Dalam artikel sebelumnya, kita telah memformulasikan 20 disertasi yang mengubah Indonesia di Awal Reformasi. Sekarang kita akan mengurai 10 di antaranya. Kita akan mulai dari sembilan orang menteri kabinet Gus Dur dengan sepuluh disertasinya. Ya, ada satu orang yang memiliki dua gelar doktor: Bapak Alwi Abdurrahman Shihab. Dalam bagian ini, kita bicara tentang linearitas substantif, yaitu kesesuaian antara apa yang dipelajari dan dihasilkan oleh disertasi dengan tugas kerja di kabinet. Dikatakan substantif karena objek studi secara nyata ditranslasikan ke pekerjaan, seperti dari formulasi menuju ke implementasi. Selinier itu.
Sepuluh disertasi menurut kami yang memiliki linearitas tinggi dengan jabatan menteri adalah sbb:
- Rokhmin Dahuri, Menteri Kelautan dan Perikanan: An Approach to Coastal Resources Utilization: The Nature and Role of Sustainable Development in East Kalimantan Coastal Zone, Indonesia
- Mohamad Prakosa, Menteri Pertanian dan Kehutanan: An Economic Analysis of Indonesian Tropical Forest Utilization
- Bungaran Saragih, Menteri Pertanian dan Kehutanan: Economic Organization, Size, and Relative Efficiency: The Case of Oil Palm Plantations in Northern Sumatra, Indonesia
- Purnomo Yusgiantoro, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral: Energy and Development Planning with a Social Accounting Matrix Model: The Case of Indonesia
- Juwono Sudarsono, Menteri Pertahanan: Indonesia and the United States 1966–75: An Inquiry into a de facto Alliance Relationship
- Alwi Abdurrahman Shihab, Menteri Luar Negeri: Islamic Sufism and Its Impact on Indonesian Contemporary Sufism
- Rizal Ramli, Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan dan Industri: Preventing the Dutch Disease.
- Muhammad Ryaas Rasyid, Menteri Negara Otonomi Daerah: State Formation, Party System, and the Prospect for Democracy in Indonesia: The Case of Golongan Karya, 1967–1993
- Bambang Sudibyo, Menteri Keuangan: The Adequacy of CPA’s Understanding of Relative Seriousness of Alpha and Beta Risks in Statistical Audit Sampling
- Alwi Abdurrahman Shihab, Menteri Luar Negeri: The Muhammadiyah Movement and Its Controversy with Christian Mission in Indonesia
Baik, mari kita bahas satu per satu. Kita akan mulai tentang identitas
penulis beserta masa jabatannya. Kemudian linearitas. Diakhiri dengan bukti.
1. An Approach ot Coastal Resources Utilization: The Nature and Role of Sustainable Development in East Kalimantan Coastal Zone, Indonesia
Disertasi tentang pendekatan pemanfaatan sumberdaya pesisir ini adalah
disertasi doktor di bidang ekologi dan pengelolaan sumberdaya pesisir/laut dari
Dalhousie University, tahun 1991. Disertasi ini dibuat oleh Rokhmin Dahuri,
Menteri Kelautan dan Perikanan. Jabatannya sangat liniear dengan bidang
ilmunya, manajemen sumberdaya pesisir. Ini merupakan contoh paling kuat. Objek disertasinya
adalah sumber daya pesisir, pembangunan berkelanjutan, dan pengelolaan
wilayah pesisir, sedangkan jabatan yang diembannya adalah Menteri Kelautan
dan Perikanan.
Sebenarnya Dahuri hanya sebulan berada di bawah kabinet Gus Dur. Beliau
menggantikan Sarwono Kusumaatmadja yang sudah menjabat selama dua tahun yaitu
Juni-Juli 2001. Tapi beliau langsung direkrut oleh Megawati hingga 20 Oktober
2004, tetap sebagai menteri kelautan dan perikanan Indonesia.
Rokhmin adalah kasus yang agak paradoks. Secara akademik, linearitasnya
hampir sempurna: disertasi tentang pemanfaatan sumber daya pesisir dan
pembangunan berkelanjutan, kemudian menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan.
Tetapi ia hanya berada sekitar satu bulan dalam Kabinet Gus Dur. Jadi
kalau pertanyaannya adalah "apakah linearitas keahlian menghasilkan
efektivitas selama Kabinet Gus Dur?", jawabannya belum dapat
dinilai secara memadai. Satu bulan terlalu pendek untuk menghasilkan
kebijakan besar yang dapat diatribusikan kepada dirinya.
Namun kasusnya berubah ketika masa jabatan diperluas ke pemerintahan
Megawati. Ia tetap menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan sampai 2004. Artinya,
presiden berikutnya mempertahankan orang yang sama di portofolio yang sama.
Linearitasnya tampaknya tidak hanya cocok menurut CV, tetapi juga diakui
secara institusional oleh pemerintahan berikutnya.
2. An Economic Analysis of Indonesian Tropical Forest Utilization
Mohamad Prakosa adalah salah seorang menteri yang merupakan alumni UC
Berkeley, perguruan tinggi dari banyak ekonom besar Orde Baru. Beliau lulus
tahun 1994. Beliau adalah menteri pertanian dan lulus dari UC Berkeley.
Kompetensinya adalah pemanfaatan sumber daya hutan tropis. Disertasinya secara
langsung membahas pemanfaatan hutan tropis Indonesia, sedangkan
portofolio kementeriannya mencakup pertanian dan kehutanan.
Prakosa menjabat sebagai menteri pertanian selama satu tahun (1999-2000)
sebelum akhirnya digantikan oleh Bungaran Saragih. Ini menarik karena kita harus
membedakan "memiliki kompetensi" dengan "sempat menggunakan
kompetensi". Prakosa memiliki kompetensi yang sangat relevan, tetapi
masa jabatannya tidak cukup panjang untuk memberikan bukti kuat bahwa
kompetensi tersebut diterjemahkan menjadi kebijakan yang berhasil.
3. Economic Organization, Size, and Relative Efficiency: The Case of Oil Palm Plantations in Northern Sumatra, Indonesia
Disertasi mengenai tata kelola bisnis tanaman kelapa sawit di Sumatera Utara ini diajukan
untuk meraih gelar doktor dalam bidang ekonomi dalam konsentrasi sosiologi
perdesaan dari North Carolina University, 1980. Ini adalah disertasi dari
Bungaran Saragih, tokoh yang menggantikan Mohamad Prakosa sebagai menteri pertanian.
Objek
penelitian adalah perkebunan kelapa sawit dan ekonomi organisasi pertanian.
Ini sangat dekat dengan urusan pertanian, perkebunan, dan sumber daya agraria.
Saragih menjabat satu tahun juga, dari Agustus 2000-Juli 2001. Beliau
meneruskan jabatannya setelah presiden berganti hingga tahun 2004. Karena itu,
efektivitas linearitas Bungaran tidak cukup dilihat dari satu tahun Kabinet Gus
Dur. Ia harus dilihat sebagai kesinambungan keahlian pertanian dalam
pemerintahan transisi.
Yang menarik lagi, pemikiran Bungaran mengenai pertanian memang sangat
kuat pada pendekatan agribisnis, efisiensi, produktivitas, dan keterkaitan
antara petani, industri, teknologi, dan pasar—tema yang secara konseptual
sangat dekat dengan disertasinya.
4. Energy and Development Planning with a Social Accounting Matrix Model: The Case of Indonesia
Ada linearitas struktural yang kuat antara disertasi Purnomo Yusgiantoro mengenai sistem neraca sosial ekonomi dalam bidang energi untuk perencanaan pembangunan, dengan jabatannya di kementerian ESDM. Beliau menyelesaikan doktor di Colorado School of Mines, sekolah pertambangan Colorado. Lulus tahun 1988, beliau diangkat menjadi menteri energi dan sumber daya mineral tahun 2000 oleh Gus Dur, menggantikan Susilo Bambang Yudhoyono. Ini bahkan hampir merupakan perfect match: energy dan development planning lalu menjadi Menteri ESDM.
Beliau menjabat hingga 2001 lalu meneruskan di masa Megawati, lalu
meneruskan lagi ke masa Susilo Bambang Yudhoyono. Beliau menjadi menteri yang
sama di bawah Presiden yang dulu ia gantikan sebagai menteri. Ia menjabat
hingga tahun 2009. Di masa kabinet kedua SBY, Purnomo menjadi menteri
pertahanan. Tahun 2024, beliau menjadi penasihat khusus presiden Prabowo untuk bidang
Energi.
Yang membuatnya sangat kuat adalah durasi dan kontinuitas. Ia
mulai menjadi Menteri ESDM pada era Gus Dur, kemudian bertahan pada
pemerintahan Megawati, dan kemudian kembali berada dalam pemerintahan SBY.
Bahkan setelah tidak lagi menjadi Menteri ESDM, kapasitasnya tetap digunakan
dalam bidang energi.
Bahkan ada semacam natural experiment: Purnomo menggantikan
SBY sebagai Menteri ESDM, kemudian beberapa tahun kemudian justru SBY menjadi
presiden dan mempertahankan Purnomo sebagai Menteri ESDM. Itu menunjukkan
bahwa kegunaan keahliannya tidak hanya dinilai oleh satu presiden atau satu
konfigurasi politik.
5. Indonesia and the United States 1966-75: An Inquiry into a de facto Alliance Relationship
Disertasi tentang hubungan Indonesia dan Amerika Serikat tahun 1966-1975, segera setelah peristiwa G30SPKI hingga Soeharto stabil menjabat tersebut ditulis oleh Juwono Sudarsono. Beliau lulus tahun 1978 di London
School of Economics and Political Science (LSE), Universitas London. Disertasi
Juwono memiliki linearitas secara substantif antara kebijakan luar negeri
dengan pertahanan. Memang disertasinya lebih tepat disebut kajian hubungan
internasional dan politik luar negeri daripada pertahanan dalam pengertian
teknis. Namun objeknya adalah relasi strategis Indonesia–Amerika Serikat dan
aliansi de facto, yang memiliki keterkaitan langsung dengan strategi,
keamanan, dan pertahanan negara. Karena kita menilai substantive
correspondence, bukan kesamaan nama disiplin, kasus ini masih dapat
dimasukkan ke substantif.
Beliau menjabat menteri pertahanan selama satu tahun sebelum digantikan
oleh Mahfud MD. Kalau hanya menggunakan durasi, kita bisa salah membaca kasus
ini sebagai kurang berhasil. Padahal konteksnya berbeda. Juwono menjadi figur
penting dalam pergeseran menuju pertahanan yang lebih bercorak sipil
pada periode reformasi.
Disertasinya mengenai hubungan Indonesia–Amerika Serikat dan de facto
alliance relationship memberikan basis epistemik-substantif mengenai strategi,
geopolitik, hubungan antarnegara, dan keamanan.
Masa jabatan pendek karena itu lebih tepat dibaca sebagai batasan
politik terhadap penggunaan keahlian, bukan sebagai bukti bahwa keahlian
tersebut tidak berguna.
6. Islamic Sufism and Its Impact on Indonesian Contemporary Sufism.
Disertasi ini adalah salah satu disertasi dari Alwi Shihab, menteri luar negeri. Ya, beliau memiliki dua gelar doktor. Gelar ini yang pertama, diperoleh dari Ain Shams University, tahun 1990. Disertasi beliau tentang sufisme dalam Islam dan bagaimana sufisme ini berdampak pada masyarakat Indonesia. Shihab berpendapat bahwa sufisme adalah kendaraan besar penyebaran agama Islam di Asia Tenggara dan ini menjadikan karakteristik Islam di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, adalah agama yang lebih berorientasi pada perdamaian dan refleksi diri.
Hubungan Islam dan lintas agama, yang
menjadi disertasi dari Alwi Shihab, memiliki linearitas substantif dengan
urusan luar negeri. Hubungannya
dengan Menteri Luar Negeri memang tidak sedirect Rokhmin–kelautan. Tetapi studi
mengenai Islam Indonesia, sufisme, dan dinamika Islam kontemporer
memiliki relevansi substantif terhadap diplomasi Indonesia, khususnya
diplomasi keagamaan, hubungan antarnegara Muslim, dan soft power
Indonesia.
Alwi Shihab menjabat sebagai Menteri Luar Negeri sepanjang kabinet Gus
Dur. Di masa Megawati, beliau tidak diangkat menteri, tapi di masa SBY, beliau
diangkat sebagai menteri koordinator bidang kesejahteraan rakyat, tapi hanya
selama setahun (2004-2005) sebelum digantikan oleh Aburizal Bakrie.
Ia menjabat sebagai Menteri Luar Negeri sepanjang Kabinet Gus Dur.
Dibandingkan beberapa tokoh lain, ini memberikan waktu yang cukup untuk menguji
relevansi keahliannya.
Yang menarik adalah jenis efektivitasnya. Kita tidak seharusnya mencari
keberhasilan dalam bentuk "jumlah produksi" atau "angka
ekspor". Untuk Menteri Luar Negeri, outputnya adalah diplomasi,
hubungan internasional, komunikasi antaragama, dan representasi Indonesia.
Dengan demikian, dua disertasinya menyediakan modal yang sangat relevan
untuk diplomasi berbasis identitas, agama, pluralisme, dan hubungan
antarperadaban.
Bahwa ia kemudian dipercaya menjadi Menko Kesra pada masa SBY juga
menunjukkan bahwa kompetensinya tidak dianggap hanya berguna untuk diplomasi.
7. Preventing the Dutch Disease
Disertasi dengan judul pendek ini adalah disertasi dari Rizal Ramli. Ia
mendapatkannya dari Boston University tahun 1990. Dan bukan, ini bukan bidang
ilmu kesehatan. Penyakit Belanda yang dimaksud disini adalah sebuah fenomenaekonomi dimana terjadi lonjakan pendapatan dari satu sektor komoditas alam
utama (seperti minyak bumi atau gas alam). Dikatakan penyakit karena lonjakan
ini dapat melemahkan sektor ekonomi lainnya seperti manufaktur dan pertanian
karena apresiasi nilai tukar mata uang. Rizal Ramli merumuskan strategi,
kebijakan fiskal, dan intervensi moneter makro untuk mencegah dan
mengantisipasi gelembung ekonomi tersebut. Ini jelas berada dalam wilayah ekonomi
makro, kebijakan fiskal, struktur ekonomi, komoditas, dan pembangunan.
Bahkan problem Dutch Disease secara langsung berkaitan dengan kebijakan
ekonomi negara.
Rizal Ramli menjabat menteri keuangan selama satu bulan saja (Juni-Juli
2001) menggantikan Prijadi Praptosuhardjo. Sebelum itu, beliau adalah Menteri Koordinator
Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri selama 1 tahun (2000-2001) menggantikan
Kwik Kian Gie. Posisinya di kementerian ini sendiri digantikan oleh Burhanuddin
Abdullah. Di masa Jokowi, beliau diangkat menjadi Menteri Koordinator Bidang Maritim
dan Sumber Daya Indonesia, tapi hanya setahun (2015-2016).
Disertasinya mengenai Dutch Disease sangat relevan dengan ekonomi
makro. Ia bahkan menjadi Menko Ekuin, posisi yang secara substansial sangat
dekat dengan bidang tersebut.
Tetapi kemudian ia hanya menjadi Menteri Keuangan selama sekitar satu
bulan.
Ini justru memberikan pelajaran metodologis yang sangat penting:
Linearitas keahlian tidak identik dengan stabilitas
politik.
Seseorang bisa sangat cocok secara akademik dengan suatu jabatan tetapi
tetap tidak bertahan karena konflik politik, perbedaan visi, perubahan
koalisi, atau pergantian pemerintahan.
8. State Formation, Party System, and the Prospect for Democracy in Indonesia: The Case of Golongan Karya, 1967-1993
Disertasi tentang perkembangan Golkar mulai dari berdirinya Orde Baru hingga hubungannya dengan demokrasi tersebut dibuat oleh Muhammad Ryaas Rasyid.
Fokusnya ada pada negara, sistem kepartaian, Golkar, dan demokrasi. Disertasinya membahas pembentukan
negara, sistem kepartaian, demokrasi, dan hubungan politik. Ini memiliki
hubungan substantif dengan persoalan pemerintahan daerah, negara, institusi
politik, dan demokratisasi yang menjadi konteks otonomi daerah.
Beliau menjabat Menteri Negara Otonomi Daerah selama 1 tahun sebelum
kementerian itu digabung ke Kementerian Dalam Negeri. Ketika jabatan ini
digabung, Ryaas Rasyid ditempatkan sebagai Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur
Negara. Tanggal 3 Januari 2001 beliau mengundurkan diri karena berbeda visi
dengan Gus Dur. Ini
adalah contoh yang sangat penting, dimana keahlian yang linear tidak selalu
menghasilkan masa jabatan yang panjang karena efektivitas menteri juga
bergantung pada compatibility dengan presiden.
9. The adequacy of CPA’s understanding of relative seriousness of alpha and beta risks in statistical audit sampling
Menteri keuangan Bambang Sudibyo meraih gelar doktor dari University of Kentucky, Amerika Serikat. Bambang memiliki disertasi di bidang auditing/risiko dan akuntansi perilaku. CPA adalah certified public accountant, akuntan publik bersertifikat. Studi ini membaca pemahaman mereka atas keseriusan risiko alfa dan beta dalam sampling audit statistik. Risiko alfa adalah risiko menolak sesuatu yang seharusnya diterima, sedangkan risiko beta adalah risiko menerima sesuatu yang seharusnya ditolak. Risiko beta berdampak pada efektivitas audit dan beban hukum sedangkan risiko alfa pada efisiensi audit.
Disertasi ini linear secara substantif dengan posisinya
sebagai menteri keuangan. Beliau lulus tahun 1985 di bidang Business
Administration. Ini
merupakan hubungan yang sangat langsung dengan auditing, accounting,
statistical risk, dan financial governance. Walaupun disertasinya bukan
tentang "kementerian keuangan" secara eksplisit, kompetensi
substantifnya jelas berada dalam domain keuangan.
Namun ia hanya menjabat sekitar satu tahun. Beliau menjabat sebagai menteri keuangan selama satu tahun, 1999-2000. Maka kasus ini mirip Prakosa: kita dapat mengatakan bahwa kompetensinya relevan, tetapi sulit mengatakan bahwa masa jabatan tersebut menyediakan bukti cukup untuk mengukur dampak keahliannya terhadap kinerja kementerian.
10. The Muhammadiyah Movement and Its Controversy with Christian Mission in Indonesia
Ini adalah disertasi kedua Alwi Shihab, menteri luar negeri. Disertasi ini fokus pada hubungan antar keyakinan. Ia mendapatkan gelar doktor kedua lima tahun setelah doktor pertama yaitu dari Temple University, tahun 1995. Ini adalah disertasi kedua Alwi. Fokusnya pada Islam, Muhammadiyah, misi Kristen, dan hubungan antaragama. Disertasi ini berkaitan dengan sejarah dimana Muhammadiyah itu muncul pada tahun 1912 di saat misi kristenisasi sedang menjamur di Indonesia melalui pendekatan kesejahteraan sosial. Alih-alih melakukan konfrontasi dengan misionaris, Muhammadiyah bersaing secara sosial dengan misi Kristen dengan melakukan aktivitas kesejahteraan sosial yang lebih masif lagi.
Sebagai Menteri Luar Negeri, pengetahuan tersebut dapat
digunakan secara langsung dalam diplomasi agama, hubungan antarperadaban,
pluralisme, dan hubungan Indonesia dengan negara-negara lain.
Dan masa jabatannya selama seluruh Kabinet Gus Dur membuat alignment tersebut sempat digunakan dalam praktik.
Dari 10 disertasi ini kita tahu bahwa Kabinet Gusdur memahami
bahwa sumberdaya pesisir serta sumberdaya hutan tropis. Kabinet ini juga paham
bahwa perkebunan kelapa sawit juga penting karena memiliki nilai ekonomi yang
besar. Kandungan energi yang dimiliki
Indonesia di dalam perut bumi nya juga tidak kalah pentingnya. Semua itu harus
dikelola secara seimbang dan hati-hati baik dalam aspek distribusi sumber
pendapatan, ketelitian keuangan, maupun dalam memberikan dampak pada pembangunan
berkelanjutan.
Kabinet ini juga paham bahwa hubungan dengan Amerika Serikat
itu penting, begitu juga dengan negara-negara Timur Tengah maupun kelompok
Kristen. Mereka juga paham bahwa sejarah yang ada di belakang mereka, warisan
Orde Baru, masih menjadi sebuah tantangan untuk diatasi.
Mereka memiliki pengetahuannya, orang-orang yang menelitinya
telah menjadi doktor dan menteri di kabinet. Masih ada elemen lain dari
pengetahuan ini, sumber epistemik, yaitu pengetahuan dimana ada kesejajaran
antara ilmu pengetahuan yang memayungi suatu topik dengan fokus kementerian. Kita
akan masuk ke kelompok disertasi kedua.
Selanjutnya kita memasuki 10 disertasi dengan linearitas epistemologis dengan jabatan menteri Gus Dur.


No comments:
Post a Comment