penelitian:
- bagaimana karakteristik sekolah memengaruhi prestasi siswa;
- ketimpangan kesempatan belajar;
- persistensi mahasiswa dalam pendidikan tinggi;
- turnover dan distribusi guru;
- hubungan antara konteks sosial dan capaian pendidikan;
- pemodelan pendidikan sebagai sistem yang saling berinteraksi.
2020–2021 — Perluasan Konsep Belajar
Memasuki 2020-an, penelitian pendidikan semakin eksplisit membicarakan equity, belonging, identitas, ras, budaya, dan pengalaman kelompok yang berbeda. Konsep rightful presence, misalnya, menggeser pembicaraan tentang equity dari sekadar memasukkan kelompok yang kurang terwakili menuju pertanyaan tentang posisi, suara, dan partisipasi mereka dalam proses pendidikan.
Perhatian terhadap computational thinking juga meningkat. Review tahun 2021 menunjukkan bahwa penelitian computational thinking masih banyak berpusat pada coding, sekaligus menunjukkan kebutuhan untuk memperluasnya ke berbagai mata pelajaran dan bentuk literasi komputasional.
Pandangan tentang belajar juga semakin interdisipliner, dengan menghubungkan ilmu pendidikan dengan ilmu kognitif, sosial, budaya, dan perkembangan manusia.
Fokus utama:
- equity dan keadilan pendidikan;
- belonging dan identitas siswa;
- computational thinking;
- literasi digital;
- pembelajaran interdisipliner;
- hubungan pendidikan dengan kondisi sosial.
Contoh arah penelitian:
- rasa memiliki mahasiswa;
- ketimpangan akses STEM;
- computational thinking lintas mata pelajaran;
- civic online reasoning;
- pendidikan untuk kelompok minoritas;
- hubungan identitas, budaya, dan pengalaman belajar.
2022–2023 — Posisi Sosial Pendidikan
Pada 2022–2023, penelitian semakin melihat pendidikan sebagai ekosistem yang dipengaruhi banyak aktor dan tekanan eksternal. Guru tidak lagi dipelajari hanya berdasarkan kompetensi individual, tetapi juga berdasarkan lingkungan profesional dan ekologinya. Demikian pula, sekolah semakin dipelajari sebagai organisasi yang merespons tekanan kebijakan, masyarakat, dan lingkungan kelembagaan.
Perspektif intersectionality juga semakin digunakan untuk memahami bagaimana berbagai dimensi identitas dan posisi sosial berinteraksi dalam pengalaman pendidikan. Artikel 2023 tentang positioning menunjukkan perkembangan tersebut dari sekadar membuat pernyataan tentang identitas menuju analisis tentang kekuasaan dan kemungkinan tindakan.
Fokus utama:
- ekologi profesional guru;
- respons sekolah terhadap tekanan eksternal;
- intersectionality;
- hubungan kebijakan dan praktik;
- organisasi sekolah sebagai sistem sosial.
Contoh arah penelitian:
- bagaimana guru beradaptasi dengan perubahan kebijakan;
- respons sekolah terhadap tuntutan eksternal;
- pengaruh konteks organisasi terhadap pembelajaran;
- intersectionality dalam pengalaman siswa;
- hubungan antara kebijakan pendidikan dan praktik kelas.
2024–2025 — Analisis Data Menggunakan AI
Pada 2024–2025, artificial intelligence menjadi salah satu akselerator terbesar penelitian pendidikan. Fokus penelitian tidak lagi hanya pada penggunaan teknologi untuk menyampaikan materi, tetapi mulai mencakup AI sebagai alat belajar, alat asesmen, alat penelitian, sekaligus objek yang harus dikritisi.
Penelitian mulai mempertanyakan bagaimana AI mengubah epistemic agency, integritas akademik, asesmen, pekerjaan guru, serta metodologi penelitian. Review mengenai AI untuk analisis data kualitatif, misalnya, secara khusus menguji kelayakan dan keterbandingan penggunaan AI dalam penelitian yang berorientasi pada equity. Sementara model AI3 menghubungkan AI dengan inovasi asesmen dan integritas akademik.
Pada saat yang sama, computational thinking mulai bertransformasi. Penelitian 2025 bahkan mengeksplorasi pergeseran dari programming menuju prompting melalui generative AI dan LLM.
Fokus utama:
- generative AI dalam pembelajaran;
- AI dan asesmen;
- academic integrity;
- AI literacy;
- AI sebagai alat penelitian;
- transformasi peran guru dan mahasiswa;
- integrasi computational thinking dan AI.
Contoh arah penelitian:
- pengaruh GenAI terhadap hasil belajar;
- AI sebagai mitra pembelajaran;
- validitas asesmen di era ChatGPT;
- AI untuk analisis data kualitatif;
- literasi AI kritis;
- desain pembelajaran berbasis LLM;
- perubahan kompetensi guru akibat AI.
Di Indonesia, perkembangan ini juga terlihat dalam penelitian computational thinking. Review 2025 terhadap penelitian Indonesia menemukan variasi konseptualisasi CT, penggunaan problem-based learning dan model hybrid, serta masih terbatasnya kerangka evaluasi yang komprehensif.
2026 — Pendidikan sebagai Ekosistem Sosial-Teknologis yang Kompleks
Pada 2026, cakupan penelitian pendidikan semakin melebar. AI tetap menjadi agenda utama, tetapi penelitian tidak berhenti pada pertanyaan apakah AI meningkatkan hasil belajar. Peneliti mulai mengkaji bagaimana AI diadopsi, siapa yang memperoleh manfaat, bagaimana AI berinteraksi dengan konteks sekolah, serta bagaimana faktor sosial di luar sekolah memengaruhi pembelajaran.
Penelitian terbaru tentang sekolah dasar di wilayah rural Indonesia, misalnya, menghubungkan penerimaan AI oleh pimpinan sekolah dengan implementasi AI dalam kepemimpinan, administrasi, pengambilan keputusan, dan pembelajaran. Meta-analisis tingkat kedua mengenai AI dan hasil belajar juga menunjukkan bahwa pesatnya pertumbuhan penelitian AI telah menghasilkan banyak meta-analisis dengan temuan dan kualitas yang beragam, sehingga diperlukan sintesis tingkat lebih tinggi.
Namun perkembangan paling menarik adalah semakin kuatnya perhatian terhadap faktor nonsekolah. Penelitian 2026 tentang pembunuhan di sekitar penyedia pendidikan anak usia dini di Kolombia, misalnya, menghubungkan paparan kekerasan komunitas dengan kualitas kelas dan perkembangan anak. Dengan demikian, kondisi lingkungan sosial mulai diperlakukan sebagai bagian integral dari ekosistem pendidikan.
Fokus utama:
- AI dan transformasi pendidikan;
- AI literacy yang kritis;
- implementasi AI dalam organisasi sekolah;
- ketimpangan infrastruktur pendidikan;
- kekerasan dan lingkungan sosial;
- pendidikan dalam situasi konflik dan krisis;
- hubungan kondisi komunitas dengan perkembangan anak;
- keadilan pendidikan yang semakin kontekstual.
Contoh arah penelitian:
- implementasi AI di sekolah rural;
- AI literacy dan agency siswa;
- AI dalam asesmen dan pengambilan keputusan;
- kesenjangan kualitas infrastruktur sekolah;
- pengaruh kekerasan komunitas terhadap pembelajaran;
- pendidikan dalam konflik dan krisis berkepanjangan;
- hubungan lingkungan sosial, sekolah, dan perkembangan anak;
- ketimpangan pendidikan berdasarkan ras, wilayah, bahasa, dan kondisi sosial.
