Apa gunanya seorang doktor? Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya menyentuh persoalan yang jauh lebih dalam. Gelar doktor bukan sekadar tanda bahwa seseorang telah menyelesaikan pendidikan tertinggi. Seorang doktor seharusnya mengubah sesuatu dalam pengetahuan manusia. Ia harus menemukan sesuatu yang sebelumnya tidak terlihat, mempertanyakan sesuatu yang selama ini dianggap benar, atau menawarkan cara baru untuk memahami kenyataan. Dengan kata lain, ia seharusnya memberikan kontribusi terhadap ontologi kita: mengubah bukan hanya apa yang kita ketahui, tetapi juga apa yang kita anggap sebagai kenyataan dan siapa yang kita anggap penting di dalam kenyataan itu. Publikasi ilmiah hanyalah salah satu bentuk materialisasi kontribusi tersebut. Setelah itu, argumennya harus menghadapi kritik, diuji reliabilitasnya, dan dipertanggungjawabkan di hadapan penguji serta komunitas ilmiah. Tetapi bagaimana jika sebuah disertasi melakukan sesuatu yang jauh lebih besar? Bagaimana jika sebuah karya doktoral tidak hanya memenuhi persyaratan akademik, melainkan membuat generasi berikutnya melihat Indonesia dengan cara yang berbeda?
Pertanyaan itulah yang menjadi titik berangkat artikel ini. Penulis mencoba mencari disertasi-disertasi yang tidak berhenti sebagai dokumen akademik, tetapi menjadi semacam mesin perubahan intelektual dalam memahami Indonesia. Metodenya mengikuti pendekatan yang digunakan dalam artikel 25 Disertasi yang Mengubah Cara Memahami Dunia. Penulis terlebih dahulu mengumpulkan daftar 100 tokoh yang memiliki pengaruh besar terhadap pemikiran tentang Indonesia, kemudian menelusuri karya doktoral mereka. Tidak seperti di tingkat global, hampir tidak tersedia diskusi di internet yang secara khusus membahas disertasi mana yang paling mengubah cara memahami Indonesia. Karena itu, penelusuran dilakukan melalui Google Scholar dan berbagai sumber akademik untuk menemukan karya doktoral yang memiliki pengaruh intelektual paling kuat. Ini bukan sebuah pemeringkatan berdasarkan jumlah sitasi. Ini adalah usaha untuk menemukan genealogy of knowledge: jejak bagaimana satu cara melihat Indonesia melahirkan cara melihat yang lain.
Hasilnya adalah 25 nama yang ternyata membentuk sebuah perjalanan intelektual yang jauh lebih menarik daripada sekadar daftar karya akademik. Urutannya secara tematik adalah:
- Christiaan Snouck Hurgronje — Het Mekkaansche Feest
- Clifford Geertz — Religion in Modjokuto: A Study of Ritual Belief in a Complex Society
- Selo Soemardjan — Social Changes in Jogjakarta
- James T. Siegel — The Rope of God
- Cornelis van Vollenhoven — De Omtrek van het Internationale Recht
- M. C. Ricklefs — Jogjakarta under Sultan Mangkubumi, 1749–1792
- Lance Castles — The Political Life of a Sumatran Residency: Tapanuli, 1915–1940
- Heather Sutherland — Pangreh Pradja: Java's Indigenous Administrative Corps and Its Role in the Last Decades of Dutch Colonial Rule
- Soepomo — De Reorganisatie van het Agrarisch Stelsel in het Gewest Soerakarta
- Sartono Kartodirdjo — The Peasants' Revolt of Banten in 1888
- Ruth McVey — The Rise of Indonesian Communism
- George McTurnan Kahin — Nationalism and Revolution in Indonesia
- Anthony Reid — The Contest for North Sumatra: Atjeh, the Netherlands and Britain, 1858–1898
- Benedict Anderson — The Indonesian Revolution, 1945–1949
- Herbert Feith — The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia
- Daniel S. Lev — The Transition to Guided Democracy: Indonesian Politics, 1957–1959
- Harold Crouch — The Army and Politics in Indonesia
- Adnan Buyung Nasution — The Aspiration for Constitutional Government in Indonesia
- Ahmad Syafii Maarif — Islam as the Basis of State
- Nurcholish Madjid — Ibn Taymiyya on Kalam and Falsafah
- Soemitro Djojohadikusumo — Het Volkscredietwezen in de Depressie
- Widjojo Nitisastro — Migration, Population Growth and Economic Development in Indonesia
- Mochtar Kusumaatmadja — Fungsi dan Perkembangan Hukum dalam Pembangunan Nasional
- Azyumardi Azra — The Transmission of Islamic Reformism to Indonesia
- Quraish Shihab — Nazm al-Durar li al-Biqa'i: Tahqiq wa Dirasah
Ketika dipetakan, ke-25 tokoh ini tidak membentuk garis lurus, melainkan lima blok yang saling menyambung: masyarakat → struktur sosial → nasionalisme → negara → pembangunan. Tetapi pembangunan bukanlah akhir. Ketika pengetahuan baru diproduksi, masyarakat kembali membaca dirinya sendiri melalui pengetahuan tersebut. Dari sinilah muncul pertanyaan, konflik, dan kebutuhan baru yang kemudian kembali mengubah masyarakat. Karena itu, diagram 25 tokoh ini lebih tepat dibayangkan sebagai loop daripada garis: masyarakat menghasilkan pengetahuan, pengetahuan mengubah masyarakat, masyarakat yang berubah melahirkan pertanyaan baru, dan pertanyaan baru kembali menghasilkan pengetahuan.
Ada paradoks lain yang muncul ketika 25 tokoh ini dilihat sebagai sebuah populasi. Enam puluh persen di antaranya bukan orang Indonesia. Lima berasal dari Amerika Serikat, lima dari Australia, dua dari Belanda, sementara yang lain memiliki latar Selandia Baru dan Anglo-Irish. Hanya 40 persen yang merupakan sarjana Indonesia. Mengapa orang luar justru begitu dominan dalam daftar tentang Indonesia? Jawabannya mungkin tidak sesederhana "orang asing lebih banyak meneliti Indonesia". Ia berkaitan dengan sejarah produksi pengetahuan itu sendiri: universitas, dana penelitian, jaringan akademik, dan tradisi area studies Barat telah lama menyediakan infrastruktur untuk menjadikan Indonesia sebagai objek penelitian sistematis. Lebih mencolok lagi adalah gender: dari 25 tokoh hanya satu perempuan, Heather Sutherland. Ini sangat berbeda dengan artikel 25 Disertasi yang Mengubah Cara Memahami Dunia yang sepertiga tokohnya adalah perempuan. Dengan demikian, daftar ini bukan hanya memperlihatkan siapa yang berhasil mengubah cara memahami Indonesia, tetapi juga memperlihatkan siapa yang memperoleh kesempatan untuk menjadi produsen pengetahuan tentang Indonesia. Dari sisi disiplin, hampir seluruhnya berasal dari ilmu sosial dan humaniora seperti sejarah, ilmu politik, hukum, antropologi (Geertz dan Siegel), sosiologi (Soemardjan), ekonomi, demografi, dan studi Islam. Tidak ada satu pun ilmuwan ilmu alam. Ini pun berbeda dengan artikel di tingkat dunia yang justru didominasi doktor ilmu alam. Mungkin ini bukan kebetulan. Sebab pertanyaan yang sedang kita kejar bukan terutama bagaimana Indonesia bekerja sebagai benda fisik, melainkan bagaimana Indonesia menjadi masyarakat, bangsa, negara, dan gagasan tentang dirinya sendiri. Pada akhirnya, daftar ini membawa kita kepada sebuah pertanyaan yang lebih besar: apakah kita sedang membaca sejarah Indonesia, atau sebenarnya sedang membaca sejarah tentang bagaimana manusia belajar melihat Indonesia?
Dalam seri ini, saya mengambil strategi berbeda dengan 25 disertasi yang mengubah dunia. Alih-alih menjadikannya satu artikel panjang, tema 25 disertasi Indonesia ini akan dibagi menjadi tujuh artikel. Ini adalah artikel pertama. Lima artikel selanjutnya masing-masing membahas satu blok. Artikel terakhir tentu adalah kesimpulan. Hal ini diambil karena setiap disertasi disini memiliki deskripsi yang lebih panjang dari disertasi level dunia. Jadi kalau disatukan, ia akan menjadi artikel yang jauh lebih panjang lagi dari 25 disertasi yang mengubah dunia, padahal artikel itu sudah sangat panjang. Struktur setiap artikel isi juga terdiri dari tujuh bagian. Bagian pertama pendahuluan yang menjabarkan karakteristik umum blok. Bagian kedua hingga keenam penjelasan masing-masing disertasi, siapa tokohnya, apa makna pentingnya, apa relasinya dengan disertasi lain, serta tentunya deskripsi dari isi disertasi tersebut. Terakhir akan dibuat kesimpulan sebagai paragraf penutup.
Tulisan ini adalah bagian dari series 25 Disertasi yang Mengubah Cara Memahami Indonesia. Berikut ini link ke setiap bagian:
Pendahuluan: Memahami Indonesia
Blok I - Masyarakat: Siapa masyarakat Indonesia?
Blok II - Struktur Sosial: Bagaimana kekuasaan di masyarakat Indonesia bekerja?
Blok III - Nasionalisme: Bagaimana masyarakat Indonesia menjadi bangsa?
Blok IV - Negara: Negara seperti apa yang terbentuk oleh bangsa Indonesia?
Blok V - Pembangunan: Apa yang dilakukan bangsa Indonesia untuk berkembang?
Kesimpulan: Jadi apa itu Indonesia?


No comments:
Post a Comment