Berikut kami sajikan contoh disertasi bab 3 yaitu tentang metode penelitian. Contoh ini mengilustrasikan bagaimana model disertasi bab 3 yang kami kerjakan. Disertasi berjudul “Aktualisasi Diri pada guru Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Menengah Atas”
BAB 3
METODOLOGI
A. Pendahuluan
Definisi aktualisasi diri yang digunakan dalam penelitian ini telah dibahas dalam dua bab sebelumnya. Aktualisasi diri dibingkai sebagai puncak tertinggi kebutuhan manusia. Aktualisasi diri dalam pendidikan berhubungan dengan kebutuhan puncak guru dan siswa untuk menciptakan dan menunjukkan minat dan kapasitas berdasarkan potensi diri individu (Huffman dan Vernoy, 1987). Ia berarti keinginan untuk mencintai, pengalaman puncak, mengalami kreativitas, apresiasi segar dan otonomi (Maslow, 1970). Seorang dengan aktualisasi diri tidak merasa malu dengan emosinya, independen terhadap harapan orang lain, percaya bahwa manusia pada dasarnya baik dan dapat dipercaya dan merasa bebas untuk marah pada orang yang dicintai (Flett et al, 1991; Ryff, 1989). Ia ber-evolusi dari afiliasi (Francis dan Kritsonis, 2006). Aktualisasi diri merupakan pengetahuan yang lebih penuh dan penerimaan atas sifat intrinsik individual (Maslow, 1982). Walau begitu, anak-anak telah memiliki aktualisasi diri yang alamiah seperti yang ditunjukkan bayi yang merangkak tanpa memerlukan motivasi (Skinner, 1948). Seperti yang telah dijelaskan dalam tinjauan pustaka, literatur ilmiah terkait dengan aktualisasi diri dalam pendidikan juga menunjukkan gap dimana pendidikan menekan salah satu atau beberapa aspek aktualisasi diri ini pada anak.
Penelitian kualitatif ini dilakukan untuk mengeksplorasi pemahaman guru TK dalam memahami aktualisasi diri peserta didik dan bagaimana pendapat mereka mengenai bagaimana pendidik dapat mendukung tipe kebutuhan ini di ruang kelas. Penelitian ini juga bertujuan untuk menyelidiki bagaimana guru menghubungkan antara aktualisasi diri dengan isu sosial dalam masyarakat. Pertanyaan-pertanyaan yang memandu penelitian ini antara lain:
1. Bagaimana persepsi guru TK pada aktualisasi dirinya sendiri dan peserta didiknya?
2. Bagaimana persepsi guru TK pada pengaruh aktualisasi dirinya pada kinerja pembelajarannya di ruang kelas?
3. Bagaimana cara pendidik merasa mampu mendukung kebutuhan aktualisasi diri di ruang kelas?
4. Apa yang guru pikirkan mengenai bagaimana aktualisasi diri di pendidikan usia dini dan pendidikan usia remaja dapat mempengaruhi isu – isu sosial dalam masyarakat?
Bab ini akan menjelaskan metodologi yang digunakan dalam penelitian ini. Dalam bab ini akan disediakan detail mengenai posisi epistemologis dan personal, kerangka teoritis yang menopang penelitian, desain, partisipan, prosedur dan instrumentasi. Ia juga akan menjelaskan detail mengenai analisa dan kehandalan dalam penelitian ini.
B. Kerangka teoritis dan epistemologis
Epistemologi adalah cara tertentu yang digunakan untuk mengetahui dan menilai kehidupan (Dwyer dan Jones, 2000). Dalam lingkup ilmu sosial, Mouton dan Marais (1996) menekankan bahwa kompleksitas domain penelitian dalam ilmu sosial dan ketidak akurasian dan kemungkinan salah inheren dalam penelitian, maka kepastian mutlak tidak akan dapat diperoleh. Dengan demikian, sebuah hasil penelitian dinilai berdasarkan validitas, demonstrabilitas, reliabilitas atau replikabilitas dari temuan penelitian. Hal ini menuntut pembatasan penelitian. Dalam hal penelitian disertasi ini, penelitian dibatasi pada proses produksi pengetahuan bersifat historis dan kontekstual (Harding, 1993). Ia juga berpegang pada paradigma post positivis karena realitas berhubungan dengan konstruksi aktif hubungan saling kait dan kesadaran manusia bukannya entitas objektif yang dapat diukur dan diatur oleh hukum dan kriteria (Lincoln dan Guba, 2000; Elsworth, 2005).
Kongruen dengan tujuan peneliti untuk melakukan eksplorasi terhadap makna mendalam guru mengenai aktualisasi diri dan pengaruhnya pada pembelajaran, penulis menarik dari sudut pandang Black Feminist dan teori kritik (Hill-Collins, 2000). Dalam hal ini, pengalaman pribadi penulis sebagai siswa di sekolah dasar di masa lalu yang merasakan pengaruh penekanan aktualisasi diri mungkin mempengaruhi sejumlah asumsi yang ada. Pengalaman penulis sebagai seorang pendidik di masa dewasa juga menambah latar belakang personal dari disertasi ini.
Sebagai bekas siswa, penulis sering menemukan bahwa kreativitas penulis dipandang sebagai sebuah penyimpangan terhadap norma pendidikan. Ketika menjadi pendidik, penulis berusaha memberikan kebebasan berkreasi pada siswa. Sayangnya, hal tersebut tidak semudah yang diucapkan. Kadang memang diperlukan sebuah batasan. Penulis mengalami pengalaman yang sama dalam hal konflik minat dalam wadah pluralisme (Popkewitz, 1984). Karenanya, penulis menyadari bahwa melakukan penelitian dalam konteks pluralisme menjadi sensitif dan menantang bagi posisi penulis sebagai peneliti.
1. Epistemologi Black Feminist
Karena latar belakang personal penulis dan karena sifat topik penelitian penulis yaitu aktualisasi diri pada pendidikan, salah satu kerangka proses inkuiri yang digunakan adalah epistemologi Black Feminist. Epistemologi Black Feminis dibangun berdasarkan hasil penelitian Hill-Collins (1990) terhadap pola pemikiran wanita kulit hitam. Wanita kulit hitam ditemukan memiliki pola pemikiran yang komprehensif dalam kemampuan melihat sekaligus dalam sudut pandang pihak yang dominan sekaligus pihak yang ditekan (Harding, 1991). Hal ini disebabkan perlakuan rasis dan seksis yang telah dirasakan wanita kulit hitam selama ia hidup. Hill-Collins (2000) membangun kerangka epistemologis Black Feminist dengan prinsip antara lain: pengalaman selama hidup merupakan kriteria makna, pentingnya dialog dalam menggali pengetahuan, akuntabilitas personal dan etika kepedulian. Hal ini sama dengan yang akan dilakukan penulis dalam penelitian ini. Masalah aktualisasi diri di sekolah seringkali merupakan masalah pihak penekan dan ditekan. Pengalaman guru selama belajar kemudian mengajar menempatkannya dalam posisi yang memahami bagaimana menjadi pihak penekan sekaligus yang ditekan.
Dalam epistemologi Black Feminist, dialog penting untuk dilaksanakan. Hal ini untuk membangun hubungan status yang sama antara peneliti dan partisipan. Karenanya, sifat pengumpulan data bukanlah wawancara satu arah, namun sebuah interaksi dialogis yang saling menggali dan memahami.
Hill-Collins (2000) kemudian menjelaskan prinsip selanjutnya yaitu akuntabilitas. Dalam prinsip ini, diperlukan ketegasan untuk mengambil posisi dalam sebuah isu dan bertanggung jawab atas validitasnya. Peneliti mengekspresikannya dalam proses dialog dimana pengambilan posisi akan ditekankan dan dimintai bukti yang valid.
Prinsip terakhir yaitu etika kepedulian dijelaskan oleh Christians (2000). Menurutnya landasan etika kepedulian terletak pada hubungan peneliti – partisipan secara egaliter, kasih sayang, empati, ekspresi diri dan kerja sama. Hal ini diwujudkan dalam pelibatan partisipan dalam menentukan arah penelitian, tentang bagaimana data diperlakukan dan di analisa.
2. Teori Kritik
Penulis juga menarik metode penelitian dari kerangka teori kritik. Tradisi kritik berfokus pada gejala-gejala yang menunjukkan rangkaian opresi (Fraser, 1989). Hal ini dikarenakan sistem sosial memunculkan ketidaksetaraan dan ketidakadilan dimana ideologi dominan melakukan opresi dan memaksa masyarakat berpikir bahwa opresi ini sebagai sesuatu yang wajar (Brookfield, 2005). Frankfurt School misalnya percaya bahwa teori kritik mampu menguji kontradiksi dan interkoneksi yang mungkin ada dalam masyarakat secara komprehensif (Farrel dan Aune, 1982). Penulis percaya bahwa dunia pendidikan memang memiliki kontradiksi dan interkoneksi sehingga teori kritis dapat diterapkan dalam penelitian ini.
Posisi emansipatoris dari tradisi kritik adalah transformasi hubungan dengan partisipan (Kincheloe dan McLaren, 2000). Epistemologi Black Feminist dipengaruhi tradisi kritis dengan kuat (Aldoory dan Toth, 2001). Karenanya akan wajar bila Epistemologi Black Feminis juga memuat dialog sebagai posisi emansipatoris dalam metode penelitiannya. Hal ini dibenarkan oleh Hill-Collins (2000) yang menyebutkan bahwa posisi kritis digunakan oleh pendekatan Black Feminist. Karenanya penggunaan epistemologi Black Feminist layak untuk dipersandingkan dengan kerangka teoritis kritik.
3. Paradigma fenomenologis
Selain tradisi kritis, penulis juga sadar bahwa penelitian ini menggunakan kerangka lainnya, yaitu paradigma fenomenologis. Fenomenologi menggunakan data pengalaman nyata sebagai konstruk pengetahuan atas realitas. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Marleu-Ponty (1974) bahwa “semua pengetahuan tentang dunia ini, bahkan pengetahuan ilmiah saya, diperoleh atas sejumlah pengalaman terhadap dunia ini.” Walau begitu, pengalaman tiap orang berbeda dan karenanya kebenaran yang jamak dapat terjadi. Untuk memfasilitasi kebenaran jamak inilah perlu diajukan wacana dialogis (Sipe dan Constable, 1996).
Pengajukan wacana dialogis ini juga didukung oleh pandangan mengenai linguistik. Bagi Heidegger (1959) misalnya, bahasa dan kata-kata bukanlah semata bungkusan yang isinya ditentukan sesuai keinginan penggunanya, namun segalanya ada di dalam bahasa dan kata-kata. Proses dialog menggunakan kata-kata dan lewat analisa kritis, segala yang terkandung di dalamnya akan diperoleh bila digali cukup dalam (Morse, 1994).
Penerapan paradigma fenomenologis dalam penelitian ini adalah dengan berdialog bersama para guru sekolah, tentang masa kecilnya saat menjadi seorang siswa, bagaimana ia membangun aktualisasi dirinya kemudian bagaimana pengaruhnya terhadap pembelajarannya, lalu membangun dan menafsirkan makna dari dialog tersebut bersama-sama dengan para partisipan. Dengan paradigma fenomenologis, pemahaman lebih mendalam atas fenomena dapat diperoleh lewat dinamika partisipatori (Schwandt, 2000). Dalam penelitian ini, partisipan akan membantu dalam membangun inkuiri lewat berbagi pengalaman dalam wawancara dan pengamatan. Mereka juga dapat memberi masukan, meninjau penafsiran dan analisa data serta mengevaluasi laporan akhir penelitian.
C. Desain Penelitian
Karena penelitian ini bersifat kualitatif dan berbasis pada kerangka teoritis kritik dan fenomenologis serta kerangka epistemologi Black Feminist, maka metodologi situasional sesuai untuk diterapkan. Metodologi situasional adalah teori bagaimana penelitian harus dilaksanakan dalam konteks kultural (Olesen, 2000). Konteksnya yang kultural membuat metodologi ini tidak dapat ditransfer ataupun digeneralisasi. Ia tergantung pada siapa sang peneliti, apa penelitiannya dan seberapa luas ruang subjektivitas yang ada. proses inkuiri yang terjadi dalam dinamika dialog yang diterapkan penelitian ini memungkinkan adanya intersubjektivitas antara peneliti dan partisipan. Hal ini karena baik peneliti maupun partisipan akan saling mempengaruhi satu sama lain.
Metodologi situasional bertopang erat pada paradigma post positivisme. Ia menantang pandangan positivisme bahwa terdapat satu kebenaran objektif yang dapat ditemukan (Sipe dan Constable, 1996). Sesuatu yang objektif tidak bertopang pada subjek (subjektivitas) (Bernstein, 1983). Dalam konteks ilmu-ilmu alam, paradigma positivisme dapat dipegang erat. Walau begitu, dalam ilmu-ilmu sosial yang dipengaruhi elemen-elemen kultural dan historik, positivisme tidak dapat diterapkan (Olesen, 2000). Metodologi situasional lepas dari paradigma positivisme. Ia tergantung pada intersubjektivitas dan ber evolusi seiring proses penelitian.
D. Partisipan
Partisipan dalam studi ini adalah enam guru TK dari dua sekolah di kota Minggu Lama. Empat guru merupakan wanita, tiga merupakan guru dalam sekolah berbasis agama sementara satu merupakan guru dalam sekolah non agama. Dua sisanya adalah pria yang keduanya bekerja di sekolah non agama. Para guru ini dipilih secara seksama atau dengan kata lain metode penarikan sampel adalah purposive sampling. Tujuan penggunaan purposive sampling adalah memperoleh kemungkinan mendapatkan kasus “kaya informasi” (Patton, 1990). Dengan diperolehnya sampel secara bertujuan, ukuran sampel, kompleksitas dan sumber daya yang besar dapat dihindari. Dengan sampel yang kecil, isu dapat dipelajari lebih mendalam lagi. Mengingat fokus penelitian ini adalah memahami secara mendalam persepsi guru mengenai aktualisasi diri dan bagaimana aktualisasi diri mempengaruhi pembelajaran dan isu-isu sosial dalam masyarakat, maka ukuran sampel bukanlah hal yang signifikan. Penggunaan sampel kecil merupakan hal umum dalam studi kualitatif. Selain itu, tujuan penelitian ini bukanlah membuat generalisasi, namun memahami makna lebih mendalam.
Metode purposive sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah theoretical sampling. Theoretical sampling tidak menarik sampel berdasarkan kelompok tertentu, waktu, atau lainnya, namun berdasarkan konsep, sifat, dimensi dan variasi (Corbin dan Strauss, 1990). Seorang calon peneliti telah memiliki bekal teoritis mengenai fenomena yang akan dipelajarinya. Dari sifat, konsep dan variasi yang ada dalam fenomena inilah sampel ditarik dari populasi.
Untuk mendapatkan sampel, peneliti melakukan dialog dengan akademisi, masyarakat dan guru sekitar daerah tempat tinggal peneliti. Dialog ini bertujuan mendapatkan rekomendasi mengenai partisipan. Peneliti kemudian menghubungi partisipan yang direkomendasikan tersebut di sekolah mereka mengajar. Sesuai perjanjian, peneliti tidak dapat menyebutkan nama asli, identitas subjek atau informasi lain yang dipandang privasi bagi partisipan.
E. Prosedur Penelitian
Peneliti menghubungi para guru yang menjadi partisipan di sekolah masing-masing untuk mengundang mereka ikut serta dalam penelitian. Undangan ini bersifat tertulis dimana didalam dokumen undangan disertakan pembahasan ringkas mengenai tujuan dan maksud penelitian, detail metode penelitian, serta manfaat dan resiko bagi partisipan. Bila partisipan setuju, mereka dipinta menandatangani surat perjanjian kerjasama. Lihat Lampiran 1 : Undangan Partisipasi dan Lampiran 2: Surat Perjanjian Kerjasama.
Untuk menjawab dua pertanyaan pertama penelitian yaitu bagaimana persepsi guru TK dan SMA pada aktualisasi dirinya sendiri dan peserta didiknya? dan Bagaimana persepsi guru TK dan SMA pada pengaruh aktualisasi dirinya pada kinerja pembelajarannya di ruang kelas? Peneliti mewawancarai partisipan secara individual.
Untuk menjawab dua pertanyaan terakhir penelitian yaitu Bagaimana cara pendidik merasa mampu mendukung kebutuhan aktualisasi diri di ruang kelas? Dan Apa yang guru pikirkan mengenai bagaimana aktualisasi diri di pendidikan usia dini dan pendidikan usia remaja dapat mempengaruhi isu – isu sosial dalam masyarakat? Peneliti menggunakan observasi ruang kelas, catatan lapangan dan narasi serta wawancara individual. Wawancara semi terstruktur ini direkam secara audio.
F. Instrumentasi
Penelitian kualitatif umumnya menggunakan aneka ragam instrumen dan metode untuk memperoleh data kaya informasi serta menjamin otentisitas (Schwant, 2001). Dalam penelitian ini, instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah wawancara individual, pengamatan, catatan lapangan dan narasi.
Demikianlah sekelumit sampel bab 3 Metode Penelitian disertasi yang dalam hal ini dibidang ilmu pendidikan. Bab 3 ini baru sebagian, tapi kami rasa sudah cukup untuk menunjukkan bagaimana profesionalisme kami. Dengan sampel ini anda dapat melihat bahwa model disertasi yang kami tulis tampak profesional dan sesuai dengan syarat-syarat disertasi yang seharusnya. Bila anda telah yakin dengan kredibilitas kami, anda dapat langsung memesan model disertasi anda ke stdisertasi@gmail.com sekarang.
No comments:
Post a Comment