Saat ini ditulis, pemerintahan Indonesia dipegang oleh Kabinet Merah Putih dibawah pimpinan Presiden Prabowo Subianto. Kabinet ini telah melakukan restrukturisasi besar-besaran yang menghemat anggaran sambil membawa perubahan terkait ekspor satu pintu, makanan bergizi gratis, penyelamatan APBN, pemangkasan BUMN, cek kesehatan gratis, dan swasembada pangan. Tentu masih ada banyak PR yang harus diselesaikan, tetapi berbagai terobosan ini memberikan banyak manfaat yang patut diapresiasi di tengah gejolak perekonomian dan geopolitik global yang penuh ketidakpastian dan tekanan ini.
Jumlah orang yang keluar masuk dalam Kabinet Merah Putih saat ini adalah 48 orang. Dari penelusuran kami, 23 di antaranya adalah doktor. Prabowo di awal kepresidenannya mengatakan akan mendirikan kabinet zaken, yaitu kabinet yang diisi oleh orang-orang profesional di bidangnya. Kalau kita jadikan doktor sebagai indikator profesionalisme tersebut, maka persentase doktor dalam kabinet Prabowo adalah 23/48 = 48%. Nilai ini lebih rendah dari kabinet Gus Dur sebesar 54%. Menariknya, satu anggota kabinet Prabowo juga pernah menjadi menteri di Kabinet Gus Dur, yaitu Yusril Ihza Mahendra.
Setiap doktor memiliki disertasi dan disertasi ini mencerminkan topik spesifik yang digeluti doktor tersebut selama bertahun-tahun secara mendalam melebihi siapapun yang tidak bergelar doktor di bidang tersebut. Dalam artikel ini, seperti sebelumnya dari zaman awal reformasi, kita akan membedah apa saja disertasi yang dimiliki oleh anggota kabinet Merah Putih dan kesejajarannya dengan jabatan mereka saat ini.
Setelah melakukan peninjauan, kita dapat menyimpulkan adanya tiga jenis linearitas. Berbeda dengan kabinet Gus Dur yang memiliki linearitas epistemik dan linearitas substantif, Kabinet Prabowo memiliki linearitas perantara yaitu lienaritas strategis. Linearitas strategis di memiliki transfer pengetahuan. Jadi kalau lineaitas substantif sepenuhnya sama, linearitas epistemik hanya mentransfer pola pikir, maka linearitas strategis mentransfer pengetahuan (dan tentunya juga pola pikir). Berikut ini tiga kelompok disertasi tersebut:
Kelompok A — Linearitas Substantif
- Modernism and Fundamentalism in Islamic Politics: A Comparative Study of the Masyumi Party in Indonesia and the Jama’at-i-Islami in Pakistan (Yusril Ihza Mahendra, Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan).
- Exercising Local Autonomy: The Case of Central Sulawesi in the Post-New Order Indonesia (Pratikno, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan).
- Explaining Islamist Insurgencies: The Case of al-Jamaah al-Islamiyah and the Radicalisation of the Poso Conflict, 2000–2007 (Tito Karnavian, Menteri Dalam Negeri).
- Hubungan Etnik dan Politisasi Suku dalam Pemilihan Umum Lokal di Indonesia (Juri Ardiantoro, Wakil Menteri Sekretaris Negara).
- Beyond Formal Politics: Party Factionalism and Leadership in Post-Authoritarian Indonesia (Bima Arya Sugiarto, Wakil Menteri Dalam Negeri).
- Argumen Kesetaraan Jender Perspektif Al-Qur’an (Nasaruddin Umar, Menteri Agama).
- Mengelola Pluralitas Agama dalam Pendidikan: Studi Sekolah Muhammadiyah di Daerah Mayoritas Non-Muslim (Abdul Mu'ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah).
- Perlindungan Hak Ekonomi Pencipta Lagu dan Pemegang Hak Terkait dalam Industri Musik di Indonesia (Otto Hasibuan, Wakil Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan).
- Asas Legalitas dalam Pelanggaran Hak Asasi Manusia yang Berat (Eddy Hiariej, Wakil Menteri Hukum).
Kelompok B — Linearitas Strategis
- Transformational Leadership and Human Resource Orchestration Towards a Golden Indonesia 2045 (Agus Harimurti Yudhoyono, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan).
- The Effect of Exchange Rate on Foreign Direct Investment (Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan).
- Effect of Tin Addition on Mesoporous Silica Thin Film and Its Application for Surface Photovoltage NO₂ Gas Sensor (Brian Yuliarto, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi).
- Pemikiran Ekonomi Kerakyatan Mohammad Hatta 1926–1959 (Fadli Zon, Menteri Kebudayaan).
- Policies, Institutions, and Governance of Equitable and Sustainable Nickel Downstreaming in Indonesia (Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral).
- Perilaku Komunikasi, Perilaku Wirausaha Peternak, dan Penyuluhan dalam Sistem Agribisnis Peternakan Ayam (Rachmat Pambudy, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas).
- The World Trade Organization and Contemporary Developing Countries: A Case Study of Indonesia's Telecommunications Industry (Atip Latipulhayat, Wakil Menteri Luar Negeri).
- Analisis Kebijakan Pengendalian Hama Tikus (Rattus argentiventer) Berbasis Agroekosistem di Sulawesi Selatan (Amran Sulaiman, Menteri Pertanian).
- Molecular Mechanisms and Genetic Analysis in Diabetes Mellitus and Endocrine Disorders (Dante Saksono, Wakil Menteri Kesehatan).
Kelompok C — Linearitas Epistemik
- Religious Peacebuilders: The Role of Religion in Peacebuilding in Conflict Torn Society in Southeast Asia (Raja Juli Antoni, Menteri Kehutanan).
- How Simple is Same: The Relational Match to Sample Task in Children (Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi).
- Dinamika Followership dan Political Partisanship Muhammadiyah dalam Merespons Kebijakan Covid-19 di DKI Jakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Sumatera Barat (Fajar Riza Ul Haq, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah).
- Industri Maritim dan Peranannya terhadap Distribusi Pangan di Wilayah Terpencil dalam Rangka Memperkokoh Ketahanan Pangan Nasional (Didit Herdiawan Ashaf, Wakil Menteri Perhubungan).
- Muscle Fatigue during Isometric and Dynamic Efforts in Shoulder Abduction and Torso Extension: Age Effects and Alternative Electromyographic Measures (Yassierli, Menteri Ketenagakerjaan).
Distribusi Pendidikan Doktoral Kabinet Merah Putih
Distribusi pendidikan doktoral 23 tokoh Kabinet Merah Putih memperlihatkan konfigurasi akademik yang relatif berimbang antara pendidikan tinggi domestik dan internasional. Berdasarkan negara perguruan tinggi tempat mereka memperoleh gelar doktor, 11 tokoh (47,83%) menempuh pendidikan doktoral di Indonesia, sedangkan 12 tokoh (52,17%) memperolehnya dari perguruan tinggi luar negeri. Dengan demikian, meskipun pendidikan doktoral luar negeri masih sedikit lebih dominan, perbedaannya sangat tipis. Pola ini menunjukkan bahwa pembentukan modal intelektual para tokoh Kabinet Merah Putih tidak bergantung secara eksklusif pada pendidikan luar negeri; universitas Indonesia juga menjadi sumber penting bagi pembentukan kapasitas akademik elite pemerintahan.
Pada tingkat negara, Australia menjadi destinasi pendidikan doktoral luar negeri terbesar, dengan empat tokoh atau 17,39%, melalui Flinders University, Australian National University, Monash University, dan University of Queensland. Amerika Serikat berada di posisi berikutnya dengan tiga tokoh (13,04%), melalui Purdue University, Virginia Tech, dan Northwestern University. Malaysia dan Jepang masing-masing menyumbang dua tokoh (8,70%), sedangkan Singapura menyumbang satu tokoh (4,35%). Dengan demikian, pendidikan doktoral internasional para tokoh tersebut tidak terkonsentrasi pada satu negara, tetapi tersebar di lima negara asing. Secara geografis, pola ini memperlihatkan kecenderungan multipolarisasi sumber pendidikan doktoral, terutama dengan kuatnya hubungan akademik Indonesia dengan Australia dan negara-negara Asia-Pasifik.
Pada tingkat perguruan tinggi, pola yang muncul bahkan lebih menarik. Dari 23 tokoh terdapat 18 perguruan tinggi, yang menunjukkan tingkat diversifikasi institusional yang cukup tinggi. Namun, berbeda dari distribusi negara yang relatif tersebar, terdapat beberapa knowledge hubs domestik. Universitas Gadjah Mada menjadi institusi dengan jumlah alumni doktoral terbanyak, yakni 3 tokoh (13,04%), disusul Universitas Indonesia, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan IPB masing-masing 2 tokoh (8,70%). Keempat perguruan tinggi tersebut secara bersama-sama menyumbang 9 dari 23 tokoh atau 39,13%. Di luar empat institusi tersebut, 14 perguruan tinggi lainnya masing-masing hanya menyumbang satu tokoh. Artinya, konfigurasi Kabinet Merah Putih dapat dipahami sebagai kombinasi antara diversifikasi akademik global dan penguatan sejumlah pusat pengetahuan domestik.
Yang juga menarik adalah keberagaman bidang keilmuan yang tercermin dalam disertasi mereka. Spektrumnya membentang dari politik Islam, otonomi daerah, konflik dan keamanan, hukum, agama dan pendidikan, ekonomi, investasi, teknologi material, ergonomi, agribisnis, hilirisasi industri, hingga kedokteran molekuler.
Perbandingan dengan Kabinet Abdurrahman Wahid
Jika temuan tersebut dibandingkan dengan 20 disertasi tokoh yang pernah duduk dalam Kabinet Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada awal Reformasi, terlihat perubahan yang cukup fundamental dalam geografi pendidikan doktoral elite pemerintahan Indonesia. Pada kabinet Gus Dur, Amerika Serikat mendominasi dengan 11 disertasi atau 55%. Kanada menyumbang satu disertasi, sehingga Amerika Utara secara keseluruhan mencapai 60%. Ditambah Eropa Barat sebesar 15% dan Australia 5%, sekitar 75% disertasi berasal dari Amerika Utara, Eropa Barat, dan Australia. Dengan kata lain, modal intelektual doktoral para tokoh Kabinet Gus Dur sangat kuat dibentuk oleh institusi pendidikan tinggi Barat, terutama Amerika Serikat.
Konfigurasi tersebut berbeda cukup tajam dengan Kabinet Merah Putih. Proporsi doktor dari Amerika Serikat turun dari 55% menjadi 13,04%, sementara proporsi doktor dari perguruan tinggi Indonesia meningkat dari 10% pada sampel Gus Dur menjadi 47,83% pada Kabinet Merah Putih. Sebaliknya, Australia meningkat dari 5% menjadi 17,39%. Malaysia juga meningkat dari 5% menjadi 8,70%, sementara Jepang dan Singapura muncul sebagai sumber baru dalam sampel Kabinet Merah Putih. Perubahan ini menunjukkan bahwa internasionalisasi pendidikan doktoral tidak menghilang, tetapi mengalami redistribusi geografis. Jika pada era Gus Dur Amerika Serikat merupakan pusat gravitasi utama, maka pada Kabinet Merah Putih pusat tersebut menjadi jauh lebih tersebar.
Perbedaan tersebut semakin jelas jika dilihat dari struktur institusional. Dari 20 disertasi pada era Gus Dur, sekitar 18 institusi terwakili. Hanya University of Hawaiʻi dan KU Leuven yang masing-masing muncul dua kali, sementara sisanya tersebar di berbagai universitas di Amerika Utara, Eropa, Australia, Asia, dan Indonesia. Kabinet Merah Putih juga memperlihatkan sekitar 18 perguruan tinggi untuk 23 tokoh, sehingga diversifikasi institusionalnya tetap tinggi. Namun, distribusi KMP memperlihatkan karakter berbeda: UGM, UI, UIN Syarif Hidayatullah, dan IPB muncul sebagai pusat domestik yang relatif menonjol, sementara universitas luar negeri tersebar hampir seluruhnya secara individual. Dengan demikian, terjadi pergeseran dari diversifikasi yang didominasi jaringan akademik internasional menuju diversifikasi yang menggabungkan jaringan internasional dengan konsentrasi knowledge hubs domestik.
Secara sederhana, kedua kabinet memperlihatkan dua pola berbeda:
| Dimensi | Kabinet Gus Dur | Kabinet Merah Putih |
|---|---|---|
| Orientasi doktoral | Sangat internasional | Hampir berimbang domestik–internasional |
| Doktor dari Indonesia | 10% | 47,83% |
| Doktor dari luar negeri | 90% | 52,17% |
| AS | 55% | 13,04% |
| Australia | 5% | 17,39% |
| Diversifikasi institusi | Tinggi | Tinggi |
| Pusat institusional | Tidak terlalu terkonsentrasi | UGM, UI, UIN, IPB mulai menonjol |
| Karakter global | Western-oriented | Multipolar/Asia-Pasifik lebih kuat |
Dengan demikian, perbedaan paling penting bukanlah bahwa Kabinet Gus Dur memiliki lebih banyak doktor luar negeri sementara Kabinet Merah Putih lebih banyak doktor dalam negeri. Perbedaannya lebih substantif: terjadi perubahan dari konsentrasi geografis Barat menuju pluralisasi sumber pengetahuan. Kabinet Gus Dur memperlihatkan pola Western academic formation, terutama melalui Amerika Serikat; sementara Kabinet Merah Putih memperlihatkan pola multipolar academic formation, di mana Indonesia sendiri menjadi sumber hampir separuh modal doktoral, sementara pendidikan luar negeri tersebar antara Australia, Amerika Serikat, Malaysia, Jepang, dan Singapura.
Jika dibaca dalam konteks sejarah politik Indonesia, perubahan ini dapat dipahami sebagai indikasi bahwa basis pembentukan elite pemerintahan semakin terdomestikasi sekaligus semakin terdiversifikasi secara internasional. Pada awal Reformasi, ketika institusi demokrasi dan negara sedang mengalami rekonstruksi, pengalaman akademik internasional—khususnya Amerika Utara—tampak sangat dominan dalam membentuk sebagian elite kabinet. Dua puluh lebih tahun kemudian, pada Kabinet Merah Putih, sumber modal intelektual tersebut menjadi lebih plural: universitas nasional semakin kuat sebagai produsen pengetahuan elite, sementara hubungan akademik internasional bergeser dari dominasi Amerika Serikat menuju jaringan yang lebih luas di kawasan Asia-Pasifik. Menariknya, pola ini juga ditemukan dalam 25 disertasi yang mengubah cara memahami Indonesia, dimana pada masa awal, disertasi dari perguruan tinggi Belanda dominan lalu menjelang modern semakin banyak disertasi dari perguruan tinggi dalam negeri.
Berbeda dengan pembahasan sebelumnya mengenai Kabinet Gus Dur yang menggunakan orientasi linearitas antara bidang disertasi dan jabatan politik, serta pembahasan 25 disertasi yang mengubah cara memahami Indonesia yang disusun berdasarkan kronologi, ke-23 disertasi ini lebih tepat dikelompokkan berdasarkan jenis kedaulatan yang hendak diperkuat oleh pengetahuan dan kontribusi akademiknya. Orientasi ini dipilih karena kedaulatan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kekuasaan politik, tetapi juga oleh kemampuan bangsa menguasai kebutuhan dasarnya, mengelola kekayaan alamnya, dan membangun kualitas serta martabat manusianya. Karena itu, tiga kelompok tersebut dibentuk berdasarkan kedaulatan pangan sebagai fondasi ketahanan dan kemandirian hidup bangsa, kedaulatan sumber daya alam sebagai kemampuan menguasai dan mengelola kekayaan strategis nasional untuk kepentingan publik, serta kedaulatan manusia Indonesia sebagai kemampuan membangun manusia yang berpengetahuan, sehat, berdaya, berkeadilan, dan mampu menentukan masa depannya sendiri. Dengan orientasi ini, pembagian 23 disertasi bukan sekadar pengelompokan berdasarkan disiplin ilmu, melainkan sebuah cara membaca bagaimana karya-karya doktoral tersebut dapat ditempatkan dalam agenda yang lebih besar: apa yang harus dikuasai Indonesia, apa yang harus dilindungi Indonesia, dan pada akhirnya untuk siapa kedaulatan itu dijalankan.
Enam disertasi yang menopang kedaulatan pangan Indonesia
Enam disertasi yang menopang kedaulatan sumber daya alam Indonesia
Sebelas disertasi yang menopang kedaulatan manusia Indonesia



No comments:
Post a Comment