Perintis Reformasi : Doktor dan Jabatannya Beda?

 Dalam artikel sebelumnya, kita telah memformulasikan 20 disertasi yang mengubah Indonesia di Awal Reformasi yang kita bagi dua menjadi disertasi dengan linearitas substantif dan disertasi dengan linearitas epistemik. Setelah membahas 10 disertasi dengan linearitas substantif, sekarang kita membahas disertasi dengan linearitas epistemik. Epistemic linearity berbeda. Di sini disertasi tidak harus membahas sektor yang sama dengan kementerian. Yang linear adalah cara berpikir, kerangka analitis, pemahaman tentang institusi, masyarakat, kekuasaan, agama, negara, demokrasi, etika, atau hubungan sosial yang kemudian dapat ditransfer ke pekerjaan pemerintahan.

Jika seorang tokoh memiliki kesesuaian substantif sekaligus epistemik, kita mengklasifikasikannya berdasarkan mekanisme linearitas yang lebih luas, yaitu epistemic. Alasannya, epistemic linearity merupakan kategori yang lebih inklusif. Ia mencakup kemampuan membawa pengetahuan, konsep, metode, dan cara memahami masalah dari dunia akademik ke dunia pemerintahan.

Karena itu, kasus seperti Juwono Sudarsono, Alwi Shihab, dan Mahfud MD dapat diperlakukan sebagai epistemic apabila analisis ingin menekankan knowledge transfer, tetapi untuk mencapai klasifikasi 10:10 kita menetapkan direct sectoral correspondence sebagai syarat utama substantive.

Dengan klasifikasi ini, data kita menghasilkan temuan yang cukup menarik:

Doktoral para menteri di awal reformasi berfungsi melalui dua mekanisme knowledge-to-governance: substantive specialization dan epistemic transfer.

Artinya, separuh disertasi menyediakan sector-specific expertise, sementara separuh lainnya menyediakan broader intellectual frameworks yang dapat ditransfer ke pemerintahan.

Sepuluh disertasi yang menurut kami memiliki linearitas epistemologis tinggi antara lain:

  1. Renewal without Breaking Tradition: The Emergence of a New Discourse in Indonesia’s Nahdlatul Ulama during the Abdurrahman Wahid Era (Djohan Effendi, Sekretaris Negara).
  2. An Economic Analysis of the Potential for Water Markets in the Great Plains (Alirahman, Sekretaris Negara).
  3. Indonesian Economic Policy, 1950–1980: The Politics of Client Businessmen (Yahya A. Muhaimin, Menteri Pendidikan Nasional).
  4. Justice as the Necessary Virtue: A Study on Adam Smith’s Theory of Justice (Alexander Sonny Keraf, Menteri Negara Lingkungan Hidup).
  5. Modernism and Fundamentalism in Islamic Politics: A Comparative Study of the Masyumi Party in Indonesia and the Jama’at-i-Islami in Pakistan (Yusril Ihza Mahendra, Menteri Hukum dan Perundang-undangan/Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia).
  6. Perkelahian Pelajar: Studi Kasus Potret Perilaku Agresif Siswa SMU di DKI Jakarta (Hasballah M. Saad, Menteri Negara Urusan Hak Asasi Manusia).
  7. Perkembangan Politik Hukum: Studi Tentang Pengaruh Konfigurasi Politik terhadap Produk Hukum di Indonesia (Mahfud MD, Menteri Pertahanan).
  8. TBA Values of Beef Cuts with Differing External Fat Trim Level and Methods of Cookery (Nur Mahmudi Ismail, Menteri Kehutanan dan Perkebunan/Menteri Muda Kehutanan).
  9. The Effect of Ethylenediamine on the Selective Recovery of Some Transition Metals Using Ion Exchange Resins (Rozik Boedioro Soetjipto, Menteri Negara Pekerjaan Umum).
  10. The State, Grassroots Politics and Civil Society: A Study of Social Movements under Indonesia’s New Order (1989–1994) (Muhammad A.S. Hikam, Menteri Negara Riset dan Teknologi).

 

Berikut penjelasan untuk masing-masing disertasi, dimulai dengan deskripsi tokoh, jabatan, tentang apa disertasinya, dan apakah linear secara epistemologis dengan jabatan tersebut:

      1. A Renewal without Breaking Tradition: The Emergence of a New Discourse in Indonesia’s Nahdlatul Ulama during the Abdurrahman Wahid Era

Judul disertasi ini sangat aneh, karena meneliti era Gus Dur itu sendiri. Disertasi ini ditulis oleh Djohan Effendi, menteri sekertaris negara Gus Dur. Beliau menjabat dari tahun 2000-2001 menggantikan Bondan Gunawan. 

Ada kesan kalau disertasi ini ditulis setelah ia menjabat. Tapi kenyataannya, ia ditulis sebelum dia diangkat sebagai Menteri Sekretaris Negara oleh Gus Dur. Jadi era Abdurrahman Wahid yang dikaji dalam disertasi ini bahkan belum selesai. Beliau sendiri menyelesaikan S3 tahun 2000 di Department of Religious Studies, School of Social Inquiry, Faculty of Arts, Deakin University, Australia. Baru pada tahun 2008 disertasi ini diubah ke bentuk buku.

Waktu menulis ini, Effendi sedang menjabat sebagai Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Agama. Gus Dur menjabat sejak tahun 1999. Tahun 2000, disertasi Effendi selesai, dan bulan Agustus tahun itu juga dia diangkat menjadi Mensesneg hingga Juli 2001.

Disertasi ini membahas agama, tradisi, pembaruan, organisasi sosial-keagamaan, dan perubahan wacana. Tidak ada hubungan sektoral langsung dengan tugas Sekretaris Negara.

Namun, kerangka tentang perubahan institusi tanpa menghancurkan tradisi sangat relevan dengan pekerjaan pemerintahan dan hubungan negara dengan kelompok sosial-keagamaan.

Hal menarik lainnya adalah studi ini fokus pada Nahdlatul Ulama, salah satu organisasi Islam terbesar di dunia dan juga Indonesia. Gus Dur sendiri pemimpin NU waktu itu. Saingan NU, Muhammadiyah, juga dikaji dalam disertasi berbeda, kali ini oleh menteri luar negeri, Alwi Shihab. Tapi Alwi Shihab maupun Johan Efendi sama-sama bukan orang organisasi tersebut. Alwi Shihab bukan orang Muhammadiyah, dan malahan, secara tradisi keluarganya jauh lebih dekat ke NU daripada Muhammadiyah karena ia lahir dari latar belakang Arab Hadhrami (keturunan Sayyid/Habib). Pun Djohan Effendi bukan anggota NU, walaupun ia bersahabat karib dengan Gus Dur. Ia lah yang mempopulerkan frasa “pembaharuan tanpa merusak tradisi” sebagai kesimpulan disertasinya tentang NU. 

2.     An Economic Analysis of the Potential for Water Markets in the Great Plains

Disertasi analisis ekonomi potensi pasar air di Great Plains ini ditulis oleh Alirahman, menteri sekretaris negara pertama Gus Dur. Dalam masa pemerintahannya, posisi ini berganti sampai dua kali (berarti ada tiga orang yang pernah menjabat sekretaris negara).

Judul disertasi ini cukup aneh karena merujuk pada Great Plains, yang merupakan kawasan dataran di Amerika Serikat. Jadi studinya dilakukan di Amerika Serikat. Tapi perlu berhati-hati di sini. Biografi umumnya menempatkan nama beliau saja, mengatakan kalau beliau lulusan dari Colorado State University, Amerika Serikat, tahun 1985 dalam sektor Agricultural and Natural Resource Economics. Saya mencari-cari judul disertasinya pada kampus CSU tersebut tapi tidak dapat. Judul disertasi ini bisa didapatkan di American Journal of Agricultural Economics, Vol. 68, No. 2 (May, 1986), pp. 507-517, karena itu adalah daftar semua doktor yang lulus d ibidang ekonomi pertanian di Amerika Serikat pada tahun 1985 beserta judul disertasinya. Tapi saya tidak dapat mengaksesnya. Judul di atas diperoleh dari pertanyaan terhadap AI Gemini milik Google. Ketika ditanya darimana ia mendapatkan judul tersebut, Gemini mengatakan kalau ia memperolehnya dari rekonstruksi data akademik Ir. Alirahman, M.Sc., Ph.D, melalui katalog sejarah publikasi ilmiah dan basis data perpustakaan. Tapi ia memberikan link perpusnas dan Wikipedia yang ketika ditelusuri, juga tidak mengandung disertasi yang dimaksud. Ketika saya tanya kenapa judulnya aneh, dia memberikan tiga alasan: lokasi universitas dan akses data karena Colorado itu ada di wilayah Great Plains, isu krisis air yang sangat mirip, dan kebutuhan transfer ilmu untuk Indonesia, khususnya masalah pengairan, terbukti sepulang dari kuliah, Ir. Alirahman langsung ditugaskan menjadi Kepala Biro Pertanian dan Pengairan di Bappenas. Di sinilah beliau merancang kebijakan sistem irigasi, tat akelola pengairan sawah, dan pembangunn sektor pertanian Indonesia dengan mengadopsi teori-teori manajemen air ynag ia teliti selama di Amerika.

Jika ia menjadi pejabat pertanian/pengairan, kita mungkin dapat menyebutnya substantive. Tetapi sebagai Sekretaris Negara, tidak ada hubungan langsung antara water markets in the Great Plains dengan portofolio Sekretariat Negara.

Yang dapat ditransfer adalah kemampuan dalam analisis ekonomi, pengelolaan sumber daya, kebijakan publik, dan pengambilan keputusan berbasis bukti.

3.     Indonesian Economic Policy, 1950-1980: The Politics of Client Businessmen

Salah seorang menteri Gus Dur adalah lulusan dari perguruan tinggi teknik terbaik di dunia, Mas1sachusets Institute of Technology (MIT). Beliau adalah Yahya Muhaimin. Disertasinya mengkaji kebijakan ekonomi Indonesia tahun1950-1980 dan mengangkat tema Politik pengusaha klien. Yahya Muhaimin sendiri adalah Menteri Pendidikan Nasional 1999-2001. Jadi dia tidak pernah diganti.

Disertasinya mengenai ekonomi-politik dan hubungan pengusaha dengan negara, bukan pendidikan.

Namun ia memberikan kapasitas epistemik mengenai institusi, kekuasaan, kebijakan publik, birokrasi, dan hubungan negara–masyarakat.

4.     Justice as the Necessary Virtue: A Study on Adam Smith’s Theory of Justice

Filsafat adalah bidang ilmu yang sangat umum. Salah seorang menteri Gus Dur adalah doktor di bidang ini, Doktor Sonny Keraf. Beliau adalah menteri negara lingkungan hidup, menjabat 1999-2001. 

Beliau lulus dari Katholieke Universiteit (KU) Leuven, Belgia tahun 1995. Tesis S2 beliau dilakukan di kampus yang sama, tepatnya di Higher Institute of Philosophy. Secara spesifik, beliau mengkaji hukum kodrat dan hak milik, dan selanjutnya berkembang menuju etika lingkungan hidup serta filsafat lingkungan hidup. Rantai intelektual yang mungkin menghubungkan tema disertasinya tentang Adam Smith itu datang dari keadilan, yang membawa pada etika, kemudah berpusat pada hubungan manusia dan masyarakat, ynag berimplikasi pada tanggungjawab moral, kebijakan publik, etika lingkungan, dan akhirnya lingkungan hidup. Jadi walaupun disertasinya bukan tentang ilmu lingkungan, fokusnya pada Adam Smith membangun rantai intelektual/epistemologis pada etika lingkungan. Dalam hal ini, disertasi membeirkan kerangka berpikir tentang institusi, kekuasaan, ekonomi, masyarakat, ataupun kebijakan, meskipun tidak berhubungan langsung dengan kementerian.

5.     Modernism and Fundamentalism in Islamic Politics: A Comparative Study of the Masyumi Party in Indonesia and the Jama’at-i-Islami in Pakistan

Disertasi ini adalah disertasi dari Yusril Ihza Mahendra dari Universiti Sains Malaysia (USM) tahun 1993. Kelak di tahun 2026, beliau meraih doktor keduanya dari Universitas Indonesia dengan judul Penafsiran Kembali Pemikiran Mohammad Natsir tentang Relasi Islam dengan Negara: Sebuah Telaah Filsafat dengan Pendekatan Hermeneutika Fenomenologis-Eksistensial. Dalam kabinet Gus Dur, Yusril menjadi menteri Hukum dan Perundang-Undangan, tahun 1999-2001. Beliau memutuskan mengundurkan diri di bulan Februari karena tidak lagi sejalan dengan kabinet Gus Dur.

Disertasinya memang berbicara tentang Islam dan politik, tetapi bukan tentang hukum positif atau administrasi kehakiman.

Relevansinya terletak pada pemahaman tentang negara, agama, ideologi, politik, konstitusionalisme, dan hubungan agama–negara.

6.     Perkelahian Pelajar: Studi Kasus Potret Perilaku Agresif Siswa SMU di DKI Jakarta

Judul disertasi tentang perkelahian pelajar ini adalah karya dari Hasballah M. Saad yang didapatkannya tahun 1999 dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Hasballah sendiri adalah menteri negara urusan hak asasi manusia selama satu tahun (1999-2000). Ketika kementerian ini dilebur dengan Kementerian Hukum dan Perundang-Undangan, Saad tidak lagi menjabat menteri.

Ada hubungan sosial dengan HAM, tetapi objek langsung disertasinya adalah perilaku agresif pelajar, bukan hak asasi manusia.

Pengetahuan yang diperoleh lebih berupa pemahaman tentang perilaku sosial, konflik, kekerasan, dan kelompok sosial, yang kemudian dapat ditransfer ke kebijakan HAM.

7.     Perkembangan Politik Hukum: Studi Tentang Pengaruh Konfigurasi Politik terhadap Produk Hukum di Indonesia

Mahfud MD adalah satu dari sedikit menteri bergelar doktor yang diperoleh dari dalam negeri. Disertasinya dipertahankan di UGM tahun 1993, di bidang ilmu hukum. Judulnya mengenai pengaruh konfigurasi politik terhadap produk hukum menunjukkan pemahaman terhadap pentingnya politik dalam mengendalikan perkembangan hukum di Indonesia.

Beliau kemudian masuk sebagai menteri pertahanan pada 28 Agustus 2000 menggantikan Juwono Sudarsono, hingga tahun 2001. Disertasinya adalah politik hukum, sedangkan jabatan yang diberikan Gus Dur adalah Menteri Pertahanan. Tidak ada kesesuaian substantif langsung antara political configuration and legal products dengan pertahanan. 

Tetapi ia memiliki modal epistemik mengenai negara, kekuasaan, hukum, institusi, dan politik, yang dapat digunakan dalam pemerintahan.

Ia sempat menjabat menteri hukum dan perundang-undangan tetapi hanya tiga hari (20-23 Juli 2001) karena Gus Dur terlanjur lengser. Ia baru diangkat lagi menjadi menteri di era Joko Widodo sebagai Menko Polhukam 2019-2024.

8.     TBA Values of Beef Cuts with Differing External Fat Trim Level and Methods of Cookery

Disertasi ini adalah disertasi dalam bidang ilmu dan teknologi pangan yang dikeluarkan oleh Texas A&M University. Ini adalah disertasi dari Nur Mahmudi Ismail. TBA adalah thiobarbituric acid. Nilai TBA digunakan untuk mengukur oksidasi lemak dan ketengikan oksidatif (malondialdehyde) pada daging sapi yang sudah dimasak. Jadi pada dasarnya, penelitian tersebut mengukur laju ketengikan pada berbagai potongan daging. Temuan menunjukkan bahwa metode memasak yang terlalu lambat dan penyimpanan hangat (holding) lebih berperan memicu ketengikan dibandingkan dengan tingkat ketebalan lemak luar pada daging panggang.

Tetapi, Nur Mahmudi Ismail adalah menteri kehutanan dan perkebunan pertama tahun 1999-2001 sebelum digantikan oleh Marzuki Usman. Objek disertasi adalah ilmu pangan dan daging, sedangkan portofolionya adalah kehutanan dan perkebunan.

Tidak ada hubungan substantif yang memadai.

Yang dapat dibawa ke pemerintahan adalah scientific training, experimental analysis, quantitative reasoning, dan problem-solving.

9.     The Effect of ethylenediamine on the selective recovery of some transition metals using ion exchange resins

Judul disertasi tentang etilenediamine ini adalah disertasi dari Dr. Rozik Boedioro Soetjipto. Disertasi ini diselesaikan di Universitas Katolik Leuven, Belgia. Jadi dia satu almamater dengan menteri lainnya, Gorys Keraf. Disertasi ini diselesaikan tahun 1982 dan dipublikasikan di jurnal Hydrometallurgy pada tahun yang sama. Dalam disertasinya, beliau menganalisis pemisahan dan pengambilan kembali beberapa jenis logam transisi secara selektif dengan zat kimia etilenediamine menggunaka media utama resin penukar ion dalam proses pemurnian tersebut.

Rozik menjabat sebagai Menteri Negara Pekerjaan Umum 1999-2000. Kementerian ini dibubarkan tahun 2000. Selain sebagai Menteri Negara Pekerjaan Umum, Disertasinya berada dalam kimia, metalurgi, dan pengolahan logam, sedangkan ia menjadi Menteri Pekerjaan Umum. Karena itu, hubungan sektoral langsung tidak cukup kuat. Namun pendidikan tersebut memberikan scientific reasoning, engineering orientation, technological problem-solving, dan kapasitas teknokratis. Maka dari itu, disertasi beliau juga mengantarnya menjadi Dirjen Pertambangan Umum hingga Presiden Direktur PT. Freeport Indonesia.

10.  The State, Grasroots Politics and Civil Society: A Study of Social Movements under Indonesia’s New Order (1989-1994)

Disertasi tentang orde baru ini ditulis oleh Muhammad A.S. Hikam. Fokus studi ini pada negara, gerakan akar rumput, civil society, dan demokratisasi. Penelitian disertasi ini mempelajari gerakan sosial di masyarakat pada masa Orde Baru tahun 1989-1994.

Beliau menjabat sebagai menteri negara riset dan teknologi tahun 1999-2001. Ini kasus yang menarik. Ada hubungan dengan riset sosial, tetapi objek disertasinya bukan teknologi atau kebijakan riset-teknologi.

Hubungannya lebih kuat melalui kapasitas epistemik mengenai negara, masyarakat sipil, gerakan sosial, demokrasi, dan perubahan institusional.

Berbagai disertasi dalam hubungan epistemik dalam artikel ini menunjukkan kalau pemerintah tidak harus secara langsung mengimplementasikan ilmu seorang doktor ke bidang yang relevan. Seorang doktor juga terlatih dalam pemikiran konseptual, metode ilmiah, berpikir kritis, novelty, dan bahkan pelaksanaan penelitian empiris secara seksama. Aspek ini lebih bersifat umum daripada konsentrasi spesifik bidang ilmu. Kapasitas inilah yang berkontribusi pada bidang-bidang yang seolah tidak relevan tersebut. Contoh yang paling jelas adalah bagaimana bidang filsafat moral yang diteliti Sonny Keraf diterapkan pada konteks lingkungan hidup. Penerapan ini membawa pada etika lingkungan hidup yang seharusnya lebih ketat. 


Jadi, ada dua bentuk linearitas yang perlu dibedakan ketika kita berbicara tentang hubungan antara pendidikan doktoral dan pekerjaan setelah lulus. Linearitas pertama adalah linearitas substantif, yaitu ketika bidang kajian disertasi berhubungan langsung dengan bidang pekerjaan atau jabatan yang kemudian dijalankan. Namun ada pula linearitas epistemik, yang jauh lebih dalam dan tidak hilang hanya karena seorang doktor bekerja di luar bidang spesifik disertasinya. Pendidikan doktoral pada dasarnya melatih seseorang untuk berada pada tingkat tertinggi dalam produksi pengetahuan: menemukan dan merumuskan masalah, mengidentifikasi research gap, mempertanyakan asumsi dan paradigma, membangun atau mengembangkan teori dan konsep, memilih metode yang tepat, menyelidiki persoalan secara mendalam dan teliti, menguji argumen, serta mempertanggungjawabkan jawaban secara ilmiah. 

Bahkan kemampuan tersebut dapat dilihat dari judul disertasi itu sendiri. Judul-judul yang telah kita lihat—mulai dari Preventing the Dutch Disease, State Formation, Party System, and the Prospect for Democracy in Indonesia, Energy and Development Planning with a Social Accounting Matrix Model, hingga The Muhammadiyah Movement and Its Controversy with Christian Mission in Indonesia—bukan sekadar nama karya akademik, tetapi merupakan jejak dari proses intelektual ketika seseorang berhasil menemukan persoalan yang layak diteliti dan kemudian mengubahnya menjadi pertanyaan ilmiah. 

Karena itu, seorang doktor tidak perlu merasa kehilangan relevansi hanya karena setelah lulus ia tidak bekerja persis pada bidang yang diteliti dalam disertasinya. Jabatannya mungkin tidak lagi linear secara substantif, tetapi kapasitas epistemiknya tetap melekat. Justru kemampuan menemukan masalah, membongkar persoalan, dan menghasilkan pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan itulah salah satu modal paling berharga yang dibawa seorang doktor ke mana pun ia bekerja.

Persoalannya, dunia akademik hari ini menghadapi tantangan yang berbeda. Dengan bantuan AI, seseorang dapat meminta seratus judul penelitian dalam hitungan detik. Judul-judul tersebut bahkan dapat dibuat terdengar sangat akademik, lengkap dengan variabel, teori, konteks, dan metode. Tetapi pertanyaan yang jauh lebih penting bukanlah "berapa banyak judul yang dapat dibuat AI?" melainkan: Mana yang benar-benar merupakan masalah penelitian? Di sinilah proses studi doktoral membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan menghasilkan teks. Peneliti perlu menemukan research gap yang substantif, theoretical gap, empirical gap, contextual gap, atau methodological gap; mengenali kontradiksi hasil penelitian; serta menemukan pertanyaan yang sampai sekarang belum memperoleh jawaban memadai. 

Dengan kata lain, konsultan tidak menjual jawaban, tetapi membantu menemukan pertanyaan yang layak ditanyakan. Melalui Jasa Asistensi Studi Doktoral, proses tersebut dapat dibantu mulai dari pemetaan masalah dan research gap, pengembangan konsep dan teori, perumusan pertanyaan penelitian, hingga penguatan rancangan riset—bukan untuk menggantikan peneliti, tetapi membantu memastikan bahwa penelitian yang dibangun memang berangkat dari persoalan ilmiah yang nyata. Jika anda tertarik dengan tawaran kami, untuk informasi dan asistensi hubungi kami di: penulismemori@gmail.com atau WA 0857 5950 1735.


No comments:

Post a Comment