Grand Theory Sudah Usang? Mengapa Profesor Masih Memintanya dalam Disertasi

Ilustrasi paling indah dan relevan dalam Perubahan Sosial, Sosiologi, dan Ilmu Sejarah adalah sebuah jam pasir raksasa yang melayang di atas lanskap peradaban manusia, di mana butiran pasir di dalamnya tidak terbuat dari batuan, melainkan dari jutaan siluet manusia mikro yang bergerak. Saat manusia-manusia mikro itu jatuh dari tabung atas (masa lalu) ke tabung bawah (masa depan), formasi jalinan sosial mereka berubah secara dinamis—dari pola komunal pedesaan yang rapat menjadi struktur modern perkotaan yang kompleks dan saling terhubung oleh benang-benang digital. Bidang ini membongkar rahasia di balik akumulasi keputusan kecil individu yang, ketika bergabung dengan arus waktu, mampu meruntuhkan kekaisaran, mengubah tatanan moral, dan melahirkan dunia yang sama sekali baru.

 Ada sebuah istilah yang hampir pasti pernah didengar oleh mahasiswa doktoral ilmu sosial: grand theory.

Dalam banyak proposal disertasi, mahasiswa masih sering mendapatkan pertanyaan seperti: “Apa grand theory penelitian Anda?” atau “Teori besar apa yang menjadi landasan penelitian ini?” Tidak jarang mahasiswa kemudian mencari teori yang dianggap cukup “besar” untuk ditempatkan di Bab 2, lalu menghubungkannya dengan variabel penelitian, hipotesis, atau kerangka konseptual.

Namun, ada persoalan menarik di balik praktik tersebut.

Apakah grand theory masih benar-benar menjadi konsep yang hidup dalam perkembangan teori sosial kontemporer?

Sebuah penelitian terbaru oleh Lars Döpking, Sebastien Parker, Cinthya Guzman, dan Daniel Silver memberikan alasan kuat untuk mengajukan kembali pertanyaan tersebut. Dalam artikel berjudul Grand Theory in the Sociological Canon: Scopes, Semantics, and Strategic Usages of a Rhetorical Device Since the 1960s, mereka menelusuri bagaimana istilah grand theory digunakan dalam kanon sosiologi sejak 1960-an. Mereka menganalisis 3.673 bab dari buku-buku teks sosiologi berbahasa Inggris untuk melihat siapa yang disebut sebagai grand theorist, bagaimana cakupan istilah tersebut berubah, dan apa fungsi istilah tersebut dalam pembentukan kanon sosiologi.

Baca paper Döpking et al. (2026) di European Journal of Social Theory

Grand theory ternyata bukan kategori yang sesederhana kelihatannya

Salah satu hal paling menarik dari penelitian Döpking et al. adalah bahwa tidak pernah ada kesepakatan yang benar-benar stabil mengenai apa yang disebut grand theory.

Istilah tersebut memang terdengar seolah-olah menunjuk pada suatu jenis teori yang jelas: teori yang sangat luas, abstrak, dan mampu menjelaskan masyarakat secara keseluruhan.

Tetapi ketika melihat sejarah penggunaannya, batas tersebut ternyata berubah.

Siapa yang dianggap sebagai grand theorist?

Teori mana yang layak disebut grand theory?

Apakah sebuah teori disebut grand karena memang memiliki cakupan penjelasan yang luas, atau karena komunitas akademik telah menempatkan tokohnya sebagai bagian dari kanon?

Döpking dan koleganya menunjukkan bahwa persoalan tersebut tidak dapat dipisahkan dari proses canonization. Dalam artikel mereka, grand theory bahkan dipahami sebagai perangkat retoris yang digunakan dalam berbagai cara untuk mempertahankan, mempersempit, membatasi, atau memperluas kanon teori sosiologi. Dengan demikian, istilah tersebut bukan label netral untuk suatu jenis teori.

Ini menghasilkan sebuah ironi.

Semakin kita menggunakan istilah “grand theory” seolah-olah kategorinya sudah jelas, semakin kita berisiko menyembunyikan kenyataan bahwa kategori tersebut sebenarnya diperdebatkan.

Grand theory pernah sangat penting

Untuk memahami persoalannya, kita perlu melihat sejarah sosiologi.

Sosiologi sejak awal memiliki ambisi yang sangat besar. Para pemikir awal tidak hanya ingin menjelaskan satu perilaku atau satu organisasi. Mereka ingin memahami masyarakat sebagai keseluruhan.

Auguste Comte membayangkan sosiologi sebagai ilmu yang dapat menemukan hukum-hukum perkembangan masyarakat.

Karl Marx berusaha menjelaskan hubungan antara struktur ekonomi, kelas, konflik, dan perubahan sejarah.

Émile Durkheim memusatkan perhatian pada fakta sosial, integrasi, solidaritas, dan perubahan masyarakat.

Max Weber mengembangkan teori tentang tindakan sosial, rasionalisasi, otoritas, agama, ekonomi, dan perkembangan masyarakat modern.

Kemudian muncul generasi berikutnya yang memperluas atau mengkritik ambisi tersebut: Talcott Parsons, Robert K. Merton, C. Wright Mills, Ralf Dahrendorf, dan berbagai pemikir lainnya.

Pada titik tertentu, teori sosial memang memiliki ambisi untuk menghasilkan penjelasan yang luas tentang bagaimana masyarakat bekerja.

Tetapi grand theory mulai kehilangan dominasinya

Di sinilah penelitian Döpking et al. menjadi sangat menarik.

Dengan menggunakan korpus ribuan bab buku teks, mereka tidak sekadar menceritakan sejarah grand theory berdasarkan kesan para ahli. Mereka mencoba melihat secara empiris bagaimana istilah tersebut digunakan dan bagaimana komposisi kanon berubah dari waktu ke waktu. Mereka menunjukkan bahwa cakupan dan asosiasi semantik grand theory berubah sepanjang periode 1967–2018. Pemakaian konsep ini mencapai puncaknya pada dekade 1980-an lalu mulai menurun setelah itu.

Artinya, kita tidak sedang berhadapan dengan sebuah kategori yang tetap.

Grand theory pernah berada di pusat perdebatan teori sosial, tetapi kemudian muncul berbagai kritik terhadap teori yang terlalu luas, terlalu abstrak, atau terlalu jauh dari penelitian empiris.

Sosiologi kemudian menjadi semakin plural.

Peneliti dapat menggunakan:

  • teori struktur,
  • teori tindakan,
  • teori praktik,
  • teori jaringan,
  • teori budaya,
  • teori institusi,
  • teori gender,
  • teori ras,
  • teori kolonialitas,
  • teori organisasi,
  • teori komunikasi,
  • dan berbagai teori lain yang memiliki tingkat abstraksi serta tujuan berbeda.

Dengan demikian, kemunduran dominasi grand theory tidak berarti berakhirnya teori sosial.

Yang berubah adalah cara para ilmuwan sosial memahami dan menggunakan teori.

Tetapi mengapa kita masih sering diminta mencari grand theory?

Di sinilah persoalannya menjadi sangat dekat dengan pengalaman saya sendiri dalam mengerjakan berbagai penelitian disertasi.

Dalam praktik penelitian ilmu sosial, khususnya pada bidang komunikasi, manajemen, organisasi, pendidikan, dan ilmu sosial terapan, istilah grand theory masih sangat sering digunakan.

Mahasiswa doktoral dapat saja diminta menjelaskan:

“Apa grand theory penelitian Anda?”

Padahal, dalam perkembangan teori sosial kontemporer, pertanyaan tersebut tidak selalu sesederhana yang terlihat.

Hal ini menciptakan sebuah kesenjangan antara perkembangan teori di tingkat disiplin dan praktik pendidikan doktoral.

Di satu sisi, diskursus akademik mempertanyakan apakah grand theory masih merupakan kategori yang bermakna.

Di sisi lain, mahasiswa doktoral masih hidup dalam sistem akademik yang kadang-kadang menjadikan grand theory sebagai salah satu syarat untuk membangun landasan teoretis disertasi.

Menurut saya, inilah salah satu alasan mengapa pembahasan mengenai grand theory masih relevan.

Bukan karena kita harus mempertahankan grand theory.

Justru karena kita perlu memahami mengapa konsep yang problematis secara teoretis masih begitu kuat secara institusional.

Komunikasi menunjukkan persoalan yang lebih jelas

Pengalaman kami dalam ilmu komunikasi bahkan menunjukkan perubahan yang lebih menarik.

Dalam tradisi penelitian yang lebih lama, teori komunikasi sering kali dijelaskan menggunakan hierarki:

grand theory → middle-range theory → applied theory.

Namun, klasifikasi semacam ini semakin kurang memadai untuk menggambarkan pluralitas teori komunikasi.

Tradisi teori komunikasi kontemporer lebih sering mengelompokkan teori berdasarkan cara teori tersebut memahami komunikasi, bukan berdasarkan tingkat “kebesaran” teorinya. Sekarang para mahasiswa S3 ilmu komunikasi memiliki buku paket Teori Komunikasi dari Littlejohn et al. yang membagi teori-teori komunikasi ke dalam banyak cara dari tradisi, objek, paradigma, hingga konteks. Gambar di bawah menunjukkan teori-teori komunikasi yang dikelompokkan menjadi tujuh tradisi mulai dari retorika yang tertua hingga teori kritis yang paling kontemporer.

Ini menghasilkan pertanyaan yang berbeda.

Bukan:

“Apakah teori ini grand theory?”

melainkan:

“Komunikasi dipahami sebagai apa dalam teori ini?”

Apakah komunikasi dipahami sebagai:

  • transmisi informasi?
  • interaksi?
  • konstruksi makna?
  • pengalaman?
  • bahasa?
  • budaya?
  • sistem?
  • praktik?
  • kritik?
  • proses media?

Perubahan tersebut penting karena menunjukkan bahwa pluralisme teori tidak berarti kehilangan teori.

Sebaliknya, kita mungkin sedang bergerak dari model hierarkis teori menuju model yang lebih plural.

Manajemen bahkan lebih menarik

Dalam manajemen dan penelitian bisnis, istilah grand theory masih sangat populer.

Mahasiswa doktoral dapat menemukan teori seperti:

  • Agency Theory,
  • Resource-Based View,
  • Institutional Theory,
  • Contingency Theory,
  • Stakeholder Theory,
  • Transaction Cost Economics,
  • Resource Dependence Theory,
  • Dynamic Capabilities,

dan kemudian diminta menentukan teori mana yang menjadi grand theory penelitiannya.

Tetapi di sinilah kita harus berhati-hati.

Tidak semua teori tersebut merupakan grand theory dalam pengertian historis-sosiologis yang sama dengan teori Marx, Durkheim, atau Weber.

Sebagian lebih tepat dipahami sebagai teori yang relatif luas dalam bidang organisasi atau manajemen, tetapi tetap memiliki ruang lingkup yang jauh lebih terbatas daripada teori masyarakat secara keseluruhan.

Dengan kata lain, istilah grand theory telah mengalami perluasan makna ketika berpindah dari sosiologi ke disiplin ilmu sosial terapan.

Grand theory dalam sosiologi tidak selalu sama dengan apa yang disebut grand theory dalam manajemen.

Dan grand theory dalam manajemen tidak selalu sama dengan apa yang disebut grand theory dalam pendidikan atau komunikasi.

: Menggambarkan kekuatan aksi kolektif dalam sosiologi politik; bagaimana kumpulan individu yang terfragmentasi dapat melahirkan "kesadaran kolektif" yang memiliki kekuatan magis untuk mengubah jalannya sejarah.


Jadi, apakah grand theory sudah mati?

Jawabannya mungkin:

Tidak. Tetapi grand theory juga tidak lagi hidup dengan cara yang sama seperti dahulu.

Ia mungkin telah kehilangan sebagian statusnya sebagai proyek intelektual dominan dalam teori sosial.

Tetapi ia tetap hidup sebagai:

  1. kategori dalam buku teks;
  2. bagian dari sejarah kanon sosiologi;
  3. perangkat untuk mengorganisasi teori;
  4. bahasa dalam pendidikan doktoral;
  5. cara mahasiswa menjelaskan posisi penelitian mereka;
  6. strategi retoris untuk memberikan legitimasi teoretis pada penelitian.

Justru Döpking et al. menunjukkan bahwa grand theory bertahan bukan hanya karena substansi teori tertentu, tetapi juga karena fungsi retorisnya dalam pembentukan kanon.

Dua dunia grand theory

Karena itu, menurut saya mahasiswa doktor perlu membedakan dua hal:

grand theory sebagai konsep dalam perkembangan teori sosial

dan

grand theory sebagai praktik dalam pendidikan doktoral.

Keduanya tidak identik.

Seorang profesor dapat meminta mahasiswa menggunakan grand theory karena tradisi akademik program doktornya memang mengharuskan demikian.

Tetapi hal tersebut tidak otomatis berarti bahwa grand theory masih merupakan kategori teoritis yang paling mutakhir dalam disiplin tersebut.

Sebaliknya, seorang mahasiswa juga tidak seharusnya langsung menyimpulkan:

“Karena grand theory sudah dikritik, saya tidak membutuhkan teori besar.”

Yang lebih penting adalah memahami tingkat abstraksi teori, asumsi ontologisnya, mekanisme penjelasannya, dan hubungan teori tersebut dengan pertanyaan penelitian.

Lalu teori siapa yang sebenarnya termasuk grand theory?

Di sinilah daftar Döpking et al. menjadi sangat berguna.

Menariknya, mereka tidak menyajikan daftar tersebut sebagai daftar sederhana “20 grand theories”. Mereka memetakan para theorists yang muncul dalam konstruksi kanon grand theory sosiologi.

Dalam daftar yang mereka identifikasi, posisi tokoh-tokoh tersebut adalah:

  1. Anthony Giddens
  2. Pierre Bourdieu
  3. George Herbert Mead
  4. Michel Foucault
  5. Alfred Schutz
  6. Harold Garfinkel
  7. Jeffrey Alexander
  8. Karl Marx
  9. Jürgen Habermas
  10. Max Weber
  11. Jean-François Lyotard
  12. Erik Olin Wright
  13. Georg Simmel
  14. Ralf Dahrendorf
  15. Robert K. Merton
  16. Talcott Parsons
  17. Alvin Gouldner
  18. Émile Durkheim
  19. C. Wright Mills
  20. Auguste Comte

Yang menarik, urutan ini bukan urutan sejarah. Ia justru menunjukkan frekuensi penggunaan dalam korpus yang diteliti Döpking et al.: Giddens berada di posisi teratas dalam penggunaan kontemporer yang mereka ukur, sementara Comte berada di posisi paling bawah dari daftar tersebut. Karena itu, daftar tersebut sendiri sudah memberi kita gambaran tentang perubahan kanon: siapa yang masih sering digunakan dan siapa yang semakin jarang muncul.

Lima kelompok untuk memahami 20 grand theorists

Agar daftar tersebut lebih berguna bagi mahasiswa doktoral, saya mengelompokkannya bukan berdasarkan urutan frekuensi, tetapi berdasarkan problem teoretis utama yang mereka coba jelaskan.

I. Para Pendiri dan Fondasi Sosiologi

Auguste Comte
Karl Marx
Émile Durkheim
Max Weber

Empat tokoh ini membentuk fondasi klasik sosiologi.

Mereka mengajukan pertanyaan yang sangat luas tentang:

  • perkembangan masyarakat,
  • struktur sosial,
  • kapitalisme,
  • solidaritas,
  • tindakan sosial,
  • rasionalisasi,
  • perubahan historis.

II. Struktur, Sistem, dan Konflik Sosial

Talcott Parsons
Robert K. Merton
Ralf Dahrendorf
Erik Olin Wright

Kelompok ini berusaha menjawab persoalan:

Bagaimana struktur sosial mengatur kehidupan manusia, dan bagaimana struktur tersebut menghasilkan integrasi maupun konflik?

Parsons terkenal dengan teori sistem sosial dan fungsionalisme struktural.

Merton mengembangkan pendekatan yang lebih terbatas dan empiris melalui konsep middle-range theory—yang justru sangat relevan dalam diskusi kita mengenai apakah grand theory masih diperlukan.

Dahrendorf mengembangkan teori konflik yang mengoreksi dominasi fungsionalisme.

Erik Olin Wright kemudian memperbarui analisis kelas dalam tradisi Marxian.

III. Tindakan, Interaksi, dan Kehidupan Sehari-hari

George Herbert Mead
Alfred Schutz
Harold Garfinkel
Georg Simmel

Di sini fokus berpindah dari struktur makro menuju:

Bagaimana realitas sosial muncul dalam pengalaman dan interaksi sehari-hari?

Mead menekankan pembentukan self melalui interaksi sosial.

Schutz membawa fenomenologi ke dalam sosiologi.

Garfinkel mengembangkan etnometodologi untuk memahami bagaimana manusia menghasilkan keteraturan sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Simmel memberikan perhatian besar pada bentuk-bentuk interaksi dan hubungan sosial.

Kelompok ini penting karena mengingatkan kita bahwa masyarakat bukan hanya institusi besar, negara, pasar, dan kelas.

Masyarakat juga diproduksi terus-menerus dalam interaksi sehari-hari.

IV. Kekuasaan, Kritik, dan Masyarakat Modern

Michel Foucault
Jürgen Habermas
Alvin Gouldner
C. Wright Mills

Keempatnya membantu mengubah pertanyaan teori sosial menjadi pertanyaan tentang:

Siapa yang memiliki kekuasaan, bagaimana kekuasaan bekerja, dan bagaimana masyarakat modern dapat dikritik?

Foucault menghubungkan pengetahuan, kekuasaan, disiplin, dan pembentukan subjek.

Habermas mengembangkan teori kritis mengenai komunikasi, rasionalitas, ruang publik, dan masyarakat modern.

Gouldner mengkritik asumsi-asumsi tertentu dalam sosiologi dan mempertanyakan hubungan antara teori dan kepentingan sosial.

C. Wright Mills menghubungkan struktur sosial dengan pengalaman individual melalui konsep seperti sociological imagination.

V. Sintesis dan Teori Sosial Kontemporer

Anthony Giddens
Pierre Bourdieu
Jeffrey Alexander
Jean-François Lyotard

Kelompok terakhir memperlihatkan bagaimana teori sosial mencoba menghadapi problem masyarakat modern dan postmodern setelah perdebatan klasik.

Giddens mengembangkan structuration theory, berusaha menjembatani struktur dan agen.

Bourdieu menghubungkan struktur, praktik, budaya, habitus, dan berbagai bentuk modal.

Alexander mengembangkan pendekatan neo-fungsionalis dan general theory yang lebih terbuka terhadap budaya dan tindakan.

Lyotard, melalui kritik terhadap grand narratives, justru membawa kita ke sebuah ironi yang sangat menarik:

Salah satu tokoh yang membantu mempertanyakan grand narratives sendiri berada dalam daftar tokoh yang dikonstruksikan dalam diskursus grand theory.

Dan di situlah persoalan grand theory menjadi semakin menarik.


Grand theory mungkin bukan teori. Mungkin ia adalah cara kita mengatur teori.

Ini mungkin merupakan pelajaran paling penting dari paper Döpking et al.

Istilah grand theory tampaknya sering diperlakukan seolah-olah menunjuk pada suatu kelas teori yang objektif dan jelas.

Tetapi sejarah penggunaannya menunjukkan sesuatu yang lebih rumit.

Grand theory juga merupakan cara komunitas akademik mengatakan:

“Tokoh-tokoh inilah yang dianggap penting untuk memahami teori sosial.”

Karena itu, pertanyaan tentang grand theory sekaligus menjadi pertanyaan tentang kanon.

Siapa yang masuk?

Siapa yang keluar?

Siapa yang tetap diajarkan?

Siapa yang mulai dilupakan?

Dan siapa yang dianggap cukup penting sehingga mahasiswa doktor harus membacanya?

Dengan demikian, mempelajari grand theory bukan hanya mempelajari teori.

Kita juga sedang mempelajari bagaimana ilmu pengetahuan menentukan siapa yang layak dianggap sebagai pemikir besar.

Lalu apa gunanya bagi mahasiswa doktor?

Bagi mahasiswa yang sedang menulis disertasi, saya kira jawabannya cukup sederhana.

Jangan memilih teori hanya karena:

“Ini grand theory.”

Dan jangan pula menolak teori hanya karena:

“Grand theory sudah ketinggalan zaman.”

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Apa yang ingin saya jelaskan?

Kemudian:

Pada tingkat realitas apa saya ingin menjelaskannya?

Dan akhirnya:

Teori mana yang memiliki konsep, asumsi, dan mekanisme yang paling mampu menjelaskan pertanyaan tersebut?

Jika sebuah grand theory membantu menjawab pertanyaan itu, gunakan.

Jika middle-range theory lebih tepat, gunakan.

Jika sebuah teori komunikasi yang tidak nyaman dimasukkan ke dalam hierarki grand–middle–applied justru lebih tepat, gunakan teori tersebut.

Teori seharusnya melayani pertanyaan penelitian, bukan sebaliknya.

Rujukan utama: Döpking, L., Parker, S., Guzman, C., & Silver, D. (2026). Grand theory in the sociological canon: Scopes, semantics, and strategic usages of a rhetorical device since the 1960s. European Journal of Social Theory. Advance online publication. DOI: 10.1177/13684310261447736.

No comments:

Post a Comment